Pekan Pertama Desember 2015

14 desember 2015

Kategori : IR Weekly Review


  • MAKRO
      • Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan mendukung keputusan Bank Sentral Eropa (ECB) untuk menopang zona euro dan mendesak ECB bertindak lebih untuk mencapai tujuan stabilitas harga. "Keputusan ECB hari ini akan membantu mengatasi peningkatan risiko penurunan pemulihan," kata juru bicara IMF Gerry Rice pada pertemuan pers reguler pemberi pinjaman global yang berbasis di Washington, Kamis (3/12/2015). "Tindakan hari ini dan komitmen yang kuat untuk menyesuaikan program jika diperlukan akan membantu memenuhi tujuan stabilitas harga," katanya. IMF mendesak ECB untuk "terus memperkuat sinyal kesediaan untuk bertindak dan menggunakan semua instrumen yang tersedia sampai mandat stabilitas harga terpenuhi." ECB pada Kamis memutuskan untuk menurunkan suku bunga fasilitas deposito sebesar 10 basis poin menjadi minus 0,3 persen. Bank sentral juga memutuskan untuk memperpanjang program pembelian aset hingga akhir Maret 2017 dari September 2016.
      • Ketua Bank Sentral AS atau Federal Reserve AS Janet Yellen mengatakan Rabu (2/12/2015), bahwa ia memperkirakan ekonomi Amerika Serikat akan terus tumbuh cukup kuat sehingga dapat mendukung kenaikan suku bunga pertama dalam sembilan tahun terakhir. Menurut AFP, Yellen tidak berkomentar tentang apakah The Fed akan menaikkan suku bunga acuan federal fund pada pertemuan berikutnya dalam dua minggu mendatang. Tapi dalam sebuah tanda bahwa dia siap untuk langkah penting itu, ia memperingatkan bahwa, setelah mempertahankan suku bunga mendekati nol selama hampir tujuh tahun, menunggu terlalu lama bisa menimbulkan risiko besar bagi perekonomian dan pasar keuangan. Dia percaya bahwa laju pertumbuhan berkelanjutan selama beberapa tahun ke depan akan membawa pasar pekerjaan menuju pekerjaan penuh (bukan paruh waktu) dan pada akhirnya memacu kenaikan harga . Suku bunga acuan bank sentral AS telah duduk di 0-0,25 persen sejak Desember 2008, dalam sebuah upaya luar biasa untuk membawa ekonomi AS kembali dari resesi besar pada tahun 2008-2009.
      • Ulasan :
        Dampak kebijakan pelonggaran moneter yang dilakukan ECB dapat menimbulkan divergensi pada perekonomian dunia yang pada saat bersamaan menanti kepastian peningkatan suku bunga acuan The Fed. Kebijakan moneter berbeda yang diambil oleh negara-negara maju berkontribusi pada kondisi ketidakpastian perekonomian global dan membuat negara berkembang semakin tertekan.
  • MIKRO
      • Bank Indonesia (BI) menyatakan ketentuan mengenai penurunan giro wajib minimum (GWM) primer dalam rupiah dari 8,0% menjadi 7,5%, mulai berlaku efektif pada hari Selasa (1/12/2015). Ketentuan tersebut dituangkan dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.17/21/PBI/2015 tanggal 26 November 2015 tentang Perubahan Kedua Atas PBI No. 15/15/PBI/2013 tentang Giro Wajib Minimum (GWM) Bank Umum Dalam Rupiah Dan Valuta Asing Bagi Bank Umum Konvensional. Sebagaimana diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) tanggal 17 November 2015, BI mempertahankan tingkat BI Rate sebesar 7,5%, dan menurunkan GWM Primer sebesar 0,5%. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa stabilitas makro ekonomi semakin membaik sehingga terdapat ruang pelonggaran kebijakan moneter. Namun, dengan masih tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global, terutama karena kemungkinan kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (Fed Fund Rate) dan keberagaman kebijakan moneter yang ditempuh oleh Bank Sentral Eropa, Jepang, dan Tiongkok, maka BI menempuh langkah pelonggaran kebijakan moneter tersebut secara berhati-hati. "Dalam kaitan itu, pelonggaran moneter yang ditempuh BI dilakukan melalui penurunan GWM Primer yang diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pembiayaan perbankan untuk mendukung kegiatan ekonomi yang mulai meningkat semenjak triwulan III 2015," ujar Direktur Departemen Ekonomi dan Moneter BI Dr Solikin M Juhro di Gedung BI Jakarta, Selasa (1/12/2015).
      • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berencana akan terus memperluas pembiayaan pada sektor produktif yang pada tahun ini lebih banyak pada sektor maritim. "Kita akan terus berupaya untuk memperluas akses keuangan agar semakin inklusif agar bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat, dengan cara mendorong perluasan pembiayaan pada sektor produktif 2016," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad di Jakarta, Jumat (4/12/2015). Dengan adanya perluasan pembiayaan itu, lanjut Muliaman, akan berimbas semakin sejahteranya masyarakat, pasalnya akses keuangan juga semakin luas ke berbagai sektor. Pada 2015, OJK berfokus memperluas akses keuangan ke sektor maritim dengan memperkuat program Jangkau Sinergi Guideline (Jaring) bersama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk pembiayaan masyarakat nelayan. "Pada 2016 mendatang pembiayaan akan diperluas bagi sektor produktif lainnya selain maritim, yaitu pertanian, peternakan dan perkebunan," ujarnya. Agar langkah tersebut bisa berjalan dengan baik, OJK berniat menggandeng instansi terkait sektor produktif tersebut, khususnya Kementerian Pertanian, Kementerian Dalam Negeri serta Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.
      • Ulasan :
        Dampak penurunan GWM Primer Bank, memberikan ruang bagi Bank di Indonesia dengan tersedianya likuiditas yang lebih, sehingga dapat berpengaruh kepada suku bunga maupun kapasitas dalam penyaluran kredit bank.
  • PERBANKAN
      • PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk bekerja sama dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) melakukan joint development program dan grand launching pengembangan SIM online di Parkir Timur Senayan, Jakarta, Minggu (6/12/2015). Peluncuran SIM online Polri 2015 tersebut merupakan penyempurnaan dari pelaksanaan pelayanan SIM yang sebelumnya telah diterapkan di seluruh SATPAS di Indonesia. Kegiatan ini juga sekaligus menjawab tuntutan masyarakat akan pelayanan publik yang semakin berkualitas, cepat, aman, dan nyaman. Sekretaris Perusahaan BRI Hari Siaga Amijarso mengatakan kerja sama antara BRI dan Polri ini merupakan bentuk persembahan pelayanan terbaik bagi nasabah BRI dan masyarakat secara luas dalam bentuk layanan integrated banking solution. "Integrated banking solution merupakan layanan perbankan terpadu satu pintu dengan memanfaatkan teknologi perbankan yang maju dengan mengedepankan hardware, software, dan brainware yang mumpuni," katanya dalam rilis pers yang diterima di Jakarta, Senin (7/12/2015). Hari mengatakan tantangan perbankan di masa depan adalah kepemilikan teknologi yang andal. Dalam hal ini, imbuhnya, BRI sangat percaya diri dalam memaksimalkan layanan SIM online. Ia mengatakan pihaknya memiliki hardware berupa tiga pusat data (data center) yang terintegrasi dan saling mirroring.
      • PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) disiapkan oleh pemerintah untuk menjadi perbankan nasional yang hanya fokus dalam memberikan pembiayaan perumahan kepada masyarakat. Wacana ini disampaikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia (RI), Jusuf Kalla dalam acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Real estat Indonesia yang mengatakan perubahan BTN tersebut diharapkan dapat segera terealisasi. JK juga menuturkan dengan diubahnya BTN menjadi bank perumahan, semata-mata sebagai upaya meluruskan peran bank dalam mengurus pembiayaan yang bersifat jangka panjang. Tak hanya perubahan nama, tapi juga tugas BTN akan menjadi lebih jelas mengingat faktanya bahwa BTN lebih identik dengan Perumahan ketimbang Tabungan. "Jadi bank perumahan sifatnya jangka panjang, apa yang dikhawatirkan adanya dana jangka pendek menjadi jangka panjang tidak ada," sambungnya. Data keuangan BTN menunjukkan, per Maret 2015, 89 persen kredit BTN sebesar Rp106,31 triliun disalurkan ke sektor perumahan. Sementara itu, dana tabungan di BTN hanya 22,64 persen dari total dana pihak ketiga (DPK) sebanyak Rp106,48 triliun. Jika usulan ini direalisasikan, maka BTN mengalami perubahan nama sebanyak empat kali. Dirikan pada 1897 dengan nama Postpaar bank, bank ini berganti nama mejadi Bank Tabungan Pos pada 1950 sebelumnya akhirnya berganti menjadi Bank Tabungan Negara pada 1963.
      • Ulasan :
        Pembentukan bank khusus sangat diperlukan karena bank yang melaksanakan usaha khusus berdasarkan pilihan sistem, bidang usaha, sektor ekonomi, wilayah atau tujuan tertentu yang telah ditetapkan, dapat lebih fokus dalam menuntaskan permasalahan yang ada berdasarkan kekhususannya dan dapat mempercepat serta memperluas jangkauan pemasaran maupun pembiayaan terhadap portofolio bisnisnya.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.