Pekan Pertama Mei 2015

11 mei 2015

Kategori : IR Weekly Review


  • MAKRO
    • Kurs dollar AS melemah terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya pada Senin (Selasa pagi WIB, 5/5/2015), setelah seorang pejabat Federal Reserve menurunkan ekspektasi untuk kenaikan suku bunga The Fed pertama tahun ini. Presiden Federal Reserve Chicago Charles Evans mengatakan pada Senin bahwa data ekonomi kuartal pertama yang lemah membuatnya merasa tidak mungkin bagi bank sentral untuk mulai menaikkan suku bunganya sampai "suatu waktu di awal 2016." Sebuah kenaikan suku bunga diharapkan dapat meningkatkan dollar yang didorong oleh arus masuk investasi ke Amerika Serikat.
    • Harga minyak dunia naik lagi pada Kamis (Jumat pagi WIB, 8/5/2015) setelah data menunjukkan persediaan minyak mentah AS yang berlimpah mulai berkurang ketika dollar melemah terhadap euro. Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni naik US$ 1,05 menjadi ditutup pada US$ 59,63 per barel di New York Mercantile Exchange.
    • Gubernur bank sentral dan menteri keuangan Jepang, Tiongkok dan Korea Selatan (Korsel) mengadakan pertemuan bilateral ditengah pertemuan tahunan pemimpin ADB (Asian Development Bank) di Baku, Azerbaijan 2-3 Mei 2015. Dalam pertemuan tersebut mereka menyatakan kesepahaman dan komitmen mereka untuk mengaplikasikan kebijakan moneter yang berorientasi mendukung permintaan dalam menghadapi lemahnya pertumbuhan global yang cenderung bergerak moderat dan tidak merata.
    • Biro Statistik Nasional Tiongkok melaporkan bahwa aktivitas manufaktur Tiongkok periode April masih terus menunjukkan fase ekspansinya. Berdasarkan data PMI manufaktur yang dikeluarkan oleh pemerintah, PMI Manufaktur Tiongkok di bulan April berakhir pada skor 50,1 atau tidak mengalami perubahan dari bulan sebelumnya. Rilis ini cukup mengejutkan pasalnya para ekonom memprediksi skor PMI ini hanya dapat menyentuh ambang batas fase kontraksi dan ekspansi yaitu 50,0.
    • Ulasan :
      Data ekonomi AS yang lemah pada kuartal pertama, membuat bank sentral (The Fed), tidak akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
  • MICRO
    • Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi akan mulai kembali meningkat pada triwulan II 2015. Itu setelah pada triwulan I hanya tumbuh 4,71 persen. "Pengeluaran pemerintah diperkirakan meningkat mulai triwulan II 2015 dan seterusnya sehingga menjadi stimulus bagi pertumbuhan ekonomi," jelas Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara di Jakarta, Selasa (05/05/2015).
    • Rupiah dibuka pada posisi 12.985,00 per dollar AS Senin (04/05/2015). Mata uang lokal tersebut mengalami kenaikan yang signifikan dibandingkan posisi penutupan perdagangan Senin sore yang ada di level 12.948,00 per dollar. Rupiah bukukan kenaikan sebesar 37,00 poin atau setara dengan 0,28 persen. Saat ini rupiah terpantau makin anjlok dari posisi pembukaan dan sudah menembus level resistance yaitu di posisi 13.021,00 per dollar AS. Rupiah amat terpukul akibat dollar yang sedang rebound dan kondisi bursa saham dalam negeri yang masih dibayangi oleh kemungkinan penurunan lanjutan.
    • Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said membentuk Komite Eksplorasi Nasional yang nantinya akan mengurusi masalah eksplorasi minyak dan gas di Indonesia. "Komite ini akan mendorong eksplorasi besar-besaran karena kita sadar cadangan kita terus menipis," kata Sudirman saat jumpa pers di kantor SKK Migas, Jakarta, Selasa (5/5/2015) malam.
    • Menteri Koordinator bidang Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan, Indonesia harus lebih agresif dalam menciptakan perdagangan ekspor ke negara-negara non tradisional selain ke China dan Eropa, seperti Turki, Timur Tengah, Iran dan India.  Hal tersebut karena mitra dagang ekspor Indonesia seperti China dan Eropa sedang melambat. "Ekspor kita harus lebih agresif ke negara non tradisional tersebut, karena di negara seperti Turki, India, Timur Tengah dan Iran, market share kita masih kecil. Kemudian, melemahnya permintaan ini secara over all karena penurunan permintaan. Menurut IMF seluruh negara berkembang melambat," ujarnya di Jakarta, Selasa (5/5/2015).
    • Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengaku optimistis belanja pemerintah akan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi 2015, meskipun belum memberikan pengaruh yang signifikan hingga triwulan I. “Pokoknya akan lebih baik. Investasi pemerintah lewat belanja itu didorong," katanya, di Jakarta, Rabu (6/5). Bambang menjelaskan belanja pemerintah akan memberikan sumbangan cukup besar pada perekonomian, terutama setelah proses pengadaan barang dan jasa untuk belanja modal pada proyek infrastruktur, selesai pada Mei 2015.
    • Ulasan :
      Untuk mendongkrak pertumbuhan perekonomian Indonesia Tahun 2015, kontribusi terbesarnya diprediksi dari belanja pemerintah. 
  • BANKING
    • Deputi Komisioner Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Irwan Lubis menyampaikan pertumbuhan laba perbankan pada kuartal pertama tahun ini terlihat melambat. "Memang kalau dibandingkan kuartal I/2014 ada pelambatan pertumbuhan laba hampir di semua buku," ujar Irwan di Jakarta, Senin (4/5). Menurut dia, hal tersebut merupakan hasil dari aktivitas bisnis perbankan yang utamanya adalah pemberian kredit. Bila dibandingkan dengan kuartal I/2014 pertumbuhan kredit kuartal I/2015 masih rendah dan dari akhir tahun lalu hingga sekarang kredit baru tumbuh 1 persen.
    • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berharap perbankan bisa menjaga marjin bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM) hingga akhir tahun 2015 tetap berada di level 4%-5%. Adapun hingga Februari 2015 margin bunga bersih perbankan tercatat sebesar 4,06% atau turun 12 basis poin secara tahunan.
    • Pemerintah DKI Jakarta berkeinginan untuk menjadi salah satu pemegang saham di Bank Nusa Tenggara Timur (Bank NTT). Direktur Utama Bank NTT Daniel Tagu Dedo mengakui niat Pemerintah DKI, melalui Bank DKI menjadi salah satu pemegang saham di bank milik pemerintah dan rakyat NTT itu. Dia mengatakan, untuk merealisasikan keinginan tersebut, dua perwakilan pemerintah akan bertemu dan membahas rencana tersebut pada Agustus 2015 mendatang. "Kita berharap rencana pembelian saham oleh Pemerintah DKI Jakarta itu bisa terealisasi dalam tahun 2015 ini," katanya, seperti dikutip laman Antara, Kamis (7/5).
    • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengaku masih belum ingin merevisi target pertumbuhan kredit yang dipatok sebesar 15-17% hingga akhir tahun ini. Kepala Eksekutif Bidang Pengawasan Perbankan OJK, Nelson Tampubolon mengaku masih optimis dengan target tersebut. “Perbankan masih optimistis target 15-17% bisa tercapai. Kami sudah tanya ke bank-bank besar, mereka bilang masih optimistis dan belum ada niat merevisi rencana bisnis bank (RBB),” ujar Nelson, Rabu (6/5).
    • Ulasan :
      Melambatnya pertumbuhan ekonomi nasional juga mempengaruhi sektor perbankan yang terlihat dari rendahnya pertumbuhan penyaluran kredit dan perlunya pertumbuhan unorganik antara lain penyertaan modal dan akuisisi dalam rangka peningkatan bisnis.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.