Pekan Keempat Mei 2017

26 mei 2017

Kategori : IR Weekly Review


  • MAKRO
    • Sebagian besar pejabat Federal Reserve AS memandang tepat untuk segera menaikkan suku bunga jika ekonomi terus membaik, risalah pertemuan kebijakan moneter terbaru Fed menunjukkan pada Rabu (24/5/2017). "Sebagian besar peserta menilai bahwa jika informasi ekonomi yang masuk sesuai dengan harapan mereka, akan tepat bagi Komite (Pasar Terbuka Federal) untuk segera mengambil langkah lagi dalam menghapus beberapa kebijakan akomodatif," kata risalah tersebut. Dalam pertemuan kebijakan terakhirnya pada 2 dan 3 Mei, Fed mempertahankan suku bunga acuan tidak berubah, karena bank sentral AS menunggu lebih banyak data untuk menilai prospek ekonomi Amerika Serikat. Meskipun para pejabat Fed percaya bahwa kemerosotan baru-baru ini dalam pertumbuhan ekonomi bersifat sementara, mereka berpendapat bahwa akan lebih baik jika menunggu bukti tambahan sebelum menaikkan suku bunga.

    • Dari program andalan Bank Sentral Eropa (ECB) yaitu QE (pelonggaran kuantitativ) dilaporkan sudah mencapai 1 Triliun Euro berada di pekan lalu, semenjak sudah di mulai di gelontorkan berada di 18 bulan sebelumnya. Akan tetapi sejauh ini inflasi berada di blok pengguna mata uang Euro masih ada di tingkat 0,2% jauh masih di bawah target yang ada di 2% sudah dalam ketetapan ECB. Berada di pekan kemarin, ECB yang sudah mencatatkan €1.001 milyar utang untuk penggunakan metode kunci modal dalam tentukan jumlah yang proporisonal obligasi yang dibeli berasal dari setiap Negara. Semenjak pada bulan Maret 2015 sampai di akhir tahun Agustus, ECB sudah membeli sebanyak 238 miliar Euro Bunds Jerman, dari Prancis 189 triliun milyar obligasi dan 164 milyar obligasi Italia.

    • Ulasan :

      Meskipun beberapa pendapat mengatakan bahwa pengeluaran konsumsi lemah pada awal tahun, namun hal tersebut hanya bersifat sementara. Setelah beberapa bulan pertumbuhan konsumsi akan meningkat dikarenakan fundamental yang solid seperti kenaikan lapangan kerja, meningkatnya pendapatan, perbaikan neraca rumah tangga, dan meningkatnya sentiment konsumen.

  • MIKRO
    • Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo mengatakan, pemerintah telah menyiapkan lima strategi untuk mengantisipasi berbagai risiko global yang bisa mengganggu sistem keuangan Tanah Air. Meski terdapat sejumlah tantangan serta ketidakpastian global, namun dia mengaku yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih baik tahun ini. Lebih lanjut dia menerangkan strategi pertama yang disiapkan adalah penguatan dan perluasan pengawasan mekroprundensial untuk mengidentifikasi sumber tekanan secara dini. "Kedua, melakukan identifikasi dan pemantauan risiko sistemik dengan menggunakan balance of system risk," terang Agus di Gedung BI Thamrin, Jakarta, Rabu (24/5/2017). Selanjutnya, strategi ketiga yakni memperkuat menajemen krisis dengan indikator sistem keuangan dan hasil pengawasan sistem keuangan. Keempat, terang dia dengan mendukung upaya pendalaman pasar keuangan untuk memperkuat sistem keuangan terhadap guncangan. "Lantas, kelima, memperluas komunikasi dan koordinasi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dan dan konsultasi terus dengan DPR untuk bauran kebijakan," imbuhnya.

    •  Pemerintah bakal menambah agen bank untuk menunjang sistem layanan inklusi keuangan hingga 2020, sebanyak 700.000 agen. Saat ini jumlah agen layanan keuangan tanpa kantor berjumlah 300.000. Hal ini disampaikan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman Hadad. Muliaman menyatakan, hingga 2020, total agen yang ditargetkan berjumlah 1 juta jika penambahannya sampai 700.000.  Penambahan tersebut diusahakan ke titik-titik daerah yang memang jauh dari jangkauan bank. Tujuannya agar masyarakatnya bisa menikmati akses dan layanan perbankan, serta belajar untuk menabung. "Target kita di 2020 ada satu juta agen. Tambahannya kan 700.000. Kita tempatkan agen-agen itu di kampung-kampung. Nanti rumah mereka pun bisa jadi kantor," jelas Muliaman di Jakarta, Selasa (23/5/2017).

    • Ulasan :

      Pelaksanaan lima strategi tersebut akan membuat risiko global dapat dicegah sedini mungkinNamun di satu sisi, kondisi keuangan pada kuartal 1 2017 masih menunjukkan kinerja positif.

  • PERBANKAN
    • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menargetkan untuk menjaga penyaluran kredit di level 12%-14% sepanjang 2017. Pertumbuhan ini hampir sama dengan 2016 sebesar 13,8% di angka Rp635,3 triliun, mengingat rasio likuiditas atau LDR perseroan yang kini sudah di level 92%. Direktur Utama BRI Suprajarto mengatakan, target pertumbuhan kredit akan dijaga karena rasio likuiditas yang sudah ketat di level 92%. Angka rasio likuiditas ini diperkirakan akan bertahan hingga akhir tahun. Perseroan melihat tidak ada masalah berarti karena masih ada opsi penerbitan surat utang atau alternatif lainnya sebagai sumber likuiditas. "Belum mengkhawatirkan. Kami bisa memperpanjang obligasi yang sudah jatuh tempo atau bisa dengan penerbitan berkelanjutan. Karena nanti bisa ditegur otoritas apabila LDR semakin tinggi," ujar dia usai MoU kerjasama dengan tujuh BUMN akhir pekan lalu di Yogyakarta.

    • PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) akan menyiapkan layanan perbankan elektronik di lingkungan Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan. Pada tahap awal, Bank Mandiri menempatkan 49 Mini ATM untuk pembayaran kepabeanan dan cukai di kantor-kantor Pelayanan Bea dan Cukai yang telah ditunjuk Ditjen Bea dan Cukai. Di samping itu, Bank Mandiri juga telah menambahkan fitur pembayaran cukai, pajak ekspor dan impor dan kepabeanan pada alat pembayaran non tunai Mandiri. Fasilitasnya yakni melalui layanan Mandiri Mobile, Internet Mandiri, Mandiri ATM dan call center 14000. Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah terkait transaksi non tunai (cashless) di seluruh kementerian dan lembaga. Lebih jauh lagi dapat meningkatkan penerimaan negara. “Layanan ini merupakan implementasi komitmen perseroan untuk semakin memudahkan masyarakat melakukan pembayaran cukai, pajak ekspor dan impor atau biaya lain terkait kepabeanan sehingga dapat mendukung upaya pemerintah menggenjot penerimaan negara,” ujarnya di Jakarta, Jumat (26/5/2017).

    • Ulasan :

      Masalah likuiditas yang ketat sedang dihadapi semua perbankan saat ini. Namun secara fundamental ekonomi nasional masih tetap menjanjikan. Faktor pendorong lainnya adalah suku bunga acuan yang tidak berubah cukup melegakan perbankan.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.