Pekan Ketiga April 2015

27 april 2015

Kategori : IR Weekly Review


  • MACRO
    • Kurs dollar AS melemah terhadap mata uang utama lainnya pada Kamis (Jumat pagi WIB, 24/4/2015), karena data ekonomi dari negara itu secara keseluruhan negatif. Pada akhir perdagangan di New York, euro naik menjadi 1,0825 dollar dari 1,0742 dollar di sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi 1,5057 dollar dari 1,5045 dollar di sesi sebelumnya. Dollar Australia naik ke 0,7777 dollar dari 0 7772 dollar.
    • Harga minyak AS berakhir turun pada Rabu atau Kamis (23/4/2015) pagi WIB, setelah data minyak mingguan AS menunjukkan persediaan minyak mentah lebih tinggi, tetapi produksinya sedikit lebih rendah. Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni, turun 45 sen menjadi ditutup pada 56,16 dollar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Tetapi patokan Eropa, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni, naik 65 sen menjadi menetap di 62,73 dollar AS per barel di perdagangan London.
    • Bank Pembangunan Asia (ADB) memprediksi pertumbuhan India akan mengungguli Cina. Perekonomian India, menurut perkiraan ADB, akan bertumbuh 7,8 persen, sedangkan Cina hanya 7,2 persen. “Tak hanya tahun ini, tapi juga untuk beberapa tahun mendatang,” ujar ekonom ADB, Shang-Jin Wei.
    • Ulasan :
      Stabilitas ekonomi AS sangat tergantung terhadap minyak dunia sehingga fluktuatif minyak dunia memberikan dampak ketidakstabilan perekonomian AS, namun hal ini tidak terlalu berpengaruh terhadap beberapa negara yang kini perlahan menjadi kekuatan ekonomi baru dunia.
  • MICRO
    • Mengacu data Bloomberg, Jumat (24/4) di pasar spot, rupiah menguat Rp 12.939 per dollar Amerika Serikat (AS) atau menguat 0,12% dari sebelumnya Rp 12.954 per dollar AS. Penguatan rupiah dipicu sentimen dari negatifnya data ekonomi AS.
    • Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, dalam siaran pers yang diterima, Selasa (21/4/2015) mengatakan antusiasme pengusaha Mesir untuk menjalin kerja sama dengan pengusaha Indonesia. Hal ini menunjukkan produk Indonesia cukup kompetitif dan memiliki kualitas yang baik. Para pengusaha Mesir tersebut mengincar sejumlah komoditas seperti ban kendaraan bermotor, produk makanan hasil laut, aki mobil, buah segar, makanan olahan, suku cadang, mebel kantor, dan alat-alat tulis.
    • Kementerian Perhubungan menyambut baik penandatanganan nota kesepahamanan antara China dan Indonesia terkait pendanaan proyek Kereta Api super cepat yang menghubungkan Jakarta-Bandung. Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenhub J.A. Barata mengatakan kebijakan kementerian itu sudah jelas yakni memperbolehkan pelaksanaan proyek infrastruktur transportasi bernilai tinggi apapun di Pulau Jawa sepanjang tidak menggunakan APBN.
    • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong kalangan perbankan asing yang beroperasi di Indonesia untuk membangun pusat data atau "onshore data centre" (ODC). Kehadiran pusat data ini dinilai penting untuk menjamin kepentingan para nasabah, sekaligus memudahkan kerja otoritas ketika ada kebutuhan mendesak untuk mengaudit data nasabah bank bersangkutan. "OJK bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika telah sepakat untuk mendalami hal ini lebih lanjut dengan membentuk tim teknis untuk membahas rencana implementasi kewajiban membangun pusat data tersebut," kata Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman Darmansyah Hadad, di Jakarta, Selasa (21/4).
    • Ulasan :
      Belum membaiknya data perekonomian Amerika Serikat mendorong pelaku pasar uang masih cukup aktif melakukan transaksi mata uang di Negara berkembang, salah satunya rupiah sehingga menahan laju dollar AS di pasar valas domestik.
  • BANKING
    • Deputi Komisioner Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mulya E. Siregar menyarankan penggabungan entitas Bank Syariah pelat merah dilakukan bertahap. Dia memaparkan setidaknya setiap entitas tersebut harus mensinergikan tiga hal, yakni dari sisi strategi bisnis, sumber daya manusia (SDM), dan teknologi informasi (IT). Sebelumnya OJK menyebutkan rencana merger bank syariah ditarget rampung tahun ini. Rencananya, pemerintah akan menggabungkan BSM, PT Bank BRI Syariah, BNI Syariah, dan Unit Usaha Syariah PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.
    • PT Bank Negara Indonesia Tbk. siap untuk memberikan fasilitas transaksi lindung nilai kepada BUMN guna memitigasi risiko terhadap volatilitas nilai tukar mata uang asing. Bank pelat merah ini mengklaim telah mempunyai tim dan infrastruktur yang siap untuk layanan hedging itu. Implementasinya dapat dilihat dari pemberian fasilitas lindung nilai ke PT Perusahaan Listrik Negara yang dilakukan BNI beserta dua bank BUMN lain yaitu PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. dan PT Bank Mandiri Tbk. Selain itu, BNI juga telah menyelenggarakan pelatihan lindung nilai kepada staf PLN untuk memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai produk lindung nilai, perlakuan akuntansi, pelaporan, serta pengelolaan manajemen risikonya.
    • Kinerja PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk di bisnis layanan trust terus meningkat. Hingga akhir 2014, BRI mencatat dana kelolaan layanan trust mencapai Rp16,9 triliun atau tumbuh sebesar 171% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp9,9 triliun. Sementara volume transaksi mencapai Rp600 miliar per bulan atau equivalen dengan US$48 juta per bulan. Menurut Corporate Secretary BRI, Budi Satria, nilai kelolaan tersebut berasal dari sekitar 21 nasabah, di mana mayoritas nasabah jasa trust BRI berasal dari sektor minyak dan gas, energi dan penunjangnya, serta sisanya berasal dari sektor industri kimia, bisnis media dan infrastruktur.
    • PT Bank CIMB Niaga Tbk melaporkan perolehan pendapatan operasional konsolidasi (tidak diaudit) sebesar Rp3.402 miliar, tumbuh sebesar 0,7% year-on-year (YoY), dengan laba bersih sebesar Rp83 miliar pada tiga bulan yang berakhir pada 31 Maret 2015, menghasilkan earning per share (EPS) sebesar Rp3,29. Pendapatan bunga bersih meningkat 10,8% YoY seiring naiknya pinjaman bruto sebesar 9,6% dan stabilnya marjin bunga bersih. Kenaikan pendapatan operasional diikuti dengan penurunan pendapatan non-bunga sebesar 29,4% YoY sebagai imbas dari melambatnya aktivitas pasar treasuri dan pemberlakuan peraturan baru tentang bancassurance pada Maret 2014.
    • PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk membentuk Office of BTN Housing Finance Center (BTN HFC) sebagai pengelola pusat pembelajaran perbankan dan riset perumahan yang profesional di Indonesia. Ini dilakukan untuk mendukung program sejuta rumah yang dicanangkan pemerintah. Nantinya, BTN HFC ini akan mengeluarkan BTN Housing Index yang diharapkan dapat membantu pemerintah atau pengembang bahkan masyarakat terkait dengan bisnis pembiayaan perumahan. "Kami sangat mendukung program sejuta rumah pemerintah dan sebagai pemain terbesar dalam bisnis pembiayaan perumahan di Indonesia, BTN memprakarsai terbentuknya housing index yang dapat dipakai sebagai salah satu pertimbangan teknis dalam pengambilan kebijakan atau keputusan bisnis menyangkut perumahan," ujar Direktur BTN, Mansyur S Nasution, di Jakarta, Senin (20/4).
    • Ulasan :
      Sistem dan kinerja perbankan Indonesia yang sehat, kuat dan efisien sangat dipengaruhi oleh kestabilan ekonomi Indonesia dan ekonomi secara global.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.