Pekan Pertama Maret 2017

03 maret 2017

Kategori : IR Weekly Review


  • MAKRO
    • Pemerintah China telah memotong target pertumbuhan ekonomi tahun ini menjadi sekitar 6,5% untuk tahun 2017. Sebelumnya pada tahun ini, China telah mematok pertumbuhan ekonomi 2017 berada di kisaran 6,5% hingga 7%. Hal ini disampaikan oleh Perdana Menteri Li Keqiang saat berbicara di Kongres Rakyat Nasional (NPC) yang menjadi sesi tahunan (Minggu 5/3/2017). Sementara disebutkan pada tahun 2016 silam, pertumbuhan ekonomi China mengalami laju paling lambat dalam 26 tahun terakhir. Li menyampaikan pihaknya akan menindak perusahaan-perusahaan "zombie" BUMN agar tidak memproduksi batu bara dan baja lebih banyak dari kebutuhan pasar. Namun, kenyataannya pada masa lalu upaya ini sulit untuk dilakukan. Tercatat lebih dari 3.000 legislator bertemu di parlemen rakyat, dimana NPC dan badan penasehat menggelar pertemuan tahunan atau yang dikenal sebagai "lianghui" atau "two sessions".

    • Gubernur The Fed atau Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Janet Yellen mengatakan, suku bunga acuan AS alias Fed rate akan tepat bila dinaikkan bulan ini. Meski begitu dia menerangkan masih akan mengevaluasi pertumbuhan sektor ketenagakerjaan dan inflasi dengan harap Fed rate tetap naik di bulan Maret 2017. Yellen juga memberikan sinyak bank sentral akan meningkatkan suku bunga lebih cepat dibandingkan dua tahun sebelumnya. Suku bunga AS sendiri naik 0,25 pada Desember, tahun lalu untuk menjadi lompatan kedua dalam satu dekade. Suku bunga acuan AS saat ini berada pada level 0,5% - 0,75%, Minggu (5/3/2017). Federal Open Market Committee (FOMC), yang berwenang menetapkan harus memastikan bahwa The Fed mencapai tujuannya dan adanya stabilitas harga. 

    • Ulasan :

      Dampak pelemahan ekonomi China berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia. Bagian tersebut adalah perdagangan, keuangan, dan harga komoditas. kondisi perdagangan Indonesia amat bergantung kepada China. Indonesia memandang China sebagai tujuan utama ekspor barang-barang dan komoditas.

  • MIKRO
    • Bank Indonesia (BI) optimis pemerintah mampu mengendalikan laju inflasi di sepanjang tahun ini sesuai dengan asumsi inflasi pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 sebesar empat persen atau sesuai dengan target BI di kisaran 3-5 persen. Optimisme ini bukan isapan jempol, mengingat sejumlah data dan rencana yang sudah dirancang oleh pemerintah bersama dengan bank sentral untuk mengontrol laju inflasi dari sisi komponen gejolak harga pangan (volatile foods). "Kami punya data yang baik, kami bisa eksekusi rencana-rencana bagaimana peningkatan produksi dan melancarkan distribusi, seharusnya bisa," ujar Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara, Jumat (3/3).

    • Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menetapkan tingkat bunga penjaminan (LPS rate) pada level 6,25 persen untuk simpanan rupiah di bank umum, 0,75 persen untuk simpanan valuta asing, serta 8,75 persen untuk simpanan di Bank Perkreditan Rakyat (BPR). LPS rate tersebut tidak mengalami perubahan sejak 12 Januari 2017 hingga 15 Mei 2017. Hal ini dikarenakan, tingkat bunga penjaminan saat ini dipandang masih sejalan dengan arah perkembangan terkini suku bunga simpanan perbankan. "Selain itu, kondisi fundamental ekonomi makro dalam negeri secara umum dipandang resilient, yang didukung oleh stabilitas sistem keuangan yang terjaga," ujar Sekretaris Lembaga LPS Samsu Adi Nugroho, melalui keterangan resmi, Kamis (2/3).

    • Ulasan :

      Penurunan suku bunga penjaminan (LPS Rate) disebut belum tentu berpengaruh pada penurunan bunga deposito bank, terutama bank bermodal inti kecil. dalam penetapan bunga untuk simpanan memang berlaku hukum, semakin kecil simpanan, persentase bunga yang diterima juga semakin kecil.

  • PERBANKAN
    • PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menargetkan tahun 2017 ini kontribusi bisnis konsumer ritel sebesar 18% dari total laba perseroan. Diharapkan pertumbuhan bisnis segmen ini bisa mencapai 14-18% tahun ini. Direktur Konsumer BNI Anggoro Eko Cahyo mengatakan porsi kontribusi sektor konsumer ritel terhadap total bisnis perseroan tidak berubah dari tahun lalu. Hal ini dikarenakan karena segmen bisnis lainnya juga mengalami pertumbuhan sehingga komposisinya relatif hampir sama di bandingkan tahun lalu.  Lebih lanjut dia menerangkan pihaknya terus menggenjot pertumbuhan bisnis melalui acara ikonik seperti Java Jazz dan Garuda Travel Fair di Maret 2017. Dua agenda besar ini diyakini dapat membangun brand BNI di kelas menengah ke atas yang membutuhkan layanan transaksi digital. 

    • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) tengah fokus menggarap kantor cabang digital banking. Semua pelayanan dari informasi, setor tunai, sampai buka tabungan, semuanya bisa dilakukan melalui mesin dan aplikasi. Direktur Utama BRI, Asmawi Syam, mengungkapkan bank pelat merah itu sudah membuka 12 kantor cabang digital banking. Semua cabang tersebut tak lagi menyediakan petugas customer service dan teller alias dilayani oleh mesin. "Kalau di bank konvensional, kita datang ke bank mau tanya-tanya ke customer service, dengan digital banking tak perlu lagi. Bahkan satu mesin bisa melayani 3 orang sekaligus. Bahkan untuk membuka tabungan hanya perlu 3 menit," kata Asmawi, Kamis (9/3/2017).

    • Ulasan :

      Suatu negara dikatakan berkembang Ekonomi Digital-nya ditandai dengan semakin maraknya berkembang bisnis atau transaksi perdagangan yang memanfaatkan internet sebagai medium komunikasi, kolaborasi, dan kooperasi antar perusahaan atau pun antar individu. Tengoklah bagaimana maraknya perusahaan-perusahaan baru maupun lama yang terjun ke dalam format bisnis elektronik e-business dan e-commerce.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.