Pekan Ketiga November 2016

18 november 2016

Kategori : IR Weekly Review


  • MAKRO
    • Kepala Bank Sentral The Federal Reserve Jannet Yellen mengumumkan pada perkiraan ekonomi, sebelum kongres Joint Economic Committee, mengindikasikan bahwa akan ada perubahan menyusul kemenangan Donald Trump pada pilpres kemarin. Dia mengatakan bahwa The Fed tetap dalam jalur akan menaikkan suku bunga ada pertemuan bulan depan. Ekspektasi tinggi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember. Dilansir dari reuters, Jumat (18/11/2016), hal ini juga membuat dolar makin kuat. Nilai tukar dolar terhadap 6 mata uang lain melanjutkan penguatannya menyusul komentar Yellen. Dolar naik 5 persen. Sementara bursa saham AS, yang naik setelah Donald Trump mengejutkan publik karena memenangkan pemilihan, juga naik, dipimpin oleh 1,3 persen kenaikan di sektor finansial, yang menguntungkan bagi kenaikan suku bunga. "Kenaikan suku bunga ini sudah. Beberapa pembicara the Fed mengindikasikan itu dan mereka ingin pasar bersiap-siap akan hal itu," tutur Erik Wytenus, spesialis investasi global di bank JP Morgan. 

    • Dana Moneter Internasional (IMF) telah mencabut sanksi terhadap Zimbabwe setelah negara Afrika bagian selatan itu melunasi tunggakan utang 15-tahun kepada lembaga keuangan multilateral itu pada bulan lalu. Dikutip dari Xinhua, Rabu 16 November 2016, IMF mengatakan bantuan keuangan kepada Zimbabwe akan bergantung pada kebijakan-kebijakan yang berlaku lainnya termasuk tunggakan kliring USD1,15 miliar kepada Bank Dunia, USD601 juta kepada Bank Pembangunan Afrika (AfDB) dan tunggakan lainnya kepada kreditor multilateral, kreditor resmi bilateral dan sektor swasta eksternal. IMF dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan di situsnya menyatakan perekonomian Zimbabwe yang lumpuh juga akan membutuhkan penyesuaian fiskal dan reformasi struktural yang kuat guna memenuhi syarat untuk pinjaman baru. Menghadapi krisis uang tunai yang parah dan semakin memburuknya ekonomi, Zimbabwe bulan lalu menyelesaikan USD108 juta tunggakan utangnya kepada Poverty Reduction and Growth Trust (PRGT) IMF dengan menggunakan bagian dari kepemilikan kasnya yang disimpan di Dana.

    • Ulasan :

      Kenaikan suku bunga the FED tersebut utamanya dipicu oleh membaiknya perkonomian AS pada kuartal III 2016. Salah satu indikatornya adalah tingkat inflasi AS yang mulai meningkat. Selain itu kemenangan Donald Trump juga memperkuat tindakan tersebut. Trump sendiri ingin menaikkan suku bunga the FED agar dapat menjaga stabilitas perekonomian AS.

  • MIKRO
    • Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk merevisi pertumbuhan ekonomi pada tahun depan menjadi di kisaran 5%-5,4%. Angka proyeksi itu lebih rendah dari sebelumnya yang berada di level 5,1%-5,4%. Gubernur BI Agus DW Martowardojo mengatakan, perubahan proyeksi pertumbuhan ekonomi tersebut dilakukan karena ekonomi dunia masih melemah di kisaran 3% di 2016. Kondisi ini lebih rendah dari tahun sebelumnya. Selain itu, BI memprediksi pertumbuhan kredit pada 2017 berkisar antara 10%-12%. Sementara pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) diperkirakan antara 9%-11%. "Jadi pertumbuhan kredit itu yang relatif baru betul-betul siap recover akhir kuartal kedua. Memengaruhi koreksi pertumbuhan ekonomi kita," pungkas Agus.

    • Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman Hadad meyakini, gerakan penarikan uang secara besar-besaran atau rush money pada 25 November 2016 tidak akan terjadi. ‎Dia berharap, isu tersebut hanya desas-desus yang terjadi di media sosial semata. Dia mengatakan, saat ini industri keuangan dalam kondisi yang sehat. Jadi, jika memang nanti terjadi penarikan uang secara besar-besaran maka bukan disebabkan karena industri perbankan yang tidak sehat. Dia pun mempertanyakan akan disimpan dimana uang tersebut jika memang mereka akan menariknya secara besar-besaran. "Kemudian pertanyaannya mau ditaruh mana uangnya kalau ditarik, mau ditaruh dibawah bantal. Mudah-mudahan ini desas-desus, saya optimistis ini tidak akan terjadi,” pungkasnya. 

    • Ulasan :

      Koreksi yang dilakukan oleh Bank Indonesia sudah cukup tepat di dalam menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia kedepannya. Hal tersebut juga tidak lepas dari acuan terhadap pertumbuhan ekonomi dunia. Indonesia perlu mempertahankan sikap realistis seperti sekarang ini, sehingga antara proyeksi dan realisasi dapat tercapai.

  • PERBANKAN
    • PT Bank Mandiri Tbk (Bank Mandiri) akan membawa debitur yang tidak kooperatif ke meja hijau. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat penyelesaian kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL). Corporate Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas mengungkapkan, upaya hukum tersebut akan dilakukan baik melalui jalur perdata maupun pidana terhadap debitur yang terindikasi melakukan penyalahgunaan kredit, maupun debitur yang tidak memiliki iktikad baik memenuhi kewajiban pembayaran kreditnya kepada Bank Mandiri. Saat ini, lanjut Rohan, Bank Mandiri telah lakukan upaya hukum litigasi melalui pengajuan eksekusi agunan, permohonan PKPU maupun gugatan perdata ke Pengadilan. "Meski demikian, kami juga melakukan percepatan penanganan kredit bermasalah melalui jalur pidana terutama terhadap debitur yang terindikasi melakukan penyalahgunaan kredit," kata Rohan di Jakarta, Selasa (15/11/2016).

    • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menjalin kerja sama strategis dengan Lion Air Group. Kerja sama ini memberikan kemudahan dalam memanfaatkan system layanan jasa perbankan yang cepat, nyaman, modern, dan terpercaya melalui jaringan outlet dan e-channel Bank BRI. Direktur Kelembagaan Bank BRI Kuswiyoto mengatakan, ruang lingkup kerja sama strategis tersebut mencakup pemberian layanan jasa-jasa perbankan yang optimal kepada Lion Air Group. Yaitu dalam bentuk pengembangan akses pasar dan jaringan pemasaran produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Selain itu, pemanfaatan fasilitas cash management System (CMS), pengembangan layanan pembelian tiket melalui e-Channel, pemanfaatan jasa dan instrumen perbankan lainnya Untuk layanan keuangan Lion Air Group. "Kerja sama ini wujud komitmen BRI meningkatkan kemudahan akses bertransaksi bagi jutaan nasabah BRI untuk menikmati kualitas pelayanan Lion Air Group menuju destinasi-destinasi terbaik di dalam negeri maupun luar negeri," kata dia di Jakarta, Selasa (15/11/2016). 

    • Ulasan :

      langkah atau tindakan hukum yang dilakukan oleh bank mandiri dalam mengadapi debitur nakal adalah bentuk ketegasan bahwa ketika ada debitur yang tidak kooperatif dan membahayakan bank, maka tindakan hukum tersebut dapat menjadi sebuah solusi.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.