Pekan Pertama Januari 2017

06 januari 2017

Kategori : IR Weekly Review


    • MAKRO
      • Kepala ECB Mario Draghi mengatakan target yang sama diharapkan tercapai pada 2018 atau 2019.  Rabu (4/1) inflasi Desember 2016 menjadi yang tertinggi sejak September 2013 yang berada pada level yang sama yakni 1,1%. Peningkatan cukup tinggi ini mendekati target Bank Sentral Eropa yakni di bawah 2%. Bulan lalu peningkatan ini terutama didorong oleh lonjakan harga sektor energi yang naik 2,5% year on year (YoY) pada Desember, peningkatan ini lebih tinggi dari setahun. Membaiknya harga sektor energi didorong oleh upaya pembekuan produksi minyak oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Dunia (OPEC) dalam upaya mengendalikan pasokan internasional.  Sementara harga makanan alkohol dan tembakau naik lebih tinggi sebesar 1,2% secara YoY, di sisi lain sektor pelayanan juga lebih mahal 1,2% dibandingkan tahun lalu. Peningkatan ini membantu menghilangkan kekhawatiran bahwa zona Euro akan mengalami deflasi ketika pertumbuhan ekonomi terlihat masih melemah. 

      • Bank Sentral China mencermati laju pelemahan yuan yang tercepat dalam satu dekade terakhir terhadap dolar AS. Tren ini memberikan dukungan terhadap yuan di saat kekhawatiran arus modal asing keluar dari negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut. The People Bank of China (PBOC) menetapkan tingkat referensi yuan di 6.8668 terhadap dolar AS dari 6.9307 pada perdagangan kemarin. Perubahan 0,9 persen selama penetapan kemarin adalah terbesar sejak 2005. Pada perdagangan Jumat menandai penetapan tertinggi untuk yuan terhadap mata uang acuan sejak 6 Desember 2016. Bank sentral China memungkinkan munculnya spot rate yuan atau maksimal 2 persen terhadap dolar. Ini relatif lebih rendah terhadap penetapan resmi.

      • Ulasan : 

        Deflasi adalah kebalikan dari inflasi. Bila inflasi terjadi akibat banyaknya jumlah uang yang beredar di masyarakat, maka deflasi terjadi karena kurangnya jumlah uang yang beredar.  Beberapa hal penyebab terjadinya deflasi adalah menurunnya persediaan uang di masyarakat, meningkatnya persediaan barang, menurunnya permintaan akan barang.

    • MIKRO
      • Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman D Haddad, menyebut, pasar modal Indonesia saat ini sudah cukup menunjukkan performa yang baik. Hal ini dibuktikan dengan pencatatan IHSG yang naik sebesar 15,32% dibandingkan akhir tahun sebelumnya pada penutupan perdagangan tahun 2016 beberapa waktu lalu. Muliaman menyebut, pencapaian ini membuat IHSG menjadi yang terbaik nomor dua di Asia Pasifik, terbaik nomor lima di dunia dan terbaik nomor satu di negara berkembang. "Itu merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah Pasar Modal Indonesia serta tertinggi kedua di kawasan Asia Pasifik,"kata Muliaman di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (3/1/2017). Menurut Muliaman, hal ini tidak lepas dari kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Dia berharap agar pemerintah dan pihak terkait menjaga kondisi makro ekonomi dalam negeri.

      • Badan Pusat Statistik (BPS), merilis inflasi Desember 2016 berada diangka 0,42 persen. Angka ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan inflasi yang terjadi pada bulan Desember 2015 yakni sebesar 0,96 persen. "Inflasi Desember 2015 lumayan tinggi 0,96 persen dibulan Desember 2016 hanya 0,42 persen. Tidak sampai separuhnya. Ini capaian yang sangat bagus sekali," kata Suhariyanto, Kepala BPS di Gedung BPS Jakarta, Selasa (3/1/2017). Dengan begitu, maka inflasi secara year to year (yty), Desember 2016 adalah sebesar 3,02 persen dengan inflasi tertinggi di Lhokseumawe sebesar 2,25 persen dan inflasi terendah di Padang Sidempuan. Sementara deflasi terjadi paling dalam di Manado yakni sebesar -1,52 persen. "Jika dilihat bulan Desember selama delapan tahun ke belakang, angka inflasi Desember 2016 ini merupakan yang terendah sejak 2010. Bulan des 2015 year on year (yoy) sebesar 3,35 persen sementara Desember 2016 hanya 3,02 persen," jelasnya.

        Ulasan :

      • Tujuan pasar modal adalah menghimpun dana atau kepemilikan perusahaan yang memberikan keuntungan bagi pihak emiten maupun investor. pasar modal tidak hanya menjadi alternatif tempat berinvestasi, tetapi juga sebagai alternatif sumber pembiayaan jangka panjang melengkapi sumber pembiayaan yang selama ini bergantung banyak kepada perbankan.

    • PERBANKAN
      • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (Persero) merasakan dampak Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang mulai membantu mendongkrak angka penyaluran kredit. "Memang sudah mulai terasa dampaknya, di akhir tahun penyaluran KPR sudah agak meningkat," ujar Direktur Konsumer BRI Sis Apik Wijayanto, Rabu (4/1). Per kuartal III 2016, BRI berhasil menyalurkan KPR hingga Rp17 triliun. Dampak kebijakan LTV tersebut diharapkan manajemen BRI mampu membawa nilai KPR-nya tumbuh dua digit seperti tahun 2015 lalu. Sementara itu, Direktur Konsumer PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Anggoro Eko Cahyo mengatakan, dengan pelonggaran LTV kemarin BNI mengincar pembiayaan KPR di atas nilai Rp1 miliar. Ia menilai, ada peluang pertumbuhan tinggi di segmen tersebut pada tahun ini.

      • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mengklaim mengantongi dana repatriasi sebesar Rp23 triliun hingga tutup tahun 31 Desember 2016. Dari nilai tersebut, dana repatriasi ditempatkan dalam bentuk tabungan dan deposito hingga mencapai 53 persen. Sementara, menurut Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rohan Hafas, sisanya sebesar 47 persen ditaruh di surat utang, sukuk, reksa dana, termasuk produk asuransi. Bank Mandiri mengoperasikan 235 kantor cabang untuk menerima pembayaran setoran dana tebusan dan penempatan dana repatriasi amnesti pajak. “Ini merupakan bentuk dukungan perseroan terhadap program tax amnesty dan reformasi perpajakan,” ujarnya, kemarin. Bank pelat merah menyatakan komitmennya untuk terus melanjutkan dukungannya pada pelaksanaan tax amnesty periode ketiga yang berakhir pada Maret 2017, antara lain melalui klinik-klinik tax amnesty, serta sosialisasi produk-produk promosi.

      • Ulasan :

      • Pertumbuhan KPR & KPA sangat terus mengalami perlambatan hingga 2016. Penyebabnya adalah permintaan yang tertekan karena penerapan aturan LTV, tren suku bunga yang masih tinggi, dan kondisi ekonomi domestik yang juga melambat. Suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate belum dapat mengangkat daya beli masyarakat. Suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) perbankan juga belum kunjung turun. Hal ini juga disebabkan oleh aturan loan to value (LTV) dan KPR Inden yang sekian lama tidak diperlonggar.

         

    Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.