Pekan Pertama November 2015

09 november 2015

Kategori : IR Weekly Review


  • MAKRO
      • Ketua Federal Reserve AS Janet Yellen mengatakan Rabu, bahwa kinerja ekonomi AS tetap mantap sehingga The Fed bisa memutuskan untuk meningkatkan suku bunga pada pertemuan Desember. "Pada titik ini saya melihat ekonomi AS sebagai berkinerja baik," katanya, seperti dikutip AFP. Pengeluaran domestik tumbuh "pada kecepatan yang kuat" dan The Fed memperkirakan ekonomi akan terus tumbuh cepat, cukup untuk meningkatkan pasar tenaga kerja dan mulai mendorong inflasi ke arah yang ditarget The Fed sebesar 2,0 persen, katanya. Mengingat kondisi tersebut, dia menegaskan kembali posisi yang diambil oleh pembuat kebijakan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada pertemuan akhir Oktober. "Pernyataan kami mengindikasikan bahwa Desember akan menjadi kemungkinan awal untuk peningkatan tingkat suku bunga federal fund," katanya. Namun, dia menekankan, itu juga bergantung pada apa yang data katakan tentang prospek ekonomi AS ketika FOMC bertemu pada 15-16 Desember 2015.
      • Yuan China mundur dari level terkuat sejak melakukan devaluasi pada 11 Agustus karena kenaikan yuan pada akhir pekan lalu dipandang berlebihan di tengah masih terkontraksinya data manufaktur. Yuan melemah 0,32% menjadi 6,3378/USD pada pukul 11.35 waktu Shanghai. Sementara yuan pada Jumat lalu naik 0,62%, paling tinggi dalam satu dekade dan diperdagangkan setinggi 6,3171. Hal ini mendorong Bank Rakyat China (PBOC) meningkatkan suku bunga acuan yuan pada Senin (2/11/2015) sebesar 0,5%, lompatan terbesar sejak Juli 2005 ketika China mengakhiri pematokan USD dan mengatakan akan mengelola nilai tukar terhadap mata uang. China telah mendukung nilai tukar sejak devaluasi dengan mempromosikan penggunaan mata uangnya di pasar global dan mendorong mata uang untuk masuk dalam keranjang mata uang (SDR) Dana Moneter Internasional (IMF). Yuan melonjak pada Jumat karena bank sentral mengatakan akan mempertimbangkan program percobaan yang memungkinkan individu di zona perdagangan bebas Shanghai bisa langsung membeli aset di luar negeri dan juga obligasi berdenominasi yuan.
      • Ulasan :
        Dampak dari kenaikan Fed Rate adalah semakin menguatnya dolar, dan diprediksi melemahkan nilai tukar mata uang negara lain yang akan menyebabkan penurunan besar-besaran dana masuk ke negara berkembang. Padahal, negara berkembang tengah berjuang akibat volatilitas di pasar finansial global yang berimbas pada pelambatan ekonominya.
  • MIKRO
      • Bank Indonesia (BI) menilai perbankan dalam negeri perlu restrukturisasi untuk ambil kesepakatan bidang jasa keuangan bank di kawasan Asia Tenggara, ASEAN Banking Integration Framework (ABIF), untuk membuka cabang baru di kawasan. "ABIF ini adalah peluang, karenanya perbankan harus ambil kesempatan tersebut untuk melebarkan sayapnya ke ASEAN," kata Gubernur BI Agus Martowardojo di Jakarta, Rabu (4 November 2015). Hal tersebut dikatakan Agus, pasalnya perbankan Indonesia yang melakukan ekspansi di luar negeri belum semasif ekspansi yang dilakukan oleh industri perbankan negara ASEAN lainnya ke Indonesia seperti Malaysia dan Singapura. Singapura, kata Agus, sudah memiliki saham mayoritas pada empat bank di Indonesia yaitu Danamon, DBS, OCBC NISP, Buana dan UOB dengan total kantor cabang sekitar 2.400 kantor dengan mesin transaksi elektronik sekitar 4.800 buah. Sementara Malaysia, lanjut Agus, memiliki saham mayoritas pada dua bank di Indonesia yaitu CIMB dan Maybank BII dengan infrastruktur sejumlah 2.100 kantor cabang dan mesin ATM yang berjumlah di atas 4.000. "Sebaliknya, Indonesia hanya miliki satu bank di Singapura dengan satu ATM. Dan satu bank syariah, dua remitance office serta satu ATM di Malaysia," kata dia. Dengan perbandingan kantor cabang 1:2.000 tersebut, Agus menyatakan perlu adanya restruktirisasi karena dalam integrasi perbankan di ASEAN melalui ABIF, bank yang akan melakukan ekspansi harus memiliki kelayakan yang telah ditentukan.
      • Otoritas Jasa Keuangan menilai Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) harus menjadi salah satu prioritas dalam menyambut pasar bebas asia tenggara atau Masyarakat Ekonomi ASEAN. "Sektor ini harus menjadi perhatian dalam menyambut MEA karena kontribusi sektor UMKM mencapai 60 persen terhadap PDB nasional," kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D. Hadad di Jakarta seperti dikutip kantor berita Antara, Kamis (5/11). Akan tetapi, lanjut Muliaman, tidak hanya permodalan yang diberikan pada UMKM, tapi juga harus didukung kebijakan yang menyangkut perizinan, perpajakan, lahan, termasuk juga pentingnya edukasi keuangan. "Untuk itu, aset perbankan nasional juga perlu diperkuat sehingga dapat memberikan akses yang lebih luas kepada UMKM," ujarnya. Saat ini rasio aset perbankan terhadap PDB Indonesia hanya 55 persen, jauh di bawah negara lain seperti Filipina, Thailand, Vietnam dan Malaysia yang sudah di atas 100 persen. Untuk mendukung kredit UMKM sendiri, OJK sudah mengenalkan beberapa kebijakan seperti menyiapkan modal ventura untuk mendorong lebih banyak lagi tumbuhnya pengusaha pemula yang payung hukumnya sudah selesai difinalisasi dan akan dikeluarkan bulan November 2015.
      • Ulasan :
        Peranan UMKM dalam perekonomian nasional sangat besar, dilihat dari kontribusi UMKM terhadap lapangan kerja, pemerataan pendapatan, pembangunan ekonomi pedesaan dan sebagai penggerak peningkatan ekspor manufaktur atau non migas. Upaya pengembangan UMKM melalui sinergi dengan industri besar melalui pola kemitraan, akan memperkuat struktur ekonomi baik nasional maupun daerah.
  • PERBANKAN
      • Ketua Dewan Komisioner LPS, Halim Alamsyah mengatakan, jika dibandingkan dengan perbankan di negara lain, perbankan di Indonesia cenderung lebih solid. Hal tersebut dapat dilihat dari rasio kecukupan permodalan (CAR) perbankan. Sebagaimana diketahui, ketentuan CAR di dalam standar Bank of International Settlement (BIS) hanya 8%. Sedangkan CAR di perbankan Indonesia berada di posisi 20,1%. Sedangkan Loan to Deposit Ratio (LDR) pada posisi Juni 2015 sebesar 88,6%. Hal tersebut menunjukkan bahwa perbankan Indonesia cukup aman dan solid. “Sektor perbankan RI yang paling solid jika dibandingkan dengan negara lain. Meski ekonomi melambat, tapi kami yakin kondisi ekonomi kita akan semakin baik,” ujar Halim di Jakarta, Kamis, 5 November 2015. Lebih lanjut dia meyakini, dengan dikeluarkannya 5 paket kebijakan oleh pemerintahan Jokowi, maka perekonomian nasional akan terdongkrak lebih cepat. Namun demikian, kata dia, hal tersebut tergantung respon pasar terhadap paket kebijakan pemerintah itu. “Tentu ini adalah skenario baseline, tapi ini tentu tergantung respon kebijakan ekonomi pemerintah,” tutup Halim.
      • PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mengajak kerjasama Kementrian Agama (Kemenag) dalam memberikan fasilitas kredit berbasis iB bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Kemenag. Langkah ini dilakukan kedua instansi sekaligus guna mendukung program sejuta rumah yang ditetapkan oleh pemerintahan Jokowi-JK. “Ini adalah sebuah komitmen dalam kami memberikan dukungan terhadap program tersebut. iB BTN Syariah adalah salah satu bentuk layanan yang kami tawarkan kepada Kemenag untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi para PNS di lingkungan Kemenag,” kata Direktur Bank BTN Oni Febriarto menjelaskan usai penandatanganan PKS bersama Kemenag di Jakarta, Rabu (4/11). Turut menandatangani naskah PKS selain Oni Febriarto, Direktur Bank BTN adalah Nur Syam, Sekjend Kemenag. Fasilitas pembiayaan kredit berbasis iB adalah salah satu dari yang ditawarkan Bank BTN kepada Kemenag dalam PKS tersebut. Selain itu ruang lingkup kerjasama mencakup antara lain pengelolaan dana APBN dan Non APBN, pengelolaan dana dalam bentuk Giro, Tabungan, dan Deposito, pembayaran Gaji anggota PNS dengan Payroll System, pemanfaatan Jasa Perbankan untuk penyaluran dana tunjangan profesi, tunjangan khusus, subsidi tunjangan fungsional dan Cash Management System.
      • Ulasan :
        Eksistensi perbankan sangat diperlukan dalam suatu negara, untuk itu perlu diadakan pengawasan pembinaan usaha agar usaha bank dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Dalam menjalankan fungsinya bank harus menjaga rasio kecukupan modalnya (CAR), yang merupakan aspek yang sangat penting untuk menilai kesehatan bank karena ini berhubungan dengan solvabilitas bank.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.