Pekan Keempat April 2017

28 april 2017

Kategori : IR Weekly Review


  • MAKRO
    • Pemimpin keuangan global yang tergabung Dana Moneter Internasional atau International Monetery Fund (IMF) serta Bank Dunia telah berjanji untuk melawan kebijakan perdagangan proteksionisme. Hal ini sesuai dengan catatan usai penutupan acara World Bank - IMF Spring Meetings 2017 di Washington DC Amerika Serikat. Seperti dilansir BBC, Selasa (25/4/2017) pernyataan IMF juga menerangkan bahwa anggota mereka bakal bekerja sama untuk mengurangi ketidakseimbangan perdagangan global lewat kebijakan yang tepat. Komentar ini menyusul kebijakan Presiden AS Donald Trump yang berencana mengurangi defisit perdagangan AS lewat kebijakan proteksionisme. Bahkan sebelumnya telah mengancam bakal menerapkan tarif tinggi kepada negara-negara yang mencetak surplus perdagangan dengan AS, di sini termasuk China dan Jerman. Kebijakan ini diyakini sebagai langkah agresif pertama yang pernah dilakukan Amerika. Pada awal pekan, IMF sempat memperingatkan langkah proteksionisme bisa menjadi beban pertumbuhan ekonomi globak.

    • Bank sentral Jepang (BoJ) pada Kamis memutuskan untuk mempertahankan kebijakan moneter saat ini tak berubah, meskipun data konsumsi baru-baru ini melemah, sementara menunda lagi target untuk mencapai tujuan inflasi dua persen. Setelah pertemuan kebijakan dua hari, sembilan anggota Dewan Kebijakan bank sentral memutuskan untuk mempertahankan kebijakan moneter saat ini, suku bunga deposito negatif 0,1 persen dan 80 triliun yen (730 miliar dolar AS) target uang primer. Bank mempertahankan penilaian perekonomian domestik sebelumnya, mengatakan ekonomi "telah melanjutkan tren pemulihan moderatnya", meskipun data ekspor dan produksi baru-baru ini melemah. Sementara itu, BoJ menurunkan prospek inflasi, memproyeksikan harga konsumen naik 0,5 persen dalam tahun fiskal ini dan 1,7 persen pada tahun fiskal 2017, dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya masing-masing peningkatan 0,8 persen dan 1,8 persen. Bank sentral mendorong kembali tanggal target untuk menaikkan tingkat inflasi menjadi dua persen, kali ini enam bulan, dan mengharapkan untuk memenuhi target pada tahun fiskal 2017.

    • Ulasan :

      Kebijakan ini dinilai memiliki beberapa kelemahan, yang pertama kebijakan tersebut dapat menyebabkan inefisiensi ekonomi, yang kedua jika pelaksanaan kebijakan proteksionisme dilakukan melalui subsidi, maka akan terjadi penambahan pengeluaran pemerintah yang diambil dari anggaran negara.

  • MIKRO
    • Bank Indonesia (BI) melakukan penyempurnaan pengaturan Giro Wajib Minimum (GWM) Primer dalam Rupiah. GWM Primer dalam Rupiah yang sebelumnya ditetapkan sebesar 6,5% dari Dana Pihak Ketiga (DPK) dalam Rupiah dan pemenuhannya dilakukan secara harian, disesuaikan menjadi GWM yang wajib dipenuhi secara harian sebesar 5% dari DPK dalam Rupiah dan GWM yang wajib dipenuhi secara rata-rata sebesar 1,5% dari DPK dalam Rupiah selama periode tertentu. Penyempurnaan pengaturan tersebut dituangkan dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.19/6/PBI/2017 tentang Perubahan Kelima Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/15/PBI/2013 tentang Giro Wajib Minimum Bank Umum dalam Rupiah dan Valuta Asing Bagi Bank Umum Konvensional. "Pengaturan mengenai GWM yang kemudian disebut sebagai GWM rata-rata tersebut merupakan best practice pengaturan yang telah dipraktikkan oleh hampir seluruh bank sentral dunia. Dan pemenuhan GWM rata-rata berlaku sejak 1 Juli 2017," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara di Jakarta, Jumat (28/4/2017).

    • Perkembangan industri keuangan syariah secara umum hingga Februari 2017 terus mengalami peningkatan khususnya di industri keuangan non bank syariah. Pasar modal syariah berkontribusi paling besar dalam aset keuangan syariah dengan nilai Rp451,2 triliun, yang terdiri dari sukuk korporasi Rp11,75 triliun, reksa dana syariah Rp16,20 triliun dan sukuk negara Rp423,29 triliun. Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) 1 OJK Edi Setiadi mengatakan, perbankan syariah menyumbang kontribusi 40% dengan total aset Rp355,88 triliun, sementara asuransi syariah sebesar Rp34,28 triliun. Selain itu pembiayaan syariah mencapai sebesar Rp37,07 triliun dan lembaga keuangan nonbank syariah lainnya Rp18,66 triliun. "OJK akan terus berupaya mendorong pertumbuhan industri jasa keuangan syariah di Tanah Air antara lain dengan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap produk dan jasa keuangan syariah," katanya di Jakarta, Jumat (28/4/2017). Menurut dia, salah satu upaya mendukung pertumbuhan industri jasa keuangan syariah dan sejalan dengan Kampanye Aku Cinta Keuangan Syariah (ACKS) yang diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) pada 14 Juni 2015.

    • Ulasan :

      Bank Indonesia mengimplementasikan system GWM Primer rata-rata sebagai langkah lanjutan dari Reformulasi Kerangka Operasional Kebijakan Moneter untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter. Diyakini bahwa GWM rata-rata mampu memberikan fleksiilitas likuiditas bagi bank dan menjadi interest rate buffer di pasar uang.

  • PERBANKAN
    • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk pada kuartal pertama 2017, mengantongi total pendapatan Rp18,68 triliun atau naik sebesar 8,4% dibandingkan tahun lalu periode yang sama. Sehingga laba bersih (setelah pajak) perseroan pada kuartal pertama 2017 mencapai Rp4,1 triliun, atau meningkat 6,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp3,8 triliun. Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengatakan kenaikan laba bersih pada kuartal pertama tahun ini disebabkan oleh mulai membaiknya pertumbuhan ekonomi, setelah sebelumnya selama 4 kuartal, perseroan mencatatkan range pertumbuhan negatif. "Kuartal pertama kami mulai melihat adanya pemulihan kinerja dan bisa kembali ke trek normal setelah empat kuartal kami mengalami pertumbuhan negatif. Tahun lalu ada tekanan berat di NPL (non performing loan), sehingga berdampak ke pencadangan yang tinggi," ujarnya di Plaza Mandiri, Jakarta, Selasa (25/4/2017) Sementara itu, untuk aset pada kuartal pertama tahun ini mencapai Rp1.034,3 triliun atau naik 14,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp906,7 triliun. Meski demikian, rasio kredit bermasalah atau NPL Bank Mandiri hingga Maret 2017 mengalami kenaikan mencapai 3,98%. Sementara NPL periode yang sama tahun lalu hanya 3,18%.

    • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menggulirkan bantuan dana yang akan digunakan untuk perbaikan sarana penunjang pendidikan dengan total bantuan Rp5 miliar di beberapa pulau terluar yang tersebar di seluruh Nusantara. Selain bantuan dana pembangunan sarana fisik, Bank BRI juga menyalurkan bantuan berupa 150 unit buku sekolah dasar ke tiap-tiap sekolah, dengan total anggaran mencapai Rp200 juta.  "Sementara untuk para siswa yang berprestasi dari masing-masing kelas juga ikut mendapatkan apresiasi berupa beasiswa tabungan Junio dan perlengkapan sekolah," kata Executive Vice President (EVP) BRI Nurullah Akhsan saat memberikan bantuan di SDN 7 Simeulue Timur dan SDN 12 Teupah Barat, Sinabang, di Nangroe Aceh Darrusalam, Rabu (3/5/2017). Di kesempatan yang sama, para siswa SD juga diberikan pengetahuan terkait keuangan dalam lingkup yang sederhana. Menurut dia, ini merupakan upaya Bank BRI menyukseskan program yang digagas oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk meningkatkan indeks literasi keuangan. Selain mendapatkan materi, para siswa SD juga mendapatkan buku literasi keuangan serta alat peraga untuk memudahkan mereka dalam memahami seluk beluk keuangan.

    • Ulasan :

      Salah satu penyebab kenaikan laba bersih Mandiri adalah membaiknya pertumbuhan ekonomi, serta pulihnya kinerja Mandiri sehingga bisa kembali ke trek normal setelah sebelumnya mengalami pertumbuhan negatif.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.