Pekan Pertama Juni 2015

08 juni 2015

Kategori : IR Weekly Review


  • MAKRO
    • Kurs dollar AS terhadap beberapa mata uang utama lainnya menguat Kamis (Jumat pagi WIB, 05/06/2015) setelah laporan pengangguran dari negara itu menunjukkan data-data positif. Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat (AS) pada Kamis menyatakan dalam pekan yang berakhir 30 Mei angka pendahuluan yang disesuaikan secara musiman untuk klaim pengangguran awal mencapai 276.000, turun 8.000 dari tingkat yang direvisi pekan sebelumnya.
    • Harga minyak dunia turun pada Kamis (Jumat pagi WIB, 05/06/2015), di tengah tidak adanya tanda-tanda bahwa Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) akan memangkas kuota produksi mereka pada pertemuan Jumat. Minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Juli bergerak turun 1,64 dollar AS menjadi ditutup pada 58 dollar AS per barel di New York Mercantile Exchange, sementara minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli turun 1,77 dollar AS menjadi menetap di 62,03 dollar AS per barel.
    • Dana Moneter Internasional (IMF) akhirnya menyarankan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed untuk menunda menaikkan suku bunga acuannya setidaknya sampai pertengahan tahun depan. IMF melihat hal ini perlu dilakukan AS karena melihat prospek pertumbuhan ekonomi AS di tahun ini yang akan melambat menjadi 2,5 persen dari 3,1 persen. Berbagai faktor kuat cukup membebani laju pertumbuhan ekonomi AS ke depannya seperti tergelincirnya laju pertumbuhan pada kuartal pertama kemarin, kontraksi tajam dalam investasi di sektor minyak, mogok buruh di Pantai Barat, lambatnya pertumbuhan upah dan efek dari dollar yang terus menguat terhadap mata uang negara maju lainnya.
    • Aktivitas manufaktur China meningkat pada Mei 2015. Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur berada di 50,2.  Angka itu sejalan dengan perkiraan dalam survei Reuters. Angka di atas 50 menunjukkan ekspansi, sementara angka di bawah 50 menunjukkan kontraksi.
    • Ulasan :
      Penguatan dollar AS terhadap mata uang lainnya masih fluktuatif, dikarenakan banyak faktor ekonomi yang dapat mempengaruhi seperti kontraksi tajam dalam investasi di sektor minyak, mogok buruh di Pantai Barat, lambatnya pertumbuhan upah tenaga kerja dan data rilis perumahan.
  • MIKRO
    • Bank Indonesia (BI) mengeluarkan Surat Edaran (SE) perihal kewajiban penggunaan Rupiah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini Sehubungan dengan sudah berlakunya Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 17/3/PBI/2015 tentang Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah NKRI. Kepala Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran BI, Eni V Panggabean mengatakan, kewajiban penggunaan Rupiah di wilayah NKRI menganut asas teritorial. Oleh sebab itu Setiap transaksi yang dilakukan di NKRI, baik dilakukan oleh penduduk maupun bukan penduduk, transaksi tunai maupun nontunai wajib menggunakan Rupiah. “Transaksi dan pembayaran merupakan satu kesatuan. Terhadap transaksi yang dilakukan di wilayah NKRI maka penerimaan pembayarannya wajib dalam Rupiah,” ujar Eni di Jakarta, Kamis, 4 Juni 2015. 
    • Bank Indonesia (BI) menilai tingkat keyakinan konsumen pada Mei 2015 kembali meningkat. Hal itu terungkap pada Survei Konsumen Bank Indonesia yang dipublikasikan melalui laman resminya. "Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Mei 2015 meningkat sebesar 5,4 poin menjadi 112,8. Penguatan IKK tersebut didorong oleh peningkatan pada kedua komponen pembentuknya, yaitu Indeks Kondisi Ekonomi saat ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang masing-masing naik sebesar 3,7 dan 7,0 poin dari bulan sebelumnya," tulis BI dalam situs resminya, Rabu (3/6/2015).
    • Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (USD) mencapai level terendah dalam 17 tahun terakhir atau sejak 1998 pada hari kedua secara berturut-turut.  Berdasarkan data Reuters, rupiah berada di level Rp13.295/USD, level terendah sejak Agustus 1998. Pada pukul 0158 GMT atau 08.58 WIB, rupiah berada di Rp13.285/USD, turun 0,05% dari hari sebelumnya di level Rp13.279/USD. Nilai tukar rupiah dibandingkan akhir tahun lalu anjlok 6,81% dari Rp13.380/USD.
    • Ulasan :
      Adanya Surat Edaran (SE) Bank Indonesia (BI) perihal kewajiban penggunaan mata uang Rupiah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dalam negeri serta meningkatkan kepercayaan pasar terhadap mata uang Rupiah. 
  • PERBANKAN
    • Bank Dunia segera mencairkan pinjaman senilai US$ 2,5 miliar kepada Pemerintah Indonesia untuk mendanai program infrastruktur dan pengembangan sumber daya manusia. Rodrigo Chaves, Direktur Bank Dunia untuk Indonesia, menjelaskan “Pinjaman tersebut nantinya akan digunakan untuk memfasilitasi pembiayaan pembangunan di sektor energi, maritim, konektivitas, dan kesehatan. Utang tersebut, merupakan bagian dari kesepakatan pinjaman antara Presiden Bank Dunia Kim Jim Yong dengan Presiden Joko Widodo pada pertengahan bulan lalu, yang nilainya mencapai US$ 12 miliar untuk tiga hingga empat tahun mendatang”. tutur Chaves di Jakarta, Rabu (3/6).
    • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan China Construction Bank Corporation (CCB) telah menyerahkan proposal untuk membeli dua bank dengan kategori Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) 1, yang memiliki modal inti antara Rp 100 miliar sampai dengan Rp 1 triliun di Indonesia. Deputi Komisioner Bidang Pengawasan Perbankan I OJK, Mulya E. Siregar menyatakan, CCB yang merupakan bank terbesar kedua di China ini, berencana untuk mengakuisisi Bank Windu serta satu bank kecil lain yang masih dalam proses pencarian. CCB tertarik melakukan ekspansi ke Indonesia, lantaran terkait rencana pemerintahan Indonesia yang baru untuk menggenjot pembangunan infrastruktur.
    • Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa pertumbuhan simpanan masyarakat di perbankan alias dana pihak ketiga (DPK) di bulan April 2015 melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Pertumbuhan DPK bank umum tercatat sebesar 14,5% year on year (yoy). Menurut Tirta Segara, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, pertumbuhan DPK bank umum dibulan April 2015 melambat dibandingkan Maret 2015. "Bulan Maret pertumbuhan DPK bank umum tercatat 16,3% secara yoy, sedangkan kredit yang disalurkan oleh Bank Umum mencapai Rp 3.747,3 triliun. Jumlah ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 10,3% secara year on year (yoy). Pertumbuhan ini melambat dibandingkan pertumbuhan Maret 2015 yang tumbuh 11,1% secara yoy," kata Tirta dalam publikasi resmi oleh BI mengenai data Uang Beredar per April 2015 pada Kamis (4/6/2015).
    • Corporate Secretary Bank Rakyat Indonesia (BRI) Budi Satria mengatakan, akan menambah perwakilan remitansi (remittance representative) di empat negara. "Kami berencana akan penambahan penempatan remittance representative di negara Taiwan, Malaysia Timur, Arab Saudi dan Korea," ujar dia dalam rilisnya, Selasa (2/6/2015). Adapun, total nilai remitansi TKI yang dikirim melalui jaringan kerja BRI sebanyak 3,5 juta transaksi dengan nilai Rp 13,65 triliun, yang disalurkan TKI kepada keluarganya di seluruh penjuru Tanah Air per akhir 2014.
    • Ulasan :
      Melambatnya pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan penyaluran kredit perbankan sebagai imbas dari perlambatan pertumbuhan ekonomi di Indonesia harus disertai dengan inovasi dan diversifikasi produk guna mempertahankan eksistensi bisnis.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.