Pekan Kedua Juni 2017

16 juni 2017

Kategori : IR Weekly Review


  • MAKRO
    • The Fed mengalami kenaikan suku bunga seperempat poin dan diperkirakan pekan ini akan berdampak pada jutaan peminjam. Dampak ini akan banyak dirasakan di antaranya akan merasa sulit melakukan pembayaran bulanan pada kartu kredit dan jenis hutang lainnya yang akan menjadi lebih mahal. Meskipun mungkin tidak terdengar banyak di atas kertas, langkah yang diantisipasi Federal Reserve pada hari Rabu untuk menaikkan target suku bunga acuan hingga seperempatnya akan memiliki konsekuensi. Perusahaan jasa informasi keuangan TransUnion menemukan bahwa ketika Fed melakukan langkah serupa kembali pada bulan Desember 2016, sekitar 8,6 juta konsumen tidak dapat mengantisipasi dampak tersebut. Meskipun langkah tersebut menelan biaya rata-rata pemegang utang hanya US$18 per bulan, namun "menimbulkan tantangan finansial bagi jutaan konsumen" dalam tiga bulan setelahnya terjadi.

    • Perekonomian Jepang tumbuh lebih lambat daripada perkiraan awal dalam tiga bulan pertama tahun ini, berdasarkan data resmi yang direvisi pemerintah. Produk domestik bruto (PDB) berekspansi 1% secara tahunan pada kuartal pertama. Angka ini lebih rendah dari data awal dengan pertumbuhan sebesar 2,2%. Pelemahan data ekonomi daripada yang diharapkan, disebabkan karena penurunan tak terduga persediaan minyak mentah dan konsumsi swasta, Jumat (9/6/2017). Meski begitu investasi bisnis meningkat sebesar 0,6% dibandingkan dengan prediksi sebelumnya pada kuartal pertama 0,2%. Tingkat konsumsi swasta, yang berkontribusi sekitar 60% dari PDB, naik 0,3% atau lebih kecil dari data pendahuluan untuk kenaikan 0,4%. Sedangkan persediaan swasta berkurang 0,1 persentase poin dari pertumbuhan kuartalan atau lebih kecil dari angka pendahuluan dengan kenaikan 0,1 poin persentase.

    • Ulasan :

      Pertumbuhan ekonomi ialah proses kenaikan output perkapita yang terus menerus dalam jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi tersebut merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan kondisi utama atau suatu keharusan bagi kelangsungan pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan.

  • MIKRO
    • Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo memproyeksi, inflasi Juni akan berkisar 4,17 persen atau lebih baik dibandingkan bulan lalu. Sebelumnya, inflasi Mei 2017 tercatat 4,33 persen secara tahunan (year on year/yoy). "Kami harap, ke depan, (inflasi) akan terus terkendali dan kami sambut langkah-langkah koordinasi dengan pemerintah daerah untuk meyakinkan harga pangan terkendali," tutur Agus di Kantor BI, Jumat (9/6/2017). Saat ini, lanjut dia, satuan tugas (satgas) pangan bersama pihak kepolisian telah berupaya untuk menjaga distribusi pangan dan mencegah spekulasi dari pasokan. Di sisi lain, dampak penyesuaian tarif listrik 900 Volt Ampere (VA) terhadap inflasi diperkirakan berakhir pada Juni ini. Apabila nantinya pemerintah kembali melakukan penyesuaian harga yang diatur pemerintah (administered price), maka harga pangan bergejolak harus dijaga untuk meredam potensi kenaikan inflasi.

    • LPS juga telah menerbitkan Peraturan LPS (PLPS) sebagai turunannya pada tahun ini sebagai tindak lanjut berlakunya UU Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan. Ketiga PLPS tersebut adalah PLPS Nomor 1 Tahun 2017 tentang Penanganan Bank Sistemik Yang Mengalami Permasalahan Solvabilitas. Kemudian PLPS Nomor 2 Tahun 2017 tentang Penyelesaian Bank Selain Bank Sistemik yang Mengalami Permasalahan Solvabilitas Dan PLPS Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pengelolaan, Penatausahaan, Serta Pencatatan Aset dan Kewajiban Dari Penyelenggaraan Program Restrukturisasi Perbankan. "Selain menerbitkan PLPS, persiapan LPS melaksanakan mandat baru tersebut juga dengan melakukan tranformasi dalam organisasi LPS, serta program peningkatan kompetensi SDM seperti yang diamanahkan dalam UU," ujar Direktur Eksekutif Klaim dan Resolusi Bank LPS Ferdinan Purba di Jakarta, Kamis (8/6/2017).

    • Ulasan :

      Inflasi sebagai suatu gejala kenaikan harga barang secara umum dapat berfungsi sebagai penanda apabila terjadi instabilitas pada suatu perekonomian. Pengendalian angka inflasi merupakan salah satu jalan dalam menekan atau mengatasi terjadinya krisis, dalam artian ketika terjadi krisis pemerintah dapat melakukan penekanan angka inflasi melalui berbagai instrumen kebijakan.

  • PERBANKAN
    • PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) bakal menerbitkan surat utang dalam bentuk obligasi senilai maksimal Rp3 triliun dengan tenor lima tahun. Obligasi tersebut menawarkan kupon 7,7 persen sampai 8,2 persen. Adapun sebagai pembanding, imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) bertenor 5 tahun berdasarkan data Penilai Harga Efek Indonesia (IBPA) pada hari ini, Rabu (7/6/2017), berada di level 6,76 persen,turun dibandingkan kemarin 6,77 persen. Direktur Tresuri dan Internasional BNI Panji Irawan mengungkapkan, penerbitan surat utang tersebut merupakan upaya perseroan dalam melakukan diversifikasi sumber pendanaan. Penerbitan obligasi tersebut merupakan tahap pertama dari rencana Penerbitan Obligasi Berkelanjutan I BNI Tahun 2017 sebesar Rp10 triliun.

    • PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk akan mengembangkan anak perusahaan PT Danareksa (Persero) yang bergerak di bidang investasi dan multifinance melalui pemanfaatan sinergi badan usaha milik negara (BUMN). "Prosesnya akan kami lakukan setelah mendapatkan izin dari Kementerian (BUMN) dengan cara dibarengkan dengan holdingisasi. Danareksa jadi induk dari holding sementara anak perusahaannya salah satu dikelola oleh BTN," kata Direktur BTN R. Mahelan Prabantarikso di Menara BTN, Jakarta, Senin (12/6/2017). Terkait dengan bisnis multifinance, Ia mengatakan akan menyasar masyarakat berpenghasilan antara rentang Rp2 juta dan Rp3 juta. "Potensinya ada 6 juta orang. Mereka kebanyakan non-bankable, sehingga ada saatnya bisa pakai multifinance," ucap Mahelan.

    • Ulasan :

      Keputusan untuk menerbitkan obligasi dibandingkan memilih metode lain dalam mendapatkan uang dapat didorong oleh banyak faktor. Membandingkan fitur dan manfaat dari obligasi dibandingkan metode umum lainnya dalam mengumpulkan uang memberikan beberapa wawasan atas alasan perusahaan sering menggunakan penerbitan obligasi ketika mereka butuh untuk mendapatkan uang tunai guna membiayai kegiatan atau operasional perusahaan.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.