Pekan Pertama April 2015

13 april 2015

Kategori : IR Weekly Review


  • MACRO
    • Dalam sepekan terakhir, nilai tukar rupiah mampu menguat 0,69% terhadap dollar AS. Di antara penyebabnya adalah penguatan harga minyak. Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dilansir Bank Indonesia (BI) menguat sebesar 10 poin (0,69%) ke posisi 12.910 per dollar AS pada pekan yang berakhir Jumat (10/4/2015) dibandingkan akhir pekan sebelumnya 13.000 per Kamis (2/4/2015).
    • Harga minyak dunia berakhir sedikit lebih tinggi pada Kamis atau Jumat (10/4/2015) pagi WIB, berbalik naik atau "rebound" dari penurunan curam hari sebelumnya di pasar yang berfluktuasi karena beberapa analis mengutip tanda-tanda potensi peningkatan permintaan. Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei, ditutup 37 sen lebih tinggi pada 50,79 dollar AS per barel di New York Mercantile Exchange, lapor AFP.
    • Direktur Dana Moneter Internasional, International Monetary Fund (IMF), Christine Lagarde mengatakan Yunani telah melakukan pembayaran sebesar 459 juta euro (sekitar Rp6,33 triliun) kepada lembaga pemberi pinjaman tersebut, Kamis (09/4).
    • Ekspor China turun tajam, membuat surplus perdagangan menyusut besar. Ekspor terjun 14,6% selama Maret dibandingkan tahun lalu, menurut laporan Bea Cukai yang menyebut lesunya permintaan global dan dampak Tahun Baru Imlek sebagai faktor penyebab penurunan itu. Angka itu sangat buruk dibandingkan proyeksi kenaikan 12% dalam survei Reuters. Sedangkan impor merosot 12,3%, lebih buruk dari prediksi 11,7% setelah anjlok 20,5% di bulan sebelumnya. Penurunan beruntun impor ini mencerminkan permintaan domestikpun juga rendah. Dengan ekspor dan impor yang rendah, surplus perdagangan hanya mencapai $3,08 miliar selama Maret, jauh di bawah prediksi $40 miliar dan bulan sebelumnya yang $60 miliar.
    • Ulasan :
      Data Indikator AS menunjukkan ketidak stabilan sehingga kondisi perekonomian AS belum pulih benar, sehingga kemungkinan peningkatan suku bunga The Fed tidak dalam waktu dekat.
      Data Perdagangan China mengalami pelemahan juga berdampak pada Negara Asia termasuk Indonesia, akan tetapi Capital Inflow dari domestic terkait periode dividen menjaga IHSG pada posisi 5414.
  • MICRO
    • Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengakui salah satu alasan cadangan devisa menurun sebesar 3,9 miliar dollar AS per Maret 2015, karena adanya upaya stabilisasi nilai tukar rupiah agar sesuai fundamentalnya. "Cadangan devisa kelihatan ada penurunan, karena dalam banyak hal ada kewajiban (utang luar negeri) pemerintah yang jatuh tempo yang harus dibayar dan untuk melakukan stabilisasi nilai rupiah," katanya di Jakarta, Jumat (10/4/2015).
    • Kementerian Keuangan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada 2016 dapat mencapai 6 - 6,6 persen. Itu dengan peningkatan kualitas dan optimalisasi belanja negara, serta tetap mengupayakan efisiensi fiskal melalui penurunan defisit anggaran.
    • Presiden Joko Widodo menyatakan pelaksanaan APBNP 2015 lebih baik dibanding APBN 2014. Itu terlihat dari angka penyerapan anggarannya lebih besar. "Kalau kita lihat dari data dibandingkan tahun yang lalu dari 1 Januari sampai 31 Maret tahun yang lalu baru 15,6, tahun ini 18,5 artinya pelaksanaannya sudah berjalan," jelas Jokowi.
    • Menteri Perdagangan Rachmat Gobel makin agresif mempersiapkan strategi peningkatan ekspor hingga tiga kali lipat. Tahun 2015 ini, target ekspor non migas dipatok sebesar US$192,5 miliar. Kemendag optimistis kinerja ekspor Indonesia akan semakin membaik seiring membaiknya perekonomian dunia. Perekonomian negara maju pada 2015 diprediksi akan mengalami pertumbuhan yang relatif tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya, terutama Amerika Serikat (AS). Pertumbuhan ekonomi AS pada 2015 diproyeksi mencapai 3,1%, sedangkan impor AS sendiri diproyeksikan tumbuh 5,4%. Tentu saja proyeksi ini diharapkan menjadi salah satu indikator positif dan dapat menggambarkan kondisi pasar tujuan ekspor lainnya.
    • Dalam sepekan ke depan, para pemodal di bursa saham disarankan membeli saham dari sektor yang trennya masih naik. Sektor tersebut adalah perkebunan, perbankan, dan manufaktur.
    • Ulasan :
      Kondisi perekonomian Indonesia menunjukkan indikator perlambatan terutama dari menurunnya cadangan devisa dan pelemahan rupiah.
  • BANKING
    • Direktur Utama Bank BCA Jahja Setiaatmadja di Jakarta, Kamis (09/04/2015) mengatakan rencananya akan mengakuisisi 2 (dua) bank kategori Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) 1 atau 2. Langkah tersebut untuk memperluas pertumbuhan secara anorganik. Ia bilang, untuk memantapkan langkah akuisisi ini, perseroan sudah menganggarkan dana sebesar Rp1,5 triliun. Tahun ini, papar dia merupakan peluang bagi perseroan mengakuisisi bank kecil karena price book value (PBV) perbankan sedikit melandai, terkait kinerja perbankan tahun lalu kurang baik.
    • PT CIMB Niaga Tbk (BNGA) tidak membagikan dividen dari hasil laba bersih sepanjang 2014. Laba ditahan sebagai permodalan pada 2015. Wakil Presiden Direktur CIMB Niaga D James Rompas mengatakan seluruh laba bersih CIMB Niaga tahun buku 2014, sebesar Rp 2,3 triliun keseluruhan membiayai kegiatan usaha CIMB Niaga.
    • PT Bank Syariah Mandiri (BSM) menandatangani Perjanjian Kerjasama dengan Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan Republik Indonesia sebagai Bank Operasional Dua (BO 2). Selain BSM, 19 Bank Pemerintah Daerah dan BNI Syariah, serta Bukopin juga telah ditunjuk sebagai BO 2. Semakin banyak bank sebagai BO2 akan semakin memudahkan Satker/Kementerian dalam membayarkan gaji PNS. Keuntungan bagi bank-bank tersebut antara lain, banyak kerjasama yang bisa dikembangkan dari kerjasama BO2, misalnya pembiayaan PNS untuk kepemilikan rumah, kendaraan, renovasi, pendidikan, dan lain-lain.
    • PT Bank DKI mencetak laba sebelum pajak sebesar Rp 302,66 miliar pada triwulan pertama 2015. Direktur Utama Bank DKI, Eko Budiwiyono menuturkan laba tersebut disumbang dari ekspansi dan penyaluran kredit sebesar Rp 24,14 triliun. "Pencapaian kinerja di triwulan pertama 2015 ini menandakan Bank DKI yang mulai beroperasi sejak 1961 sudah berada di jalur yang tepat untuk mencapai target kinerja keuangan di tahun 2015," ujarnya.
    • Bank Indonesia menyatakan suku bunga simpanan perbankan mengalami penurunan. Itu sejalan dengan kebijakan BI menurunkan tingkat suku bunga acuan (BI rate). "Turunnya BI rate dari 7,75 persen menjadi 7,5 persen pada 17 Februari 2015 diikuti dengan turunnya suku bunga Deposito berjangka waktu 1 dan 6 bulan," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara di Jakarta, Senin (06/04/2015).
    • Ulasan :
      Bank aktif melakukan aksi korporasi dengan akuisisi dan menjaring nasabah mikro pada tahun 2015 sebagai upaya menjaga pertumbuhan kinerjanya.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.