Pekan Keempat Oktober 2016

28 oktober 2016

Kategori : IR Weekly Review


  • MAKRO
    • Bank sentral AS atau Federal Reserve mungkin harus mempertahankan suku bunga rendah untuk waktu lebih lama guna meyakinkan investor dan masyarakat bahwa bank sentral serius mencapai target inflasi dua persen, Presiden Federal Reserve Chicago, Charles Evans, menyatakan pada Senin (24 Oktober 2016). Dengan inflasi yang berjalan terlalu rendah, baik di Amerika Serikat maupun global, the Fed perlu menunjukkan komitmennya untuk mencapai target inflasi "berkelanjutan, simetris, dan lebih cepat," kata Evans dalam slide yang disiapkan untuk sebuah pidato di Chicago. Untuk melakukan hal itu, kata dia, mungkin memerlukan "tingkat pengangguran di bawah batas (undershooting) dan target inflasi melampaui batas (overshooting)." Inflasi telah berjalan di bawah dua persen sejak 2012 dan pengangguran saat ini di lima persen, kisaran di mana banyak ekonom percaya konsisten dengan lapangan pekerjaan penuh. Evans, yang akan berotasi menjadi pemilik hak suara pada panel kebijakan Fed tahun depan, telah berada di antara suara-suara paling keras bahwa Fed harus melakukan pendekatan sabar dan bertahap dalam menaikkan suku bunganya. Dia tidak mengacu pada kecepatan kenaikan suku bunga yang lebih disukai secara pribadi, dan malah mengatakan dia ingin melihat laju kenaikan suku bunga terkait dengan kemajuan pada inflasi.

    • Mata uang yen bakal berpotensi semakin melemah seiring dengan langkah Bank of Japan (BOJ) yang terus menggelontorkan stimulus untuk mengantisipasi pengerekan suku bunga Federal Reserve. Pada perdagangan Selasa (25/10) pukul 18:22 WIB mata uang yen turun 0,35 poin atau 0,34% menuju ke 104,53 per dolar AS. Dalam waktu yang sama, indeks dolar AS terkoreksi 0,02% menjadi 98,74 Heizo Takenaka, menteri perekonomian Jepang periode 2002--2005, menuturkan peningkatan suku bunga Federal Reserve pada Desember 2016 akan menjadi kesempatan baik bagi BOJ untuk menurunkan suku bunga. Hal ini bertujuan melemahkan mata uang yen. "Saya pikir BOJ sedang menunggu kesempatan untuk menurunkan nilai yen. Kesempatan itu ada saat The Fed menaikkan suku bunga," ujarnya seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (25/10). Tren penurunan yen mulai terjadi setelah Perdana Menteri Shinzo Abe memgang tampuk kekuasaan pada akhir 2012 melalui pelonggaran moneter. Penurunan yen membantu kenaikan kinerja bursa domestik dan perusahaan, tetapi menurunkan ekspor dalam 12 bulan terakhir. Komentar dari Takenaka seolah menjadi pesan bagi BOJ yang akan menjalankan rapat dewan gubernur pada 31 Oktober - 1 November 2016. Pada rapat bulan sebelumnya, bank sentral berfokus mematok yield obligasi pemerintah sekitar nol dan menjaga suku bunga -0,1%.

    • Ulasan :

      Kenaikan suku bunga the Fed akan berpengaruh kepada negara-negara berkembang khususnya Indonesia. Namun jika inflasi didalam negeri dapat tetap terjaga 4 plus minus 1 persen, maka hal tersebut dapat mendatangkan rasa optimis/ optimisme bagi Indonesia.

  • MIKRO
    • Bank Indonesia (BI) akan segera menerbitkan peraturan yang mendukung perdagangan commercial paper atau Surat Berharga Komersial (SBK) di pasar uang. Dengan adanya peraturan SBK, korporasi baik sektor keuangan maupun non keuangan bisa mendapat pendanaan jangka pendek di luar fasilitas kredit perbankan. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara mengatakan, surat Berharga Komersial merupakan surat berharga jangka pendek yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai alternatif pendanaan oleh korporasi, selain pendanaan dari kredit perbankan dan alternatif investasi jangka pendek oleh investor. SBK bisa menjadi alternatif perseroan untuk mendapatkan tambahan modal dengan menjual surat berharganya dalam tenor 360 hari atau satu tahun. Saat ini, BI tengah mengkaji Peraturan Bank Indonesia (PBI) terkait penerbitan Surat Berharga Komersial (SBK). "Commercial paper adalah instrumen di mana korporasi atau lembaga keuangan biasanya non bank menerbitkan suatu surat utang. Namun bisa dibilang, instrumen pasar uang di Indonesia masih sangat dangkal. Sedangkan kebutuhan pendanaan korporasi dan lembaga keuangan non bank cukup besar," kata Mirza dalam Seminar Surat Berharga Komersial di Jakarta, Senin (24/10/2016).

    • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengklaim ada 3,5 juta rekening baru yang dibuka masyarakat sepanjang Oktober 2016. Rekening tersebut tersebar di beberapa industri jasa keuangan, seperti perbankan, reksa dana, dana pensiun, hingga pegadaian. Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad mengatakan, ‎pihaknya bersama industri jasa keuangan selama ini telah melaksanakan kegiatan inklusi keuangan. Dengan semboyan Inklusi Keuangan Untuk Semua, OJK melihat adanya minat masyarakat untuk mulai menabung. "Kami laporkan inklusi keuangan ini tercatat adanya pembukaan rekening baru selama Oktober saja di seluruh industri jasa keuangan yaitu sebesar 3.546.477 rekening," ujarnya di JCC, Jakarta, Senin (31/10/2016). Muliaman merinci, pembukaan rekening meliputi dana pihak ketiga 3.388.267 rekening, polis asuransi 12.482, rekening investasi pada pasar modal 14.880, rekening pada Dana Pensiun 665, rekening pembiayaan 14.321 rekening, rekening tabungan emas sebanyak 115.862 rekening. Menurutnya, akses masyarakat terhadap industri jasa keuangan juga dimudahkan dengan adanya jaringan Laku Pandai dan layangan keuangan digital‎. "Sehingga, kegiatan menabung tidak harus kita pergi ke kota dan bisa dilakukan 24 jam kita bisa menabung pada malam hari," imbuh dia. 

    • Ulasan :

      Keberadaan surat Berharga Komersial dapat melengkapi yield curve pasar uang. Apabila Surat Berharga Komersial sudah cukup likuid ditransaksikan di pasar uang, hal tersebut dapat menjadi referensi harga yang cukup kredibel untuk indikasi harga surat berharga jangka pendek sektor korporasi bagi pelaku pasar keuangan lainnya.

  • PERBANKAN
    • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) berencana tetap meningkatkan portofolio kreditnya secara selektif dan prudent sesuai dengan kondisi perekonomian, dengan kisaran target pertumbuhan sebesar 13%-15%. Direktur Utama BRI Asmawi Syam mengatakan, Bank BRI juga akan tetap fokus memperkuat pendanaan melalui penghimpunan DPK murah dan penerbitan obligasi dengan suku bunga yang kompetitif. "Selain itu, disertai dengan upaya-upaya penguatan fee based income melalui pengembangan digital banking dalam bentuk teras BRI digital dengan target 560 outlet dari 2.560 unit teras yang sudah ada, hingga peningkatan porsi kepemilikan pada perusahaan anak serta peningkatan permodalan untuk perusahaan anak melalui secondary public offering dan penerbitan sukuk sub debt," katanya di Jakarta, Selasa (25/10/2016). Untuk rasio, di tahun 2016 ini, Bank BRI menargetkan NPL (Non Performing Loan) atau kredit bermasalah berada di level 2,1%-2,4%. "Sedangkan LDR di kisaran 87,0%-90,0% dan CAR di posisi 20,0%," sebut Asmawi. Selanjutnya dengan modal kinerja yang sehat, stabil dan berkelanjutan serta didukung dengan jaringan unit kerja yang optimal, Bank BRI optimis dapat mencapai pertumbuhan net profit atau laba perseroan di kisaran 1%-2% di tahun 2016 ini.

    • PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terus memperkuat peran sebagai lembaga intermediasi untuk mendorong perekonomian nasional. Hal itu ditunjukkan dengan pertumbuhan kredit secara tahunan sebesar 11,5% pada akhir September 2016 menjadi Rp625,1 triliun dari Rp560,6 triliun pada periode sama tahun sebelumnya. Dari capaian tersebut, portofolio kredit produktif perseroan tercatat sebesar Rp481,4 triliun atau 85,9% dari total kredit Bank Mandiri (bank only), meningkat Rp48,2 triliun atau tumbuh 11,1% dari periode sama tahun lalu, terutama didorong pertumbuhan kredit modal kerja yang meningkat Rp38,1 triliun atau tumbuh 14,0% menjadi Rp309,4 triliun. Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, pencapaian tersebut tak lepas dari komitmen perusahaan mendukung program pembangunan pemerintah untuk memperkuat kemandirian nasional dan meningkatkan daya saing.  Sebagai agent of development dalam pembiayaan infrastruktur, Bank Mandiri telah menyalurkan kredit infrastruktur sebesar Rp51,3 triliun atau tumbuh 27,0% yoy, yang disalurkan untuk pembiayaan jalan tol sebesar Rp8,4 triliun, tenaga listrik Rp17,6 triliun, transportasi sebesar Rp17,2 triliun dan telekomunikasi Rp8,2 triliun. "Infrastruktur yang kuat akan menjadi tulang punggung perekonomian nasional, terutama dalam  menjawab tantangan geografis Indonesia terdiri atas ribuan pulau yang tersebar luas. Karena itu, kami akan terus konsisten membantu merealisasikan proyek-proyek infrastruktur pemerintah," ujar dia dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (25/10/2016). Secara segmentasi, perseroan terus meningkatkan penyaluran kredit ke seluruh bisnis dengan pertumbuhan tertinggi pada segmen mikro yang mencapai 16,7% menjadi Rp46,7 triliun pada September 2016.
    • Ulasan :

      NPL merupakan tolak ukur penting di dalam menentukan apakah sebuah bank mampu mengendalikan kredit-kreditnya. Semakin NPL tinggi, maka dapat disimpulkan bahwa bank tersebut belum cukup mampu untuk mengendalikan kredit-kredit yang ada, serta NPL sangat berpengaruh terhadap tingkat kesehatan bank dan eksistensi usaha perbankan.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.