Pekan Ketiga Februari 2017

17 februari 2017

Kategori : IR Weekly Review


  • MAKRO
    • Gubernur Federal Reserve (The Fed) Janet Yellen menilai kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat alias Fed rate saat ini sebagai sebagai kebijakan yang tepat, menjelang pertemuan yang akan datang. Dijadwalkan pertemuan berikutnya Bank Sentral AS untuk membahas kebijakan moneter bakal berlangsung pada 14 dan 15 Maret 2017.  Seperti dilansir BBC, Rabu (15/2/2017) Yellen yang berbicara kepada Kongres mengatakan penundaan kenaikan suku bunga merupakan tindakan yang tidak bijaksana dan bisa membuat The Fed bergerak terlalu cepat untuk menimbulkan risiko resesi keuangan. Seperti diketahui pada Desember lalu, Fed sudah menaikkan suku bunga acuan 0,25% dan menjadi peningkatan kedua kalinya dalam satu dekade terakhir. Memimpin kongres untuk pertama kalinya setelah Donald Trump dilantik menjadi Presiden AS, Yellen dalam pidatonya mengulangi bahwa meskipun Fed berharap menaikkan suku bunga secara bertahap, sangat penting  jika pertumbuhan ekonomi AS seperti diharapkan. Laju inflasi dan pasar tenaga kerja, masuk dalam pertimbangan dalam menentukan jadwal kenaikan Fed Rate.

    • Direktur Dana Moneter Inter­na­sional (IMF) Christine Lagarde mengungkapkan optimismenya terhadap per­tumbuhan ekonomi AS di bawah pe­merintahan Presiden Donald Trump, Minggu (12/2). Meski begitu, Lagarde memperingatkan kalau pertumbuhan eko­nomi AS bisa mendatangkan masa­lah bagi seluruh dunia. “Dari sedikit yang kita ketahui dan kita dengar, mengenai kemajuan yang sedang berlangsung, kita punya alasan untuk optimis terhadap pertumbuhan ekonomi AS,” ungkapnya pada acara World Government Summit di Dubai. Pimpinan IMF memprediksikan kebijakan reformasi pajak dan pening­ka­tan investasi untuk pembangunan infra­sturktur yang diusung Trump ke­mung­kinan besar akan terwujud. Bahkan, ke­bijakan pemangkasan pajak yang di­usulkan Presiden AS itu telah melesatkan harga saham-saham Wall Street ke rekor baru. The Dow, Nasdaq dan S&P 500 seluruhnya ditutup naik 0,6 persen, Kamis (16/2), setelah Trump menjanjikan program pemangkasan pajak “fenomenal” yang akan diberlakukan dalam dua atau tiga pekan ke depan. Kendati demikian, terlepas dari optimismenya pada perekonomian AS, Lagarde secara gamblang mengatakan kalau pertumbuhan ekonomi AS akan berdampak meningkatkan keprihatinan pada perekonomian global.

    • Ulasan :

      Dampak jangka pendek terhadap tertundanya suku bunga The Fed cukup positif terhadap Indonesia. Yang paling penting adalah modal asing akan cenderung tidak segera keluar dari Indonesia, tekanan rupiahpun akan berkurang, sehingga Bank Indonesia pun tidak harus memperketat kebijakan moneternya dalam waktu dekat.

  • MIKRO
    • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berupaya agar penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) lebih efektif dan produktif. Salah satunya dengan sosialisasi program KUR di daerah-daerah. Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad mengatakan, selama ini OJK sudah menjalankan beberapa inisiatif dalam mendorong program KUR. Seperti dengan meningkatkan percepatan akses keuangan di daerah hingga pemanfaatan program laku pandai. "Membangun percepatan akses keuangan di daerah, memanfaatkan laku pandai itu bisa dimanfaatkan sebagai sarana untuk mempercepat KUR. Saat ini sudah cukup bagus, kita gunakan sebagai sarana sosialisasi termasuk edukasi kepada calon nasabah," kata dia saat ditemui di Jakarta, Selasa (14/2/2017). Menurutnya, dalam mengembangkan program KUR OJK bersinergi dengan Menko Perekonomian untuk memastikan lembaga keuangan yang ikut dalam KUR adalah lembaga keuangan yang sehat dan dapat dipercaya mengembangkan perekonomian rakyat.

    • Bank Indonesia (BI) selama ini telah melakukan beberapa transmisi kebijakan moneter lewat penurunan tingkat suku bunga acuannya beberapa waktu lalu. Sayangnya, penurunan suku bunga yang dilakukan BI masih belum berdampak besar terhadap penurunan tingkat suku bunga kredit dan suku bunga deposito perbankan. Gubernur BI Agus Martowardojo mengungkapkan, transmisi kebijakan moneter yang dilakukannya hingga Januari 2017 hanya mampu membuat suku bunga kredit dan deposito turun tipis. Suku bunga deposito turun 6 basis poins (bps) dari 122 bps menjadi 128 bps. "Jadi di Januari ini, ada tambahan enam bps untuk suku bunga deposito jadi 128 bps dari 122 bps. Suku bunga kredit belum ada perubahan," katanya di Gedung BI, Jakarta, Kamis (16/2/2017). Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung menambahkan, suku bunga kredit pada Desember 2016 sejatinya sudah turun menjadi 79 bps. Namun, pada Januari 2017 justru kembali naik menjadi 78 bps.

    • Ulasan :

      Perkembangan Teknologi Informasi pada zaman modern tidak terbendung lagi. Penggunaan telpon genggam pintar atau yang dikenal smartphone telah menjadi viral dan bukan merupakan sebuah keanehan lagi. Dunia perbankan juga terkena imbasnya, perkembangan E-Banking dari tahun ke tahun semakin pesat, dan pada beberapa tahun lagi, tidak hanya E-Transaction ataupun E-Savings saja, kantor cabangpun akan didgitalisasi sehingga nasabah tidak perlu ke luar rumah untuk berhubungan dengan bank.

  • PERBANKAN
    • PT Bank Negara Indonesia Tbk siap genjot sektor pembiayaan di sektor maritim. Tahun 2016 perseroan berhasil menyalurkan pembiayaan maritim sebesar Rp12 triliun yang naik dari Rp10,4 triliun di 2015. Sektor maritim termasuk dalam 20 sektor prioritas BNI di tahun 2017. Direktur Utama BNI Achmad Baiquni mengatakan pihaknya siap meningkatkan penyaluran kredit maritim. Hal ini mengingat kebijakan yang dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan mendorong tangkapan nelayan lokal. Para nelayan yang sebelumnya menggunakan tangkapan cangkrang dan tahun ini diharuskan menggantinya. Dampaknya nelayan lebih mudah mendapatkan ikan dan ada kebutuhan untuk membeli alat tangkap baru. “Tahun ini kami sudah bicara dengan Menteri KKP untuk membantu pembiayaan alat tangkap baru bagi nelayan. Penggantian alat pancing ini tentu membutuhkan pembiayaan. Kemampuan para nelayan perlu ditingkatkan untuk menggarap perikanan,” ujar Baiquni saat ditemui KORAN SINDO beberapa waktu lalu di Ambon, Maluku. Sektor maritim menyangkut budidaya dan penangkapan ikan, industri pengolahan ikan, perdagangan hasil ikan, galangan kapal, konstruksi pelabuhan, pengangkutan dan pelayaran, sarana wisata tirta kawasan pariwisata.

    • PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) menargetkan laba bersih tahun ini meningkat 20% dari perolehan 2016 yang mencapai Rp2,61 triliun atau tumbuh 41,49% (year-on-year). Direktur Utama Bank BTN Maryono meyakini, pada tahun ini Bank BTN akan mampu melanjutkan kinerja positif. Hal ini tak lepas dari kondisi perekonomian di dalam negeri menunjukkan gejala pemulihan. "Kami optimistis Bank BTN akan mampu melanjutkan kinerja positif tahun ini," kata Maryono dalam paparan kinerja perseroan di Jakarta, Senin (13/2/2017). Dalam kesempatan tersebut, Maryono menuturkan, pencapaian laba bersih 2016 ditopang pertumbuhan kredit menjadi Rp164,44 triliun atau tumbuh 18,34% (yoy) yang diikuti perbaikan aset menjadi Rp241,16 triliun atau tumbuh 24,66%. "NPL (kredit bermasalah) Bank BTN pada 2016 juga mengalami penurunan sangat tajam dari 3,42% (gross) di 2015 menjadi 2,84%. Ini menurut kami penurunan yang sangat besar selama ini," tuturnya.

    • Ulasan :

      Pembiayaan khususnya di sektor maritim ini sangat menjanjikan mengingat Indonesia sendiri merupakan negara maritim. Secara khusus banyaknya masyarakat Indonesia yang berprofesi sebagai nelayan membuat kebutuhan seperti peningkatan kapal nelayan tidak bisa dihindari. Sehingga perlu sarana dari pemerintah khususnya untuk memberikan bantuan ataupun pembiayaan di sektor ini.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.