Pekan Ketiga Mei 2015

25 mei 2015

Kategori : IR Weekly Review


  • MAKRO
    • Gerak nilai tukar mata uang Dollar AS kembali  menguat terhadap sejumlah mata uang utama dunia, terutama pada Euro untuk hari kedua  secara beruntun dalam sesi perdagangan Selasa (19/05/2015). Gerak penguatan Dollar AS kali ini mendapatkan sokongan dari sentimen Bank Sentral Eropa (ECB)  yang berencana  meningkatkan stimulus besar-besarannya. Selain itu, pergerakan menguat nilai tukar Dollar AS kali ini juga mendapatkan sokongan dari rilis data perumahan AS yang kuat di bulan April lalu.
    • Pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) Jepang pada kuartal I tahun ini sebesar 2,4%, melampaui proyeksi sebesar 1,5% dan kuartal sebelumnya 1,1% setelah kontraksi pada kuartal II dan III tahun lalu. Seperti dilansir dari CNBC, Rabu (20/5/2015), Secara kuartal ke kuartal, PDB Jepang tumbuh 0,6% dalam tiga bulan pertama tahun ini, melebihi proyeksi survei Reuters sebesar 0,4%. Pendorong PDB adalah konsumsi swasta, yang tumbuh 0,4% dari kuartal sebelumnya, di atas perkiraan 0,2%. Meski konsumsi meningkat, namun dibatasi kenaikan pajak, upah riil yang lebih rendah dan harga yang lebih tinggi, sehingga memangkas belanja konsumen.
    • Perdana Menteri China Li Keqiang yakin memenuhi target pertumbuhan ekonomi 2015 sebesar 7%. Angka ini paling lambat dalam seperempat abad tahun ini. Apalagi, pihaknya telah meluncurkan serangkaian langkah sejak tahun lalu untuk menopang perekonomian yang lesu dan mengurangi risiko target pertumbuhan jangka pendek. "Kami memiliki kemampuan dan kepercayaan diri untuk memenuhi target ini dan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi," kata Li seperti dikutip dari Reuters, Kamis (21/5/2015). Keqiang berbicara hal ini di Brasil pada saat mengumumkan penawaran perdagangan, keuangan, dan investasi senilai puluhan miliar dollar, termasuk sektor pertambangan dan penerbangan.
    • Ulasan :
      Pergerakan nilai mata uang dollar AS (USD) yang menguat, dipengaruhi oleh membaiknya data perumahan AS yang biasanya disertai dengan isu kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS (The Fed) dan melemahnya perekonomian di China
  • MIKRO
    • Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG-BI) hari ini (19/05/2015), memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 7,5%. Keputusan ini sejalan dengan kebijakan moneter bank sentral yang cenderung ketat untuk mencapai sasaran inflasi 4±1% pada 2015 dan 2016. Gubernur Bank Indonesia, Agus D.W. Martowardojo mengungkapkan, selain memutuskan menahan BI Rate di level 7,5%, dalam RDG-BI juga memutuskan untuk menahan suku bunga Deposit Facility (Fasbi) 5,5% dan Lending Facility berada pada level 8%.
    • Posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada triwulan I 2015 menunjukkan perlambatan pertumbuhan. Bank Indonesia (BI) mencatat, ULN Indonesia di triwulan I 2015 tumbuh sebesar 7,6% atau lebih rendah bila dibandingkan triwulan IV 2014 yang tumbuh 10,20% (yoy). Direktur Eksekutif Departemen BI, Tirta Segara mengungkapkan, posisi ULN hingga akhir triwulan I 2015 tercatat sebesar USD298,1 miliar yang terdiri dari ULN sektor publik sebesar USD132,8 miliar (44,5% dari total ULN) dan sektor swasta sebesar USD165,3 miliar (55,5% dari total ULN).
    • Lembaga pemeringkat Standard & Poor’s Ratings Services (S&P) menaikkan outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi positif (BB+). Indonesia dinilai memiliki kepercayaan untuk membayar utang dalam jangka panjang. Lembaga pemeringkat itu juga menilai Indonesia bisa masuk dalam kategori “investment grade” dalam 12 bulan ke depan, jika pemerintah mampu meningkatkan kualitas penyerapan anggarannya. “Kebijakan yang lebih efektif dan tingkat kepastian yang lebih tinggi telah menghasilkan kemampuan fiskal dan cadangan devisa yang lebih luas, serta memperkuat ketahanan eksternal Indonesia,” kata S&P seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (21/5).
    • Ulasan :
      Membaiknya outlook  peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi positif (BB+) oleh lembaga pemeringkat Standard & Poor’s Ratings Services (S&P), harus ditindaklanjuti secara nyata dengan perbaikan ekonomi dalam negeri dan menarik minat investor baru, untuk berinvestasi di Indonesia. 
  • PERBANKAN
    • Bank Indonesia (BI) akan merevisi ketentuan Giro Wajib Minimum - Loan to Deposit Ratio (GWM-LDR), ketentuan LTV (loan to value) untuk Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) dan pembayaran uang muka (down payment) Kredit Kendaraan Bermotor (KKB). "Bank Indonesia segera merevisi ketentuan GWM-LDR dan berkoordinasi dengan OJK melakukan revisi ketentuan LTV untuk Kredit Kepemilikan Rumah (KPR), serta ketentuan pembayaran uang muka (down payment) untuk Kredit Kendaraan Bermotor (KKB)," ujar Gubernur BI Agus Martowardojo usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) di Jakarta, Selasa (19/5/2015). Revisi ketentuan LTV ini bertujuan agar kualitas kredit di sektor properti atau motor bisa dijaga dengan baik. Selain itu, untuk meyakinkan masyarakat jika ingin melakukan kredit harus ada pembayaran uang muka atau DP terlebih dahulu, sehingga tidak bisa 100% oleh debitur.
    • Corporate Secretary BRI Budi Satria mengatakan, jumlah transaksi remitansi yang menggunakan BRIFast Remittance mencapai 1,1 juta transaksi atau tumbuh 42,9% dari periode yang sama tahun sebelumnya, dengan kenaikan nominal transaksi menjadi Rp160,2 triliun, naik 50% dari tahun sebelumnya sebesar Rp 107,1 triliun. "Sebagai salah satu penyumbang perolehan Fee Based Income, BRI berupaya meningkatkan kinerja bisnis remittance yang tahun ini dipatok meningkat sebesar 25%," kata Budi dalam rilisnya di Jakarta, Jumat (22/5/2015). Dia melanjutkan, nominal transaksi BRIfast Remittance sebesar Rp 160,2 triliun, terdiri dari transaksi outgoing (dari dalam ke luar negeri) sebesar Rp  86,8 triliun, sedangkan transaksi incoming (dari luar ke dalam negeri) sebesar Rp 73,4 triliun.
    • Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad mengungkapkan di Jakarta, Minggu (17/5/2015), industri keuangan syariah harus diarahkan untuk meningkatkan akses masyarakat ke sektor keuangan atau inklusi keuangan. Menurutnya, ada beberapa hal penting untuk pengembangan industri keuangan syariah, di antaranya mendorong operasi pasar bebas, adil dan transparan dalam sektor jasa keuangan syariah serta peningkatan kemampuan sumber daya manusia di bidang keuangan syariah dan pengembangan produk standar keuangan syariah melalui penelitian dan inovasi.
    • Ulasan :
      Menurunnya nilai penyaluran di bidang kredit perbankan, untuk menjaga rasio pendapatan bank, maka harus disiasati dengan perolehan dari transaksi yang merupakan fee based income.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.