Pekan Ketiga April 2017

21 april 2017

Kategori : IR Weekly Review


  • MAKRO
    • Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan kabar perbaikan ekonomi antara Eropa dan Asia telah menyumbang pada perbaikan proyeksi perekonomian global tahun ini. Faktor lain yang turut memberi kontribusi adalah meningkatan ekonomi di negara-negara di Asia, serta ekspektasi yang lebih tinggi terhadap ekonomi Amerika Serikat tahun ini. Berdasarkan hal tersebut, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun ini akan mencapai 3,5 persen, naik dari pencapaian 2016 yang tercatat 3,1 persen. Pertumbuhan akan berlanjut pada 2018 dan membaik dengan proyeksi hingga 3,6 persen. Percepatan pertumbuhan ini ditopang oleh gairah yang lebih baik dari negara-negara berkembang dan negeri-negeri berpendapatan rendah, yang menikmati peningkatan dari sektor perdagangan maupun manufaktur. “Proyeksi terbaru kami pada 2017 ini lebih tinggi dari yang kami perkirakan dalam laporan terakhir sebelumnya,” kata Maurice Obstfeld, Konsuler Ekonomi dan Direktur Departemen Riset IMF, dalam konferensi pers di kantor pusat IMF di Washington DC, Amerika Serikat, Selasa pagi waktu setempat atau Selasa malam waktu Indonesia, 18 April 2017.

    • Bank Sentral Jepang (BOJ) bersiap melanjutkan kebijakan pelonggaran moneternya. Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda mengatakan, kebijakan tersebut dilakukan mengingat kenaikan laju inflasi diproyeksikan masih di bawah target yang ditentukan pada tahun ini. Seperti diketahui, BOJ menetapkan target inflasi pada tahun ini mencapai 2%. “BOJ merasa perlu melanjutkan stimulus moneter dan akan terus memantau pertumbuhan indeks harga konsumen nasional. Mengingat belum ada tanda-tanda atau momentum inflasi akan kembali melonjak,” katanya, seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (17/4/20170). Pelonggaran moneter yang dimaksud oleh BOJ tersebut antara lain, mempertahankan suku bunga acuannya pada level -0,1% yang berlaku atas kelebihan cadangan lembaga keuangan yang terparkir di bank sentral.

    • Ulasan :

      Fenomena pertumbuhan ekonomi global yang meningkat ini dapat terjadi dikarenakan datang dari kabar situasi ekonomi yang baik di Eropa dan Asia, serta berlanjutnya harapan akan pertumbuhan yang lebih tinggi tahun ini dari Amerika Serikat.

  • MIKRO
    • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mengembangkan program keuangan syariah, literasi keuangan dan perlindungan konsumen sektor jasa keuangan dengan menggandeng Persyarikatan Muhammadiyah dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ruang lingkup kedua Nota Kesepahaman antara lain mengenai penelitian bersama ataupun pemberian bantuan pada penelitian dalam pengembangan keuangan syariah pada kegiatan di sektor jasa keuangan. Tujuannya menyamakan persepsi dan arah pengembangan keuangan syariah di sektor jasa keuangan dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan sektor jasa keuangan berbasis syariah. Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad mengatakan, peningkatan kemampuan literasi keuangan dilaksanakan melalui kegiatan, sosialisasi secara lisan dan tertulis, penyusunan desain kurikulum pendidikan yang memuat materi tentang kegiatan di sektor jasa keuangan serta pemberian bantuan teknis dalam memfasilitasi lembaga pendidikan.

    • Bank Indonesia (BI) menerbitkan PBI Nomor 19/3/PBI/2017 tentang Pinjaman Likuiditas Jangka Pendek bagi Bank Umum Konvensional (PBI PLJP). Hal ini dalam rangka penyempurnaan ketentuan sebelumnya yaitu PBI Nomor 14/16/PBI/2012 tentang Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek Bagi Bank Umum. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara mengatakan, penyempurnaan PBI PLJP terutama dilakukan dalam rangka penyelarasan dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2016 tentang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan (UU PPKSK). Hal tersebut lantaran dalam rangka memelihara stabilitas sistem keuangan terutama perbankan tetap diperlukan upaya untuk mengatasi kesulitan likuiditas jangka pendek. "Upaya untuk mengatasi kesulitan likuiditas jangka pendek dimaksud merupakan salah satu cara pencegahan dan penanganan krisis sistem keuangan yang dapat ditempuh melalui penyediaan pinjaman likuiditas jangka pendek (PLJP) kepada bank," kata Tirta dalam rilisnya, Jakarta, Rabu (19/4/2017).

    • Ulasan :

      OJK sangat optimistis dengan industri keuangan yang akan tumbuh membaik mengingat pasar keuangan syariah di Indonesia sangat besar. Hal itu ditandai dengan beberapa fenomena seperti peningkatan kebutuhan makanan halal, busana muslim dan kosmetik serta pariwisata syariah.

  • PERBANKAN
    • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Pemerintah Negara Bagian Victoria, Australia saat ini tengah membahas rencana pembukaan kantor cabang PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk atau BNI di Melbourne, Australia. Rencana pembukaan cabang BNI di Melbourne menjadi salah satu topik dalam pertemuan bisnis Pemerintah Negara Bagian Victoria yang dihadiri Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad dan Menteri Keuangan Negara Bagian Victoria Tim Pallas di Melbourne, Australia, Jumat."Pertemuan yang dihadiri para pengusaha Australia, perwakilan pengusaha Indonesia di Australia dan sejumlah pelajar Indonesia di Melbourne ini merupakan tindaklanjut dari nota kesepahaman antara OJK dengan Pemerintahan Negara Bagian Victoria yang telah dilakukan pada 16 Maret 2016," kata Muliaman dalam siaran pers di Jakarta. Dia mengharapkan BNI bisa membuka kantor cabangnya dalam waktu dekat di Melbourne untuk memanfaatkan potensi keuangan di area tersebut khususnya dengan menyajikan layanan keuangan yang dibutuhkan oleh setiap bisnis dan kebutuhan WNI di Australia.

    • Penyaluran kredit PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) hingga akhir Maret 2017, mencapai sebesar Rp653,1 triliun. Posisi ini meningkat 16,4% dibandingkan para periode yang sama tahun lalu yakni di akhir Maret 2016 sebesar Rp561,1 triliun. "Kenaikan penyaluran kredit tersebut terutama didorong oleh penyaluran kredit di sektor UMKM sebesar Rp471 triliun atau sekitar 72,1% dari keseluruhan portofolio kredit BRI," ujar Wakil Direktur Utama BRI Sunarso di Jakarta, Kamis (20/4/2017). Dari penyaluran kredit tersebut, lanjut dia, kredit mikro masih memegang porsi terbesar dari seluruh segmen kredit BRI yakni sebesar 33% atau senilai Rp216,1 triliun dari seluruh kredit yang disalurkan. Selain itu, kredit usaha rakyat (KUR) juga masih menjadi fokus perseroan dimana selama 3 bulan di awal tahun ini BRI menyalurkan KUR sebesar Rp14,11 triliun kepada lebih dari 763 debitur baru. "Dari penyaluran tersebut sekitar 30% diantaranya disalurkan ke sektor produktif," ujarnya. Hingga akhir tahun 2017, perseroan menargetkan penyaluran KUR kepada sektor produktif dapat naik 40%. "Kalau kita hitung sejak KUR skema baru diluncurkan 2015, maka total BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp99,7 triliuh kepada 5,6 juta debitur," ungkap dia.

    • Ulasan :

      Hubungan ekonomi antara Indonesia dan Australia selama ini telah berjalan dengan baik dan memiliki potensi yang besar untuk semakin dikembangkan. Perlu diketahui bahwa pada tahun 2015 Indonesia berada dalam posisi ke-10 tujuan eksport Australia dan urutan ke-12 tujuan impor Indonesia ke Australia serta nilai investasi Australia di Indonesia mencapai 8,4 miliar dollar Australia.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.