Pekan Kedua Februari 2017

10 februari 2017

Kategori : IR Weekly Review


  • MAKRO
    • Bank Dunia mengemukakan bahwa penerapan investasi berkelanjutan di negara-negara berpenghasilan menengah dan rendah dapat mendongkrak sektor pertanian dan meningkatkan kesejahteraan para petani di berbagai belahan dunia. "Investasi yang berkelanjutan dan inklusif di sektor pertanian dan pangan menciptakan pekerjaan di sawah, pasar, kota, dan desa sampai sepanjang rantai makanan produksi makanan,” ujar Preeti Ahuja, Manajer Praktik Global Pangan dan Pertanian Bank Dunia, Selasa (14/2/2017). Menurut dia, hal tersebut juga termasuk salah satu kunci dalam memerangi kemiskinan ekstrim serta menyebarkan kesejahteraan secara merata. Bank Dunia yang baru-baru ini juga telah mengeluarkan laporan terkini bertajuk "Enabling the Business of Agriculture (EBA) 2017 Report” menyebutkan, banyak negara sangat berorientasi secara komersial terhadap sektor pertanian.

    • Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), Janet Yellen, tidak akan menaikan suku bunga acuan atau Fed Rate. Seperti diketahui, Janet Yellen dijadwalkan menggelar pengumuman hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 14 Februari waktu AS atau 15 Februari dini hari waktu Indonesia. Di awal tahun ini, The Fed dipercaya tak gegabah karena masih menunggu realisasi rencana kebijakan Presiden AS yang baru, Donald Trump. The Fed diyakini bakal menaikkan suku bunga dari 0,75 persen ke 1,00 persen paling cepat selama pertemuan FOMC Mei mendatang. "Mungkin belum agresif, mungkin sekitar di kuartal II. Presidennya sendiri juga masih baru, akan ada penyesuaian terlebih dahulu. Paling cepat sih sekitar Mei atau Juni," ujar Direktur PT Bank Mandiri Tbk Hary Gunardi, Selasa (14/2/2017).

    • Ulasan :

      Kondisi perekonomian global masih dipenuhi oleh ketidakpastian. Tak hanya berasal dari AS, risiko pasar keuangan dunia juga meningkat akibat rencana pemilihan umum kepala negara di beberapa negara Eropa seperti Perancis dan Italia.

  • MIKRO
    • Bank Indonesia Agus D.W Martowardojo menyebut, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2016 dengan angka 5,02 persen. dinilai masih cukup baik jika dibandingkan dengan negara-negara di dunia lainnya yang hanya tumbuh 1-2 persen bahkan negatif. "Kita mensyukuri di tahun 2016 kita bisa menjaga pertumbuhan ekonomi sebesar 5,02 persen. Begitu banyak negara yang ekonominya tumbuh tidak dengan baik. Bahkan harus mengalami pertumbuhan ekonomi yang minus. Kita berbangga bahwa tingkat inflasi bisa kita jaga dengan baik," ujar Agus dalam acara Presidential Lecture di BI Institute, Senin (13/2/2017). Tahun 2016 lalu, kondisi inflasi di Indonesia mencapai 3,02 persen lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun 2015 yang sebesar 3,35 persen. Selain inflasi, kondisi neraca pembayaran Indonesia juga mengalami surplus hingga US$12 miliar dengan defisit transaksi berjalan mencapai 0,8 persen di kuartal IV 2016. Serta cadangan devisa yang mencapai US$116,9 miliar hingga akhir 2016.

    • Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto optimistis perekonomian Indonesia tahun ini bisa melaju lebih kencang dan mencapai target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 sebesar 5,1 persen. Meskipun realisasi pertumbuhan ekonomi 2016 hanya menyentuh 5,02 persen, dibawah target APBNP sebesar 5,2 persen."Kita harapkan ke depannya pertumbuhan ekonomi ke depan menjadi semakin kuat," tutur Suhariyanto dalam konferensi pers di kantornya, Senin (6/2/2017). Menurut Suhariyanto, keyakinan tersebut didasarkan pertumbuhan ekonomi 2016 secara year on year (yoy) lebih tinggi dibanding capaian laju ekonomi 2015 sebesar 4,88 persen. Pria yang akrab disapa Ketjuk ini mengakui pertumbuhan ekonomi sepanjang kuartal IV 2016 hanya mencapai 4,94 persen (yoy) atau lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya, 5,01 persen.

    • Ulasan :

      Pertumbuhan ekonomi yang positif tersebut bisa dicapai berkat Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang berkualitas. Menurutnya untuk membentuk SDM yang berkualitas di Indonesia, pemerintah dan pemangku kebijakan lainnya tidak bisa hanya mengandalkan intelijensi, kompetensi dan kapasitas masyrakat. Pembangunan integritas dan karakter juga menjadi kunci untuk membentuk SDM yang bisa diandalkan untuk membangun negara.

  • PERBANKAN
    • PT Bank Mandiri Tbk (Persero) harus menelan penurunan laba bersih hingga 32,1 persen dari Rp20,3 triliun tahun 2015 menjadi Rp13,8 triliun tahun 2016 sepanjang tahun lalu.  Direktur Utama Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengatakan penurunan laba tersebut terjadi akibat perseroan harus menyisihkan biaya pencadangan akibat angka kredit macet yang tinggi. Pasalnya, tahun lalu Bank Mandiri harus menanggung tekanan akibat jatuhnya harga komoditas yang menyeret para nasabah segmen komersialnya ke kondisi sulit bayar. Secara total angka rasio kredit bermasalah (NPL) gross Bank Mandiri pada akhir tahun lalu menembus 4 persen, naik 1,4 persen jika dibandingkan dengan NPL tahun 2015 yang mencapai 2,5 persen. (14/2/2017)

    • PT Bank Tabungan Negara Tbk (Persero) akan tetap mengandalkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebagai fokus utama bisnis perseroan tahun ini. Peningkatan KPR juga dilakukan sejalan dengan komitmen BTN mendukung Program Sejuta Rumah yang diinisiasi oleh Presiden Joko Widodo. Pada tahun ini, Direktur Utama BTN Maryono menargetkan, penyaluran pinjaman akan naik sebesar 21 persen hingga 23 persen. Untuk Dana Pihak Ketiga (DPK), perseroan membidik pertumbuhan 22 persen hingga 24 persen. Sejalan dengan target tersebut, BTN membidik laba bersih tumbuh di atas sekitar 20 persen. Untuk memperkuat struktur pendanaan, Bank BTN pun akan meningkatkan porsi dana murah, mencari pinjaman luar negeri, dan menerbitkan surat utang serta sekuritisasi. (14/2/2017)

    • Ulasan :

      Untuk memperkuat struktur pendanaan, Bank dapat meningkatkan porsi dana murah, mencari pinjaman luar negeri, dan menerbitkan surat utang serta sekuritisasi. Penguatan dana murah dapat dilakukan dengan cara menggelar berbagai rangkaian promosi hingga undian berhadiah salah satunya melalui transformasi digital.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.