Pekan Kedua April 2015

20 april 2015

Kategori : IR Weekly Review


  • MACRO
    • Harga minyak AS melonjak ke tertinggi 2015, Rabu atau Kamis (16/04/2015) pagi WIB. Itu setelah penurunan tipis dalam produksi minyak AS memicu pembicaraan bahwa pasar minyak kelebihan pasokan bisa berbalik. Kenaikan tersebut memperpanjang reli pasar menjadi hari kelima berturut-turut. Pada pagi hari, Departemen Energi AS (DoE) melaporkan produksi minyaknya turun 20.000 barel atau 0,2 persen, menjadi 9,38 juta barel per hari, di pekan yang berakhir 10 April.
    • IMF memperingatkan, risiko-risiko stabilitas keuangan telah meningkat di tengah pemulihan ekonomi global yang moderat dan tidak merata. Itu membuat lebih sulit untuk menilai serta mengatasinya setelah berotasi ke bagian-bagian sistem keuangan. "Pertumbuhan dan kebijakan moneter yang berbeda telah meningkatkan ketegangan di pasar keuangan global dan menyebabkan pergerakan cepat dan fluktuatif dalam nilai tukar dan suku bunga selama enam bulan terakhir," jelas direktur departemen moneter dan pasar modal Dana Moneter Internasional Jose Vinals.
    • Kosta Rika pada Kamis (9/4/2015) menyatakan, pihaknya telah diundang untuk memulai proses bergabung dengan Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), klub beranggotakan 34 negara industri. "Ini berita besar yang menandai sebuah tonggak dalam pembangunan kami," kata Presiden Luis Guillermo Solis, yang telah melobi untuk keanggotaan dalam kelompok elit tersebut. Negara kecil Amerika Tengah itu, yang dikenal untuk industri ekowisatanya dan langkahnya untuk menarik perusahaan-perusahaan teknologi asing, akan menjadi negara Amerika Latin ketiga di OECD, setelah Chili dan Meksiko.
    • Badan Energi Internasional (IEA) yang berbasis di Paris memotong proyeksi pasokan negara-negara non-OPEC, mengutip prospek produksi yang lebih rendah untuk AS dan Kanada serta memburuknya konflik di Yaman. Badan ini juga menaikkan perkiraannya untuk permintaan minyak 2015 sebesar 90.000 barel per hari. IEA sekarang memperkirakan konsumsi 2015 sebesar 93,6 juta barel per hari, naik 1,1 juta barel per hari untuk tahun ini.
    • Ulasan :
      Produksi yang lebih rendah serta melonjaknya harga minyak di AS, merupakan salah satu Indikator dari risiko-risiko stabilitas keuangan yang meningkat di tengah pemulihan ekonomi global yang moderat dan tidak merata.
  • MICRO
    • Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo memandang perlunya langkah-langkah penguatan terutama dari sisi mikro untuk mengatasi berbagai kerentanan di dalam negeri di tengah ketidakpastian dan gejolak ekonomi global. Kerentanan mikro pertama, lanjut Agus, yakni utang luar negeri korporasi yang masih terus meningkat, namun hanya sekitar 26 persen yang terlindung dari risiko gejolak kurs. Kedua, akumulasi modal portofolio oleh investor luar negeri pada obligasi negara yang sudah sangat besar dan dapat dengan mudah mengalir keluar serta memicu gejolak kurs.
    • Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan, dalam Global Competitiveness Index dengan aspek penilaian basic requirements, efficiency enhancers, dan innovation, Indonesia pada periode 2014 - 2015 menduduki peringkat 34. Posisi ini dirasa kurang menggembirakan, mengingat Indonesia masih di bawah negara-ASEAN lainnya seperti Singapura, Thailand dan Malaysia.
    • Posisi cadangan devisa Indonesia akhir Maret 2015 tercatat menurun 3,9 miliar dollar AS atau setara Rp50,7 triliun (kurs Rp13.000 per dollar AS), dari 115,5 miliar dollar AS pada Februari lalu menjadi 111,6 miliar dollar AS. "Penurunan posisi cadangan devisa tersebut dipengaruhi oleh peningkatan pengeluaran untuk pembayaran utang luar negeri Pemerintah dan dalam rangka stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan fundamental," kata Direktur Departemen Komunikasi BI Tirta Segara di Jakarta, Rabu (8/4/2015). Meskipun mengalami penurunan, posisi cadangan devisa per akhir Maret 2015 masih cukup membiayai 6,9 bulan impor atau 6,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
    • Pemerintah makin intensif mendorong peningkatan pemanfaatan karet alam untuk kebutuhan di dalam negeri. Sejauh ini, beberapa proyek infrastruktur menggunakan bahan baku karet, antara lain dock fender pembangunan fasilitas pelabuhan, bahan campuran aspal jalan, rubber pads rel kereta api dan bantalan jembatan, bendung karet, komponen water stop pembangunan bendungan, serta komponen pintu irigasi dan pengembangan rawa. "Selain produk yang mendukung pembangunan infrastruktur nasional, produk-produk berbasis karet alam lainnya yang dapat dikembangkan di dalam negeri yaitu karpet untuk sapi (cow mat), genteng karet, paving block, bearing bangunan antigempa, penguatan tebing, kasur lateks, dan banyak lainnya," ujar Menteri Perdagangan Rachmat Gobel.
    • Bank Indonesia memperkirakan laju inflasi pada April masih dipengaruhi oleh komoditas yang dipengaruhi kebijakan harga pemerintah (administered prices) seperti tarif angkutan umum dan Bahan Bakar Minyak (BBM). Faktor "administered prices" tersebut membuat tingkat inflasi April 2015 sementara berada pada angka perkiraan 0,35 persen-0,45 persen.
    • Ulasan :
      Utang luar negeri korporasi yang terus meningkat dan akumulasi modal portofolio oleh investor luar negeri pada obligasi negara, dapat menjadi penyebab terjadinya gejolak kurs terhadap stabilisasi nilai tukar rupiah.
  • BANKING
    • Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad mengatakan Bank Negara Indonesia (BNI) akan segera membuka kantor cabang di Korea Selatan. Perluasan kegiatan institusi perbankan nasional ini dapat terwujud karena Indonesia dan Korsel telah menyepakati kerja sama terkait peningkatan kapasitas pengawasan dan pertukaran informasi antara masing-masing otoritas keuangan kedua negara.Selain itu, ia juga mengatakan izin yang didapatkan ini juga sesuai prinsip resiprokal, dimana kedua negara sepakat untuk saling menguntungkan.
    • Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, Selasa (14/04/2015) memutuskan mempertahankan BI Rate sebesar 7,5 persen. Dengan suku bunga Deposit Facility 5,5 persen dan Lending Facility pada level 8 persen. "Keputusan tersebut sejalan dengan upaya untuk mencapai sasaran inflasi 4 plus minus 1 persen pada 2015 dan 2016, serta mengarahkan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat dalam kisaran 2,5-3 persen terhadap PDB dalam jangka menengah," jelas Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara saat jumpa pers di Jakarta, Selasa (14/04/2015).
    • Laba bersih PT Bank Danamon Tbk pada triwulan I-2015 mencapai Rp. 687 miliar, turun 21 persen (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp. 875 miliar. Chief Financial Officer dan Direktur Danamon Vera Eve Lim mengatakan, penurunan laba bersih tersebut disebabkan perlambatan pertumbuhan kredit perseroan dan juga melambatnya pertumbuhan industri otomotif.
    • Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah menerbitkan Sukuk Mudharabah pertama pada 2015 yang ditujukan untuk menunjang ekspansi bisnis. "Produk investasi terbaru dari BNI Syariah ini diluncurkan untuk mendukung ekspansi bisnis dimana harapannya dapat mengembangkan kegiatan pembiayaan syariah dan menjaga likuiditas jangka panjang," ujar Presiden Direktur BNI Syariah Dinno Indiano.
    • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk terus meningkatkan pembiayaan bagi nelayan baik melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR), maupun Kredit Ketahanan Pangan Energi (KKP-E). Hingga akhir 2014, Bank Mandiri telah memberikan kredit kepada nelayan hingga Rp1,765 triliun, tumbuh 15% dari tahun sebelumnya. Dalam penyaluran pembiayaannya, Bank Mandiri menerapkan metode pola kemitraan, dimana perseroan bekerjasama dengan perusahaan mitra (usaha mikro, kecil dan menengah / UMKM) yang menjadi penanggung/penjamin bagi nelayan binaannya. Pembiayaan diberikan antara lain kepada usaha penangkapan ikan, pembudidayaan ikan dan pengolahan ikan.
    • Ulasan :
      Bank aktif melakukan inovasi terhadap produk serta ekspansi jaringan dan mengembangkan kegiatan pembiayaan dengan tujuan menjaga likuiditas jangka panjang.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.