Pekan Ketiga Desember 2015

28 desember 2015

Kategori : IR Weekly Review


  • MAKRO
      • Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed) akhirnya menaikkan suku bunganya (Fed rate) yang diperkirakan akan mengakhiri krisis yang berlangsung 7 tahun. Dalam keputusan rapat Badan kebijakan The Fed, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang diadakan pada 15-16 Desember 2015, memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan AS menjadi 0,25%-0,50% dari sebelumnya 0%-0,25%. Suku bunga ini naik untuk  pertama kalinya setelah hampir 10 tahun terakhir. The Fed percaya ekonomi AS sudah mulai membaik sejak terkena krisis finansial pada 2007-2009 lalu. Namun dengan naiknya suku bunga acuan ini akan menutup perdebatan panjang yang sudah dimulai sejak akhir tahun lalu. Pihaknya percaya, keputusan ini sangatlah tepat. “Pemulihan ekonomi AS sudah mulai ada perkembangan. Dengan ekonomi yang terus membaik, kami percaya kenaikan bunga ini sudah sangat tepat,” ujar Gubernur The Fed Janet Yellen seperti dikutip Reuters, Kamis, 17 Desember 2015.
      • Perekonomian China diprediksi akan semakin melambat pada tahun depan. Pusat Informasi Negara China meramalkan kemungkinan pertumbuhan PDB tahun depan hanya 6,5%. Dalam lima tahun terakhir ekonomi China turun menjadi 7,5%. Pusat Informasi Negara China mencatat, pada kuartal ketiga 2015, ekonomi China hanya mampu tumbuh 6,9%. Pertumbuhan ekonomi ini merupakan yang paling rendah sejak krisis ekonomi global pada kuartal pertama 2009. Kendati pertumbuhan ekonomi China tengah melambat, namun China optimistis jika ekonomi masih tangguh apabila pemerintah merestrukturisasi ekonomi. Menurut Pusat Informasi Negara China, masih ada peluang untuk memperluas permintaan domestik, mengingat besarnya potensi pasar.
      • Ulasan :
        Jika mata uang Yuan benar-benar diumumkan sebagai world reserve currency yang baru, maka praktis institusi-institusi besar di seluruh dunia yang selama ini menyimpan asetnya dalam mata uang USD , Euro, Pound Sterling, dan Yen, akan mulai mengkonversinya ke dalam Yuan. Nilai Yuan akan terapresiasi signifikan, sementara nilai USD dan tiga mata uang lainnya mungkin akan turun.
  • MIKRO
      • Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG-BI) pada 17 Desember 2015 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 7,50%, dengan suku bunga Deposit Facility 5,50% dan Lending Facility pada level 8,00%. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara menyampaikan, keputusan ini sejalan dengan perkiraan inflasi 2015 yang akan terjaga di batas bawah kisaran sasaran 4±1% disertai dengan defisit transaksi berjalan yang diperkirakan berada pada kisaran 2% dari PDB pada 2015. “Pertumbuhan ekonomi akan membaik terutama didorong oleh meningkatnya belanja modal pemerintah, walaupun aktivitas perekonomian di sektor swasta masih berjalan relatif lambat,” ujar Tirta di Gedung BI, Kamis, 17 Desember 2015.
      • Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) telah melakukan evaluasi tingkat bunga penjaminan untuk simpanan dalam rupiah dan valuta asing (valas) di Bank Umum serta untuk simpanan dalam rupiah di Bank Perkreditan Rakyat. Tingkat Bunga Penjaminan untuk periode 8 Oktober 2015 sampai dengan 14 Januari 2016 tidak mengalami perubahan. Tingkat bunga penjaminan dalam rupiah di bank umum sebesar 7,50%, sedangkan dalam valas sebesar 1,25% dan tingkat bunga penjaminan dalam rupiah di BPR 10%. “Tingkat bunga penjaminan tersebut dipandang masih sejalan dengan perkembangan perekonomian dan perbankan terkini,” ujar Sekretaris LPS Samsu Adi Nugroho dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 18 Desember 2015. Sejalan dengan tujuan untuk melindungi nasabah dan memperluas cakupan tingkat bunga penjaminan, LPS menghimbau agar perbankan dapat memperhatikan ketentuan tingkat bunga penjaminan simpanan dalam rangka penghimpunan dana.
      • Ulasan :
        Dalam mengatasi permasalahan perlambatan ekonomi, pemerintah harus melaksanakan kebijakan fiskal dan kebijakan moneter secara bersamaan karena kegiatan perekonomian diantaranya sektor rumah tangga, sektor perusahaan, sektor pemerintah dan sektor dunia internasional / luar negeri saling terimbas satu sama lain.
  • PERBANKAN
      • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menyatakan bahwa pihaknya menerima dana sebesar Rp 25 triliun dari hasil penilaian ulang aset atau Revaluasi aset tetap. "Dari hasil self asessment (secara sepihak) itu akan dikonfirmasi oleh pihak profesional KJPP (Kantor Jasa Penilai Publik)," kata Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri, Rohas Hafas di Jakarta, Jumat (18/12/2015). Ia juga mengungkapkan, perseroan mendapat fasilitas pajak final PPh tiga persen dari peningkatan aset tersebut. Sebagiamana tertuang dalam peraturan Menteri Keuangan nomor 191/PMK.10/2015 tentang Penilaian Kembali Aktiva Tetap untuk Tujuan Perpajakn bagi Permohonan tahun 2015. "Kami telah menyetor Rp 690 miliar kepada Ditjen Pajak untut PPh final tiga persen atas selisih revaluasi aset," tambahnya. Menurut Rohan, nantinya tambahan dari nilai aset tersebut akan dihitung sebagai capital gain dan akan diperhitungkan dalam modal inti tier 1. Hasilnya akan meningkatkan ratio kecukupan modal atau CAR 20 persen. Untuk itu, BMRI pun mneytakan siap menerapkan basel III di tahun 2016. "Tanpa tambahan PMN (Penyertaan Modal Negara) kami siap menerapkan Basel III," tukasnya.
      • PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) pada 2016 menargetkan jumlah rekening (Number off Account/NOA) Simpanan Pelajar (SimPel/SimPel iB) akan dapat menyentuh angka satu juta nasabah. Hal ini diungkapkan oleh Direktur BTN, Sis Apik Wijayanto, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (17/12/2015). Ia mengatakan tabungan tersebut diharapkan menghidupkan kembali budaya menabung di kalangan pelajar. Selain tentu saja mendukung program Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam pengembangan produk tabungan yang diperuntukkan khusus bagi kalangan pelajar serta Gerakan Nasional Menabung. "Ini juga akan memperkuat produk tabungan yang dimiliki Bank BTN yang khusus diperuntukkan bagi kalangan pelajar," katanya. Sejak program tersebut diluncurkan, hingga saat ini sudah 410 lebih sekolah yang bekerjasama dengan Bank BTN, dimana jumlah NOA dan kerjasama itu telah mencapai 517.000 rekening.
      • Ulasan :
        Dalam proses pemulihan ekonomi Indonesia, sektor UMKM memiliki peranan yang sangat stategis dan penting yang dapat ditinjau dari berbagai aspek, karena jumlah industrinya yang luas dan terdapat dalam setiap sektor ekonomi. Sinergitas antara Bank dan pelaku UMKM harus semakin ditingkatkan dalam mencapai kemajuan bersama.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.