Pekan Pertama Februari 2017

03 februari 2017

Kategori : IR Weekly Review


  • MAKRO
    • Bank of England telah membuat perkiraan dramatis bahwa pertumbuhan Inggris Raya untuk tahun ini bakal meningkat tajam. Diprediksi ekonomi tumbuh 2% pada 2017, angka ini naik dari perkiraan November 1,4% yang sebelumnya juga diupgrade dari ramalan 0,8% yang dibuat pada bulan Agustus. Pihak bank memperkirakan lonjakan yang terjadi sebagai hasil pengeluaran dan investasi yang lebih tinggi seperti juga dalam pernyataan Menteri Luar Negeri Inggris Philip Hammond, Kamis (2/2/2017). Diharapkan suku bunga acuan ditahan oleh bank pada level 0,25%. Sementara itu pihak perbankan telah dikritik karena terlalu suram mengurangi secara drastis ramalan usai referendum Brexit, Juni lalu. Sejak saat itu Bank Sentral Inggris telah dipaksa untuk mengupgrade prakiraan untuk pertumbuhan.

    • Pejabat Uni Eropa memberitakan kabar baik pada Selasa (31/1/2017), di tengah kekhawatiran meningkatnya populisme yang mengancam disentegrasi Uni Eropa. Menurut pejabat Uni Eropa bahwa pertumbuhan ekonomi Uni Eropa meningkat dari tahun sebelumnya, inflasi juga lebih kuat dari perkiraan, dan tingkat pengangguran menurun. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Uni Eropa yang terdiri dari 19 negara anggota, pada kuartal IV 2016 naik 0,5% dibandingkan kuartal sebelumnya, Selasa (31/1). Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi kawasan Euro tumbuh 1,7%. Laju pertumbuhan 1,7% tersebut merupakan yang tertinggi untuk pertama kalinya, sejak krisis keuangan global tahun 2008. Dan PDB Uni Eropa ini lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat tahun 2016, yang hanya 1,6% atau yang terlemah sejak 2011.

    • Ulasan :

      Perlambatan dan penurunan belanja rumah tangga saat menyesuaikan inflasi yang lebih tinggi menjadi penyebab. Bank masih belum dapat dengan pasti memprediksi bagaimana konsumen bereaksi terhadap anggaran ketat.

  • MIKRO
    • Bank Indonesia (BI) memperkirakan penyaluran kredit perbankan bakal mulai membaik tahun ini. Perbaikan ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi global yang naik menjadi 3,4%. Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung mengatakan, leverage korporasi sudah menguat tahun ini, sehingga membuat balance menjadi lebih baik. "BI yakin 2017 ekonomi global lebih baik dari 3,1% ke 3,4%. Dari sisi domestik mikronya, kalau kita lihat korporasi balance sheet lebih baik dari 2016, leverage sudah kuat pada 2016, sehingga sekarang balance sheet semakin baik," ujarnya Selasa (31/1/2017). Lebih lanjut Juda menjelaskan dari sisi perbankan, rasio kredit bermasalah (NPL) sudah membaik. Dengan itu maka penyaluran kredit tahun ini juga bisa meningkat. "Dari sisi perbankan kalau kami lihat NPL sudah capai puncaknya. Jadi, ini menunjukan tahun sekarang lebih baik. Sehingga mestinya dari suplai dan demand kredit lebih baik," katanya.

    • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melansir realisasi komitmen dana repatriasi program amnesti pajak (tax amnesty) di bank gateway mencapai Rp105 triliun per 27 Januari 2017. Padahal, total komitmen dana repatriasi telah mencapai lebih dari Rp141 triliun. Sebagai catatan, realisasi tersebut berbeda dengan data keluaran Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada akhir tahun. Per 31 Desember 2016, DJP menyatakan realisasi komitmen repatriasi telah mencapai Rp112,2 triliun. Data tersebut diklaim DJP berasal 21 bank gateway. Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad mengungkapkan sebagian besar dana repatriasi tersebut, Rp74,8 triliun atau 71 persen, masih mengendap di perbankan dalam bentuk simpanan deposito.

    • Ulasan :

      Perekonomian nasional juga dapat bertumbuh dengan membaiknya harga komoditas. Sebab, hal tersebut menjadi motor utama dalam menggerakan ekspor, dan turut memberikan kontribusi kepada pertumbuhan ekonomi.

  • PERBANKAN
    • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (Persero) merasakan dampak Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang mulai membantu mendongkrak angka penyaluran kredit. "Memang sudah mulai terasa dampaknya, di akhir tahun penyaluran KPR sudah agak meningkat," ujar Direktur Konsumer BRI Sis Apik Wijayanto, Rabu (4/1/2017). Per kuartal III 2016, BRI berhasil menyalurkan KPR hingga Rp17 triliun. Dampak kebijakan LTV tersebut diharapkan manajemen BRI mampu membawa nilai KPR-nya tumbuh dua digit seperti tahun 2015 lalu. Sementara itu, Direktur Konsumer PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Anggoro Eko Cahyo mengatakan, dengan pelonggaran LTV kemarin BNI mengincar pembiayaan KPR di atas nilai Rp1 miliar. Ia menilai, ada peluang pertumbuhan tinggi di segmen tersebut pada tahun ini.

    • PT Bank Negara Indonesia Tbk (Persero) berencana membentuk anak usaha baru di Malaysia sebagai langkah perseroan ekspansi bisnis di luar negeri. Direktur Treasuri dan Internasional BNI Panji Irawan mengatakan, bank berlogo 46 itu akan membuka kantor cabang baru di Negeri Jiran usai pembentukan holding perusahaan keuangan rampung dirancang oleh pemerintah. Agar bisa berekspansi, BNI harus mematuhi peraturan yang berlaku di negeri tersebut, termasuk membentuk jajaran direksi yang akan mengelola bisnis di negara tersebut. "Jadi memang ada dua hal yang sedang kita jadikan pertimbangkan, tapi memang karena untuk yang namanya anak usaha ini bukan suatu cabang. Jadi ini memangperusahaan lokal, jadi harus ada direksi sendiri," ujar Panji di Bursa Efek Indonesia, Kamis (2/2/2017).

    • Ulasan :

      Aspek kontributif adalah mengoptimalkan peran sektor jasa keuangan dalam mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi nasional, aspek stabil adalah menjaga stabilitas sistem keuangan sebagai landasan bagi pembangunan yang berkelanjutan dan aspek inklusif adalah mewujudkan kemadirian finansial masyarakat serta mendukung upaya peningkatan pemerataan dalam pembangunan.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.