Pekan Ketiga Oktober 2015

26 oktober 2015

Kategori : IR Weekly Review


  • MAKRO
      • Bank Rakyat China (People's Bank of China/PBoC) kembali memangkas suku bunga acuannya pada Jumat (23/10) untuk keenam kalinya sejak November 2014. Cara ini dilakukan guna memacu pertumbuhan ekonomi yang terus melambat. Dalam situsnya dijelaskan, PBOC memangkas suku bunga acuan pinjaman sebesar 25 basis poin menjadi 4,35 persen dan mulai efektif per 24 Oktober 2015. Suku bunga acuan deposito juga diturunkan sebesar 25 basis poin menjadi 1,50 persen. Saat ini China tengah menciptakan kelonggaran kebijakan yang paling agresif tahun ini sejak krisis keuangan global 2008/2009. Sebelumnya pertumbuhan ekonomi China sepanjang kuartal III 2015 mengalami penurunan menjadi 6,9 persen dibandingkan realisasi kuartal sebelumnya yang menyentuh 7 persen. Data yang dirilis Senin (19/10) tersebut merupakan data perekonomian China yang terlemah sejak krisis keuangan global melanda sejak 2009 lalu.
      • Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB) Mario Draghi mengatakan akan memangkas tingkat suku bunga untuk menstimulasi perekonomian di zona euro. Seperti yang telah diharapkan banyak pihak, ECB melakukan langkah baru pada Kamis (22/10) waktu setempat. Draghi juga memberikan sinyal bank sentral dapat memperpanjang program pembelian obligasi jika diperlukan untuk melawan inflasi. "Kami siap beraksi jika diperlukan dan kami membuka segala kemungkinan untuk melakukan berbagai kebijakan moneter," ujar Draghi kepada pers seusai pertemuan ECB. Kekhawatiran pelemahan ekonomi global khususnya di Tiongkok menekan harga komoditas dan saham di berbagai pasar. Berbagai lembaga multinasional seperti Dana Moneter Internasional menurunkan perkiraan pertumbuhan global. Setelah mendengar berita tersebut, indeks di Wall Street menguat. Indeks saham global juga naik 0,8 persen. Indeks Dow Jons naik 320,55 poin atau 1,87 persen menjadi 17.489. Indeks S&P 500 naik 33,57 poin atau 1,66 persen menjadi 2.052 dan indeks Nasdaq naik 79,93 poin atau 1,65 persen menjadi 4.920.
      • Ulasan :
        Pemangkasan suku bunga yang dilakukan oleh PBoC dan ECB, merupakan upaya untuk mendongkrak perekenomian di wilayah masing-masing. Dengan alasan, mata uang yang lebih rendah dapat meningkatkan ekspor dan membuat arus masuk investor menjadi lebih besar.
  • MIKRO
      • Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo memprediksi tingkat inflasi pada akhir 2015 bisa mencapai angka 3,6 persen atau lebih rendah dari perkiraan semula. "Inflasi sebelumnya empat plus minus satu persen. Tapi saat pembahasan di Rapat Dewan Gubernur terakhir kita melihat inflasi akhir tahun akan ada di bawah empat persen atau dipertahankan pada 3,6 persen," ujarnya. Membaiknya laju inflasi tersebut disebabkan oleh pembenahan fundamental perekonomian nasional yang mulai menunjukkan hasil positif, meskipun masih ada risiko tekanan global maupun domestik. Hal tersebut tercermin dari deflasi 0,05 persen pada September yang berarti angka inflasi nasional tahun kalender Januari-September 2015 tercatat sebesar 2,24 persen dan secara tahunan (year on year) 6,83 persen. Bahkan hingga minggu kedua Oktober, Bank Indonesia masih mencatat adanya deflasi 0,09 persen. Namun, ini masih merupakan angka perkiraan karena angka rilis resmi masih menunggu penghitungan hingga akhir bulan. "Ini baru minggu kedua. Nanti kami perhatikan lagi untuk minggu ketiga. Saat ini year on year masih 6,83 persen. Tapi nanti di akhir tahun akan masuk di bawah empat persen," kata Agus.
      • Pemerintah telah mengumumkan Paket Kebijakan Ekonomi V yang memuat tiga poin, yakni, revaluasi aset, penghilangan pajak berganda dan deregulasi perbankan syariah. Pemerintah menilai, ada banyak perusahaan yang perlu melakukan revaluasi aset, namun urung dilakukan karena terbentuk pajak. Kebijakan jilid V ini bertujuan memberikan keringanan pajak kepada pelaku usaha. Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo menyambut baik Paket Kebijakan Ekonomi jilid V yang dirilis pemerintah. Ia berpendapat, hal itu merupakan upaya pemerintah menyehatkan struktur ekonomi, dan membuat potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih baik ke depan. Agus menambahkan, sejumlah kebijakan yang telah dirilis pemerintah terbukti mampu mendorong penguatan fundamental ekonomi yang tercemin dari inflasi yang terkendali, meningkatnya kepercayaan investor, dan perbaikan neraca transaksi berjalan. “Dengan perbaikan yang terjadi, kami melihat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2015 akan ada di kisaran, 4,7%-5,1%,” ujar Agus.
      • Ulasan :
        Menghadapi situasi perekonomian global yang tidak stabil serta untuk kembali mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi, perlu memperkuat pertahanan dengan kebijakan fiskal yang prudent, menjaga volatilitas nilai tukar mata uang serta menjaga iklim investasi.
  • PERBANKAN
      • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, menerima penghargaan sebagai perusahaan BUMN di sektor perbankan yang berpredikat “Sangat Bagus” dalam Infobank BUMN Awards 2015. Berdasarkan penilaian Infobank, Bank Mandiri masuk dalam predikat sangat bagus dengan nilai 94,54% di kategori Bank. Penghargaan yang diberikan kepada Bank Mandiri berdasarkan keberhasilannya meraih kinerja yang positif sepanjang 2014. Sedangkan dalam kinerjanya di sepanjang 2014 Bank Mandiri mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 9,2% menjadi Rp19,9 triliun atau lebih tinggi jika dibandingkan raihan di tahun sebelumnya yakni Rp18,2 triliun di 2013. Kenaikan laba didorong dari pertumbuhan operating income mencapai 11,7% menjadi Rp56,9 triliun dan dari pendapatan bunga bersih dan premi bersih yang naik 14,8% menjadi Rp41,8 triliun serta fee based income (FBI) mencapai Rp 15,1 triliun. Sementara itu posisi kredit tumbuh 12,2% menjadi Rp530 triliun, dari posisi kredit di 2013 sebesar Rp472,4 triliun, dengan rasio non performing loan (NPL) terjadi di posisi 2,15 persen. Pertumbuhan kredit didorong dari aset yang tumbuh menjadi Rp855 triliun, dari posisi di tahun sebelumnya sebesar Rp733,1 triliun.
      • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mengaku, pada pertengahan 2016 perseroan akan menjadi bank di dunia yang pertama kali meluncurkan dan mengoperasikan satelitnya sendiri. Corporate Secretary Bank BRI Budi Satria mengungkapkan, saat ini progress manufacturing satelit BRI atau BRISat yang dilaksanakan di pabrik Space Systems/Loral, LLC (SSL) Palo Alto, California sudah memasuki tahap lebih dari 50%. Menurutnya, sesuai dengan perhitungan awal, mulai dari pembuatan desain, proses pembuatan satelit, hingga shipment and launch campaign BRISat di Kourou French Guiana akan memakan waktu 25-26 bulan sejak tanggal efektif kontrak. “Jika tidak ada aral melintang, launching BRISat akan dilaksanakan sebelum pertengahan tahun 2016,” ujar Budi dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 19 Oktober 2015. Dengan beroperasinya BRISat ini, nantinya BRI akan lebih menghemat pengeluaran biaya operasional dibandingkan harus melakukan sewa jasa satelit untuk komunikasi jaringan. Selain itu, juga bisa meminimalisir gangguan jaringan sekitar 11 ribu kantor, 21 ribu Automatic Teller Machine (ATM) BRI, dan 154 ribu Electronic Data Capture (EDC) BRI. Lebih lanjut Budi menambahkan, satelit jaringan komunikasi ini merupakan salah satu inovasi BRI untuk memberikan layanan jasa perbankan kepada seluruh masyarakat Indonesia hingga ke seluruh penjuru tanah air. Menurutnya, karena BRIsat dimiliki dan dioperasikan sendiri oleh BRI sebagai Bank BUMN, maka Pemerintah akan memiliki sarana komunikasi yang lebih aman dan terhindar dari penyadapan karena kontrol saluran komunikasi dan encryption sepenuhnya berada di tangan Indonesia.
      • Ulasan :
        Dalam menghadapi persaingan di dunia perbankan, harus disikapi dengan efektifitas dan efisiensi di segala lini bisnis bank termasuk inovasi dalam produk, jasa dan layanan.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.