Pekan Pertama Desember 2016

09 desember 2016

Kategori : IR Weekly Review


  • MAKRO
    • Bank Sentral Eropa (ECB) pekan ini telah memicu spekulasi terhadap kebijakan moneter yang lebih akomodatif. Hal ini jika referendum Italia untuk reformasi konstitusional pada hari Minggu. Tetapi salah satu ekonom mengatakan kondisinya tidak sesederhana itu. “Pasar percaya kita pada dasarnya mengharapkan QE (pelonggaran kuantitatif). Infinity di Eropa dan mungkin hanya menjadi imajinasi.” kata Elga Bartsch, ekonom di Morgan Stanley. Bartsch mengakui retorika yang berasal dari Presiden ECB, Draghi mengemukakan pandangan ini agak sederhana. “Ada kemungkinan yang kuat dari dia (Draghi) dan sejumlah anggota dewan eksekutif di ECB. Tetapi pada saat yang sama, pandangan dewan yang lebih luas dan diantara para gubernur bank sentral tampaknya menjadi sedikit lebih beragam,” jelasnya.

    • International Finance Corporation (IFC) bersama OJK berkomitmen mendukung lahirnya industri keuangan pro lingkungan. "Upaya-upaya dunia untuk mengadaptasi tujuan global melalui pengembangan inovasi untuk mendukung program-program melindungi bumi, pengentasan kemiskinan, dan menjamin kesejahteraan bagi dunia sudah seharusnya kita usahakan dalam 15 tahun ke depan," ujar Ketua Dewan Komisioner OJK, Mulliaman D Hadad dalam Forum Internasional Keuangan Berkelanjutan di Nusa Dua, Bali, Kamis (1/12/2016). Muliaman bilang, kerja sama OJK dengan IFC sejalan dengan program tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals/SDGs), yang sejak 2016 telah diimplementasikan oleh negara anggota The United Nations Development Program (UNDP). Dunia bersepakat untuk mengejar target SDGs yakni mengakhiri Kemiskinan dan kelaparan pada 2030.

    • Ulasan :

      Kebijakan Pelonggaran Kuantitatif (Quantitative Easing) merupakan kebijakan moneter yang dikeluarkan bank sentral, dimana bank sentral memompa uang ke dalam bank dan lembaga keuangan di bawahnya untuk mendorong mereka agar meminjamkan sekian banyak dana. Kebijakan ini dapat dilakukan dengan cara membeli obligasi korporasi, surat berharga jangka panjang, saham, dan surat berharga lainnya dari bank dan lembaga keuangan lainnya.

  • MIKRO
    • Bank Indonesia (BI) berencana untuk mengimplementasikan kebijakan Giro Wajib Minimum (GWM) rata-rata (averaging) mulai pertengahan tahun depan. Kebijakan tersebut sekaligus menggantikan GWM dengan rate tetap yang saat ini dipatok 6.5 persen. Direktur Eksekutif Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Juda Agung mengungkapkan, penerapan GWM rata-rata tidak akan langsung dilakukan secara penuh. Menurutnya, GWM akan dilakukan secara parsial dimana 20 persen dari GWM yang disetor perbankan akan dihitung dengan rata-rata setiap dua pecan sekali. Atau dengan kata lain, GWM secara rata-rata nantinya member andil 1.5 persen terhadap GWM secara total sebesar 6.5 persen. Di sisi lain, perbankan masih harus memenuhi sisa 4.5 persennya dengan skema fixed per harinya.

    • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saat ini tengah mengkaji konsep penerbitan “green bond” atau obligasi ramah lingkungan kepada perusahaan pasar modal. “Di Indonesia kami sedang mencoba untuk melihat konsep atau struktur seperti apa yang cocok untuk diterbitkan oleh perusahaan di Indonesia.” Kata Anggota Dewan Komisioner/ Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Nurhaida usai memberikan sambutan pada pertemuan “Sustainable Banking Network” (SBN) di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Jumat (2/12/2016). Menurutnya, di beberapa Negara utamanya Negara maju sudah banyak yang mengeluarkan obligasi yang memberikan perhatian terhadap lingkungan tersebut. Dia menjelaskan bahwa “green bond” adalah obligasi yang memenuhi unsure keberlanjutan lingkungan.

    • Ulasan :

      Dengan adanya kebijakan GWM Averaging, perbankan menjadi fleksibel. Tujuannya agar perbankan bisa mengatur likuiditasnya setiap hari. Di sisi lain, BI tetap bisa mengendalikan jumlah uang yang beredar.

  • PERBANKAN
    • Bank Tabungan Negara (BTN) mengadakan program undian Serba Untung BTN mampu meraup pandangan murah melalui peningkatan giro dan tabungan (CASA). Serbu BTN merupakan kelanjutan dari program undian sejenis yang sukses digelar pada tahun lalu program ini digelar mulai 1 September 2016 hingga 31 Agustus 2017 dengan total hadiah mencapai RP 18 Miliar. Direktur Consumer Banking BTN Handayani mengatakan program undian Serbu merupakan bentuk apresiasi perseroan kepada nasabah Tabungan Batar BTN. Selain itu, program ini juga dihelat untuk meningkatkan penghimpunan tabungan sekaligus memperkuat struktur pendanaan di Bank BTN.

    • PT Bank Mandiri Tbk (Persero) mengucurkan kredit sebesar Rp 7.84 triliun hingga akhir Oktober 2016 untuk pengembangan berbagai pelabuhan di Indonesia. Realisasi ini naik 72 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. “Sektor pelabuhan jadi focus Bank Mandiri termasuk juga solusi perbankan secara komprehensif seperti system pembayarannya. Tidak hanya kredit.” Tutur Direktur Perbankan Ritel Bank Mandiri Tardi Rabu (7/12/2016). Tardi merinci, beberapa proyek pelabuhan yang memperoleh kredit dari Bank Mandiri sepanjang tahun ini, antara lain pembangunan Terminal Petikemas Belawan tahap II, dan pembangunan terminal multi tujuan Kuala Tanjung, serta proyek pembangunan Makassar New Port di wilayah Pelindo IV. 

    • Ulasan :

      Saat ini mayoritas Bank di Indonesia sedang berlomba-lomba untuk meningkatkan rasio CASA mereka dengan berbagai cara yang dikemas secara menarik dan bunga yang tetatp kompeten untuk terus meningkatkan struktur pendanaan pihak ketiga mereka.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.