Pekan Kedua Januari 2017

13 januari 2017

Kategori : IR Weekly Review


  • MAKRO
    • Bank Dunia memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini bisa mencapai 5,3 persen. Angka tersebut melebihi proyeksi 2016 sebesar 5,1 persen dan bahkan lebih tinggi dari target pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 yaitu 5,1 persen. Lembaga keuangan multinasional itu memprediksi pertumbuhan yang lebih baik ini akan didukung oleh investasi swasta yang lebih besar, karena adanya pelonggaran kebijakan moneter pada tahun lalu serta reformasi iklim investasi yang berlanjut. Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo Chaves  mengatakan, layaknya negara-negara lain di dunia, Indonesia masih harus mengahadapi berbagai risiko global yang makin intensif. Seperti ketidakpastian kebijakan ekonomi, gejolak finansial hingga masalah geopolitik di beberapa negara. (17/1/2017).

    • Pendiri dan Ketua Eksekutif Forum Ekonomi Dunia (WEF) Klaus Martin Schwab mengatakan pertumbuhan ekonomi global sekitar 3% tidak cukup untuk memecahkan tantangan terbesar di dunia. Schwab, ekonom asal Jerman berusia 78 tahun, ingin agar pertemuan Davos yang diselenggarakan pada 17-20 Januari mendatang, fokus untuk membahas kepentingan ekonomi dan sosial di dunia. “Tanpa pembangunan ekonomi, kemajuan sosial tidak mungkin terjadi. Dan tanpa kemajuan sosial, pembangunan ekonomi tidak berkelanjutan,” ujarnya seperti dilansir Rabu (11/1/2017). Ia pun menambahkan bahwa kegiatan ekonomi harus selalu dibarengi dengan tanggung jawab sosial. Pria yang mendirikan WEF pada 1971 ini, memperingatkan bahwa kebijakan populis yang dilakukan para kepala negara dan kepala pemerintahan saja tidak cukup dalam mengatasi permasalahan global.

    • Ulasan :

      Quantitative Easing adalah seperangkat kebijakan moneter yang dilakukan untuk mendorong perekonomian pada saat tingkat suku bunga sudah mendekati nol persen. Ini dimaksudkan sebagai upaya pamungkas ketika menghadapi risiko deflasi.

  • MIKRO
    • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan layanan keuangan berbasis teknologi (fintech) pinjam meminjam bebas dari penyalahgunaan, baik dari pelaku usaha fintech itu sendiri, kreditur, maupun debiturnya. Peneliti Eksekutif Senior OJK Hendrikus Passagi mengatakan, fintech dengan platform pinjam meminjam cukup aman dari penyalahgunaan. Karena, ada empat langkah yang harus dilalui untuk memperoleh layanan ini. Pertama, mendaftarkan diri, baik bagi pihak pemberi pinjaman dan penerima pinjaman. Kedua, layanan berupa virtual account untuk kreditur. "Nah, di fase ini ada virtual account. Ini terkait layanan perbankan, layanan peminjaman tidak akan berjalan, jika seleksi di sana tidak berhasil," ujar Hendrikus, Selasa (10/1/2017).

    • Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menahan tingkat bunga penjaminan untuk simpanan dalam bentuk rupiah dan valuta asing (valas) di bank umum serta simpanan dalam rupiah di Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Untuk bunga penjaminan simpanan dalam bentuk rupiah dipatok sebesar 6,25 persen, sedangkan dalam bentuk valas sebesar 0,75 persen. Adapun untuk simpanan rupiah di BPR bunga penjaminannya ditetapkan sebesar 8,75 persen. Kepala Eksekutif LPS Fauzi Ichsan mengungkapkan, keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan kondisi terkini suku bunga simpanan di perbankan. Menurut dia, kondisi ekonomi makro dalam negeri secara umum dipandang masih stabil, meski terdapat kenaikan bunga simpanan selama beberapa pekan terakhir tahun lalu yang mengindikasikan adanya pengetatan likuiditas di perbankan. (12/1/2017)

    • Ulasan :

      Keberadaan Fintech bertujuan untuk membuat masyarakat lebih mudah mengakses produk-produk keuangan, mempermudah transaksi  dan juga meningkatkan literasi keuangan. Fintech berpotensi besar untuk melebarkan jaringan bank konvensional.

  • PERBANKAN
    • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk membidik pertumbuhan kredit sebesar 13 persen tahun ini ketimbang tahun sebelumnya yang diproyeksikan mencapai 11 persen. "Tahun lalu, sekitar 10 persen-11 persen. Pada 2017, kami optimistis, bisa tumbuh 13 persen," ujar Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo, akhir pekan lalu. Sebagai strategi, bank pelat merah tersebut akan menggerakkan kredit/pembiayaan infrastruktur sebagai mesin utama pertumbuhan kredit. Selanjutnya, perseroan juga mengincar pertumbuhan kredit konsumer melalui kredit ritel, seperti kredit pemilikan rumah (KPR)."Kalau untuk konsumer, khususnya di lini bisnis KPR, meningkat tajam. Mikro juga masih bagus, dan rasio kredit bermasalahnya (nonperforming loan/NPL) terkendali," katanya. (9/1/2017)

    • PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) akan memprioritaskan transformasi bisnis perseroan berbasis digital banking guna mendukung core business-nya dalam mendorong pemenuhan program sejuta rumah. Langkah ini dilakukan perseroan sekaligus untuk memperbaiki proses bisnis agar dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat lebih baik dan cepat. Persaingan perbankan saat ini begitu hebat. "Kami harus dapat masuk dalam era persaingan itu dan BTN siap menyambut persaingan dengan bisnis perseroan yang sudah disiapkan berbasis digital banking," kata Direktur Utama Bank BTN Maryono dalam rilisnya di Jakarta, Senin (16/1/2017).

    • Ulasan :

      Perkembangan perbankan semakin terfokus pada penyaluran kredit UKM, mikro, dan konsumer. Alasannya adalah perbankan mendapatkan margin bunga yang cukup besar dibandingkan dengan kredit korporasi. Dengan risiko yang lebih tinggi, maka pada umumnya perbankan tidak terlalu memfokuskan aliran kredit ke korporasi. Maka dari itu, perbankan akan semakin memperluas jangkauan mereka ke UKM dan usaha mikro.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.