Pekan Pertama April 2017

07 april 2017

Kategori : IR Weekly Review


  • MAKRO
    • Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) menyatakan pertumbuhan ekonomi Asia pada tahun ini tidak secepat yang diperkirakan. Penyebabnya ketidakpastian kebijakan di negara maju dan arus keluar modal (capital outflow). ADB yang bermarkas di Manila, Filipina, merilis outlook terbarunya pada Kamis (6/4/2017). Dimana pertumbuhan ekonomi Asia diperkirakan melambat 0,1% menjadi 5,7% pada tahun 2017 dan 2018. Angka ini merupakan yang paling lambat sejak tahun 2001. ADB yang terdiri dari 67 negara menyatakan pertumbuhan ekonomi China yang berkontribusi 60% bagi perekonomian Asia, akan melambat 0,2 poin menjadi 6,5% pada 2017 dan kemudian semakin lambat menjadi 6,2% pada 2018.

    • Para pejabat Fed ingin mulai menghapus neraca besar bank sentral 4,5 triliun dolar AS pada tahun ini. Menurut risalah, para pembuat kebijakan menegaskan kembali pendekatan untuk menormalisasi kebijakan moneter Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang diumumkan September 2014. "Asalkan ekonomi terus berkinerja di sekitar seperti yang diharapkan, sebagian besar peserta mengantisipasi bahwa kenaikan bertahap suku bunga federal fund akan berlanjut dan menilai bahwa perubahan kebijakan reinvestasi Komite kemungkinan akan tepat pada akhir tahun ini," kata risalah. Para analis mengatakan bahwa pelepasan neraca signifikan, karena ukurannya yang menakjubkan dan dampaknya bisa saja terhadap pasar, karena langkah itu sendiri akan berarti kenaikan suku bunga.

    • Ulasan :

      Ketidakpastian kebijakan ekonomi global yang berlarut-larut bisa menyebabkan tersendatnya aktivitas investasi di berbagai negara. Kondisi tersebut menunjukkan efek dari krisis yang cukup berat di tahun-tahun belakangan. Ini juga merefleksikan banyaknya tantangan yang dihadapi negara berkembang seperti melemahnya harga komoditas, investasi asing yang melambat, dan lebih luas lagi beban utang swasta yang meningkat serta risiko politik. 

  • MIKRO
    • Bank Indonesia (BI) bakal menahan tingkat suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate hingga akhir tahun. Hal itu dilakukan sebagai bagian dari upaya menstabilkan perekononomian. "Kami percaya bahwa tingkat suku bunga BI sudah cukup rendah dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi kita," tutur Deputi Gubernur Senior Mirza Adityaswara dalam acara GlobeAsia Business Summit di Museum BI, Rabu (5/4/2017). Mirza menuturkan, saat AS mengeluarkan kebijakan moneter berupa pelonggaran kuantitas (QE) pada periode 2013, BI meresponnya dengan melakukan pengetatan moneter. Kala itu, BI menaikkan suku bunga acuan hingga 150 basis poin untuk mengurangi defisit anggaran dan menurunkan inflasi.

    • Otoritas Jasa Keuangan menerbitkan tiga peraturan (POJK) baru sebagai tindak lanjut dari Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2016 tentang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan (UU PPKSK). Tiga POJK yang diterbitkan mencakup penetapan status dan tindak lanjut pengawasan bank umum, bank perantara, serta rencana aksi (recovery plan) bagi bank sistemik. Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad mengatakan, aturan ini menegaskan peran regulator dan otoritas keuangan dalam menerapkan kebijakan untuk menangani krisis di sektor keuangan. Sesuai UU PPKS, OJK diwajibkan untuk menerbitkan tiga aturan dalam jangka waktu satu tahun setelah UU KKSK diterbitkan. “UU PPKSK memberikan landasan hukum bagi OJK dan lembaga/otoritas lain untuk menangani stabilitas sistem keuangan serta melakukan tindakan dalam upaya mengatasi permasalahan stabilitas sistem keuangan berdasarkan tugas dan kewenangannya. Sebagai tindak lanjutnya kami keluarkan tiga POJK ini,” kata Muliaman di kantornya, Rabu (5/4/2017).

    • Ulasan :

      BI 7 days repo rate bertujuan agar operasi moneter yang dilakukan BI kedepannya menjadi lebih efektif dalam menyeimbangkan antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

  • PERBANKAN
    • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk berupaya menggairahkan sektor riil di Tanah Air melalui aktivitas perdagangan internasional. Tercatat, bank pelat merah itu pun telah memfasilitasi transaksi perdagangan (ekspor-impor) sebesar US$113,2 miliar  pada akhir tahun lalu, dimana 36,5 persennya merupakan transaksi ekspor. Atas kiprah tersebut, perseroan membukukan pendapatan senilai Rp3,14 Triliun di tahun 2016 dan 37 persen dari total pendapatan tersebut merupakan masuk dalam bentuk pendapatan berbasis komisi (fee based income). Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengatakan untuk mendukung perdagangan internasional, Bank Mandiri telah mengembangkan produk dan layanan trade dengan melihat tantangan dan perkembangan perdagangan Internasional.

    •  PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) ikut menyemarakkan dan memberi dukungan dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Real Estate Indonesia (REI), yang tahun ini genap berusia 45 tahun. Dukungan yang diberikan Bank BRI tidak terlepas dari hubungan baik yang selama ini terjalin dengan REI, dimana REI merupakan asosiasi pertama di sektor properti, perumahan dan real estate yang berdiri di Indonesia. Event ini diselenggarakan dengan mengusung tema kilas balik perjalanan dan peran REI dalam pembangunan di Indonesia, khususnya perumahan dan permukiman. ”Dukungan ini merupakan salah satu upaya sinergi dengan REI, harapannya Bank BRI semakin memberikan kontribusi terhadap pemenuhan atas kebutuhan rumah di Indonesia yang terus meningkat setiap tahunnya,” ujar Corporate Secretary Bank BRI Hari Siaga Amijarso dalam siaran pers, Minggu (2/4/2017).

    • Ulasan :
      Pentingnya solusi trade finance sebagai tulang punggung aktivitas perdagangan, terutama untuk menciptakan efisiensi dan akses perdagangan, terlebih pada saat pertumbuhan ekonomi global melambat.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.