Pekan Keempat April 2015

01 mei 2015

Kategori : IR Weekly Review


  • MACRO
    • Harga minyak dunia kembali mengalami kenaikan pada Kamis (Jumat pagi WIB, 1/5/2015), setelah data menunjukkan persediaan minyak mentah AS yang berlimpah mulai berkurang ketika dolar melemah terhadap euro. Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni naik US$ 1,05 menjadi ditutup pada US$ 59,63 per barel di New York Mercantile Exchange.
    • International Monetary Fund (IMF) dalam pernyataan resminya pada hari Rabu (29/4/2015) menyatakan bahwa Indonesia tidak memiliki utang terhadap lembaga tersebut sebesar 2,8 miliar dolar AS, sebagaimana yang sedang banyak dibicarakan belakangan ini. Posisi kewajiban tersebut bukan merupakan utang kepada IMF dalam bentuk pinjaman yang selama ini dikenal, namun kewajiban tersebut adalah alokasi SDR (special drawing rights) yang timbul sebagai konsekuensi keanggotaan IMF.
    • Tingkat paritas tengah nilai tukar mata uang China renminbi atau yuan, menguat 11 basis poin menjadi 6,109 terhadap dolar AS, Selasa (28/04/2015). Demikian menurut Sistem Perdagangan Valuta Asing China.
    • Kawasan Uni Eropa berhasil keluar dari jurang deflasi. Data resmi menunjukkan, tingkat inflasi di 19 negara Uni Eropa mencapai 0% di bulan April 2015, naik dari       - 0,1% pada bulan Maret lalu. Tingkat inflasi di sektor jasa berada tercatat sebesar 0,9%. Sementara, kenaikan harga makanan di bulan April tercatat 0,3%. Begitu pula dengan harga alkohol dan tembakau naik 0,9%. Meski berhasil lolos dari himpitan deflasi, Uni Eropa masih dibayangi oleh rendahnya biaya energi. Harga energi di zona euro turun 5,8% pada bulan April 2015. Di bulan sebelumnya, biaya energi di Uni Eropa turun 6%. Bank Sentral Eropa mengklaim, kebijakan moneter yang diambil telah mendorong inflasi.
    • Ulasan :
      Persediaan minyak mentah merupakan faktor dominan terhadap fluktuasi nilai tukar mata uang di dunia khususnya dolar AS, namun hal tersebut tidak berlaku buat sebagian negara lain yang memiliki komoditas alternatif.
  • MICRO
    • Rencana BI mengeluarkan aturan perluasan cakupan definisi simpanan dengan memasukkan surat-surat berharga yang diterbitkan bank dalam perhitungan LDR, akan mendorong pertumbuhan kredit ke 17%. Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo optimis, kredit yang ditargetkan tumbuh diperkirakan bakal tercapai. Menurutnya, penurunan tekanan kenaikan suku bunga kredit dan semakin membaiknya kondisi kecukupan modal menjadi pendorong utama semakin optimisnya pertumbuhan kredit di 2015.
    • Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta, Senin (27/04/2015) sore, bergerak melemah sebesar 78 poin. Rupiah menjadi Rp 12.973 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp 12.895 per dolar AS..
    • Menteri Perdagangan Rachmat Gobel akan memimpin delegasi misi dagang ke beberapa negara di Eropa seperti Denmark, Italia, dan Polandia yang berlangsung pada 29 April hingga 4 Mei 2015. Penetrasi dagang ini dilakukan melalui diplomasi, promosi, dan investasi perdagangan.
    • Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bensin merupakan komoditas yang memberikan andil atau menyumbang inflasi terbesar pada April 2015. "Bensin menyumbangkan inflasi 0,22 persen. Kenaikan harga BBM jenis premium pada 28 Maret 2015 lalu masih berimbas ke April," kata Kepala BPS Suryamin saat jumpa pers di Jakarta, Senin (4/5/2015).
    • Neraca perdagangan Indonesia pada periode Maret 2015 mencatat peningkatan surplus menjadi US$ 1,13 miliar dari surplus US$ 0,66 miliar pada bulan sebelumnya. Pencapaian tersebut terutama ditopang oleh meningkatnya surplus pada neraca non migas. sebesar US$ 1,41 miliar, meningkat dibanding bulan sebelumnya yang mencatat surplus US$ 0,63 miliar. Peningkatan surplus tersebut didorong oleh ekspor non migas yang naik 12,5% (mtm) menjadi US$ 11,72 miliar, terutama pada ekspor bahan bakar mineral (23,6%; mtm), lemak dan minyak hewan/nabati (9,0%; mtm), perhiasan/permata (24,2%; mtm), kayu dan barang dari kayu (33,3%; mtm) serta mesin/peralatan listrik (10,0%; mtm).
    • Ulasan :
      Peningkatan ekspor dalam negeri melalui diplomasi, promosi dan investasi perdagangan adalah salah satu upaya dalam mengatasi permasalahan stabilitas perekonomian dan nilai tukar rupiah. 
  • BANKING
    • Direktur Utama Bank Mandiri, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, hingga Maret 2015 NPL gross tercatat meningkat menjadi 2,27% atau lebih tinggi bila dibandingkan NPL tahun sebelumnya di periode yang sama yakni sebesar 2,07%. Sementara NPL nett juga mengalami kenaikan dari 0,67% menjadi 0,89% di kuartal I 2015. Meningkatnya NPL Bank Mandiri, lebih banyak disumbangkan oleh sektor kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan konsumer. “Di small business dan consumer banking bisa di atas 200 basis poin (bps), small bussiness naik 300 bps, consumer banking 160 bps,” ujarnya di Jakarta, Jumat, 24 April 2015.
    • PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mematok tingkat marjin bunga bersih (NIM) di level 6-6,1% pada tahun ini, ujar Direktur Utama BNI, Achmad Baiquni di Gedung BNI, Jakarta, Kamis, 23 April 2015. Lewat NIM tersebut, perseroan optimis tingkat profitabilitas tetap terjaga. Posisi NIM mendukung raihan pendapatan bunga bersih BNI, yang meningkat 15,3% secara setahunan dari Rp 5,29 triliun menjadi   Rp 6,09 triliun per Maret tahun ini.
    • PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mencetak laba bersih sebesar Rp 402 miliar pada triwulan satu 2015, naik 17,90% dibanding Rp341 miliar pada triwulan satu tahun lalu. Hal tersebut dipaparkan oleh Direktur Utama BTN, Maryono di Menara BTN, Jakarta, Senin, 27 April 2015. Menurutnya, perseroan mampu mencatatkan pendapatan bunga bersih sebesar Rp1,55 triliun, tumbuh 8% dari Rp1,44 triliun.
    • Perolehan laba bersih PT CIMB Niaga Tbk Per akhir Maret 2015, hanya sebesar Rp 83 miliar. Jumlah tersebut anjlok drastis sampai 92,4% dibanding perolehan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,09 triliun. Dari sisi kredit bermasalah (NPL), secara gross perseroan mencatat kenaikan paling besar terjadi di segmen korporasi dari 3,9% pada Maret 2014, menjadi 7,9% pada Maret 2015. Segmen komersial juga mengalami kenaikan cukup besar dari 1,8% menjadi 3,5%.
    • Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Asmawi Syam menyatakan pihaknya akan menjaga level marjin bunga bersih (net interest margin/NIM) pada kisaran 7,7-8 persen sepanjang tahun 2015. Pada triwulan I-2015, marjin bunga bersih BRI memang menurun apabila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 9,06 persen menjadi 7,57 persen. Asmawi menuturkan, melalui strategi BRILink (branchless banking) yang menargetkan 50.000 agen pada tahun ini, akan dapat membantu menaikkan marjin perseroan.
    • Ulasan :
      Bank perlu melakukan review secara berkala terhadap kinerjanya, terutama ekspansi di sektor perkreditan yang dianggap memiliki andil terbesar terhadap peningkatan laba dalam bisnis perbankan.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.