Pekan Kedua April 2017

14 april 2017

Kategori : IR Weekly Review


  • MAKRO
    • Bank Dunia menyatakan, pertumbuhan ekonomi China masih akan terus melambat hingga beberapa waktu ke depan. Ini tercermin dari dampak tindakan pemerintah untuk menurunkan kelebihan kapasitas dan ekspansi kredit. Alhasil, laporan memperkirakan pelemahan aktivitas di sektor real estate. Presiden Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik Victoria Kwakwa menyebutkan, ekonomi China akan terus melambat secara bertahap untuk ke depannya. "Hal ini seiring dengan usaha negara tersebut untuk menyeimbangkan sektor konsumsi dan jasa," jelas Victoria di Jakarta, Kamis (13/4/2017). Lebih lanjut dia menjelaskan, untuk pertumbuhan China sendiri diproyeksikan menjadi 6,5% di tahun 2017, dan 6,3% di tahun 2018. Pertumbuhan Tiongkok ini lebih lama jika dibandingkan di tahun 2016 yang berada pada level 6,7%. 

    • Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (AS) alias Federal Reserve yakni Janet Yellen menegaskan bakal fokus menjaga pertumbuhan ekonomi, dibandingkan sebelumnya pemulihan pascakrisis. Menurutnya Bank Sentral tidak lagi perlu lagi memberikan dorongan, ketika The Fed telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali dalam dekade terakhir. Terbaru Fed mendongkrak suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 0,75% sampai 1%, dalam upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun Yellen mengatakan ekonmi AS saat ini dalam kondisi sehat sehingga hanya membutuhkan sedikit bantuan dari bank sentral. Sementara Yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) bertenor 10 tahun naik menjadi 2,6% pada awal Maret 2017 dari 2,3% pada Februari 2017.

    • Ulasan :

      Kenaikan suku bunga jangka pendek harus dilakukan secara bertahap. menaikkan bunga terlalu cepat bisa berakibat pada resesi.

  • MIKRO
    • Bank Indonesia (BI) memprediksi laju pertumbuhan kredit baru akan menggeliat pada kuartal II. Hasil Survei Perbankan mengindikasikan pertumbuhan kredit baru pada kuartal I 2017 masih melambat sesuai pola historis awal tahun. Perkembangan tersebut terindikasi dari penurunan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) permintaan kredit baru dari 85,6 persen pada kuartal sebelumnya menjadi sebesar 52,9 persen pada kuartal I 2017, dan kemudian naik menjadi 98,5 persen pada kuartal II 2017.  Dalam keterangan resminya, Bank Sentral memperkirakan meningkatnya penyaluran kredit didorong oleh perkiraan kondisi ekonomi yang lebih baik, penurunan risiko penyaluran kredit dan rencana penurunan suku bunga kredit oleh bank.

    • Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memutuskan untuk kembali mempertahankan suku bunga penjaminan untuk periode 12 Januari hingga 15 Mei 2017. Tak bergesernya suku bunga penjaminan tersebut, seiring perkembangan suku bunga simpanan perbankan yang stabil dan cenderung mengalami penurunan. Adapun tingkat bunga penjaminan untuk simpanan rupiah di bank umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) tetap sebesar 6,25 persen dan 8,75 persen. Sementara itu, tingkat bunga penjaminan untuk simpanan valuta asing (valas) di bank umum tetap sebesar 0,75 persen. "Tingkat bunga penjaminan dipandang masih sejalan dengan arah perkembangan terkini suku bunga simpanan perbankan yang stabil dan cenderung mengalami penurunan disebabkan posisi likuiditas perbankan yang meningkat," ujar Sekretaris LPS Samsu Adi Nugroho dalam keterangan resmi, Kamis (13/4).

    • Ulasan :

      Kondisi fundamental ekonomi makro dalam negeri saat ini berada pada kondisi yang baik. Hal ini terlihat dari pergerakan indikator pasar keuangan yang meningkat, serta perbaikan kondisi neraca perdagangan.

  • PERBANKAN
    • PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dari Januari 2017 hingga awal April 2017, telah menyalurkan Bansos Non Tunai kepada lebih dari 28.691 Keluarga Penerima Manfaat dengan total bantuan sebesar Rp14.2 Miliar. Bantuan tersebut disalurkan pada 13 kota dan kabupaten seluruh Indonesia, di antaranya adalah Ambon, Sumbawa Barat, Merangin, Solok, Mandailing Natal, Kapuas Hulu, Tabalong, Mempawah, Sambas, Kepulauan Seribu, Batam, Tapanuli Tengah, dan Nganjuk.  "Melalui 10.643 unit kerja Bank BRI yang tersebar  di seluruh Indonesia, para penerima Bansos PKH dapat melakukan penarikan secara tunai dana bantuan tersebut," kata Sekretaris Perusahaan BRI Hari Siaga dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (15/4/2017).

    • PT Bank Negara Indonesia (BNI) ini mencatatkan rasio kredit macet atau non performing loan (NPL) yang cukup tinggi. Hingga kuartal I ini NPL gross mencapai 3%. "Kenaikan NPL itu masih merupakan bagian dari kredit lama, bukan kredit baru. Makanya perseroan melakukan restrukturisasi, ada yang sukses ada juga yang gagal," jelas Direktur Utama BNI, Achmad Baiquni di kantornya, Jakarta, Rabu (12/4/2017). Proses restrukturisasi yang paling besar, kata dia, adalah terhadap kredit macet PT Trikomsel Oke. "Untuk Trikomsel ini jumlahnya sangat besar mencapai Rp1,3 triliun. Jadi signifikan. Ada juga yang bentuknya non performing asset. Dan satu lagi perusahaan yang default sebesar Rp300 miliar. Cuma proses PKPU ini merugikan pihak bank (BNI). Karena jangka waktunya panjang dan bunganya rendah," tandas dia.

    • Ulasan :

      Lemahnya pengawasan pihak bank tersebut sangat besar kaitannya dengan penyebab NPL. Selain faktor intern bank, NPL juga bisa ditimbulkan oleh faktor luar atau ekstern. Faktor luar tersebut diantaranya adalah terjadinya inflasi dan pengaruh kurs mata uang asing.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.