Pekan Keempat November 2016

25 november 2016

Kategori : IR Weekly Review


  • MAKRO
    • Para anggota The Federal Reserve (The Fed) sepertinya tampak percaya diri bahwa ekonomi AS cukup kuat untuk menanggung kenaikan suku bunga acuan dalam jangka pendek. Setidaknya, hal itulah yang tampak pada hasil notulensi The Fed yang berlangsung pada 1-2 November lalu. Hasil notulensi yang dirilis pada Rabu kemarin mendukung pandangan konsensus Wall Street bahwa The Fed akan segera menaikkan suku bunga acuannya pada Desember. Pada bulan ini, bank sentral AS tersebut memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya. Anggota voting The Fed  menilai adanya risiko ekual pada ekonomi yang akan mendorong atau menekan prediksi mereka terkait pertumbuhan ekonomi dan pasar tenaga kerja. "Hampir semua anggota terus menilai bahwa risiko jangka pendek terhadap outlook perekonomian terbilang seimbang," demikian hasil notulensi The Fed. Selain itu, ditulis pula: "Mayoritas dari anggota The Fed mendukung ditahannya suku bunga acuan untuk sementara waktu." Dari sekitar 17 anggota The Fed yang berpartisipasi pada pertemuan November, sepuluh di antaranya memilih untuk menahan suku bunga. Dari suara terbanyak itu, mayoritas di antara mereka menilai kenaikan suku bunga dalam waktu dekat bisa dilakukan.

    • Bank Sentral China telah menahan diri dari membuat pengumuman kebijakan dan baru saja memperkuat kondisi moneter, seorang analis transaksi menunjukkan. The People's Bank of China memangkas operasi pasar terbuka tujuh hari dan menambahkan lebih banyak dana melalui kontrak 14 dan 28 hari. Ini adalah indikasi lainnya dari pengetatan selektif PBOC yang telah mendukung pandangan dari beberapa ekonom bahwa China telah berpaling dari stimulus moneter. Policymaker berupaya untuk membatasi leverage karena pertumbuhan ekonomi stabil. Gubernur PBOC Zhou Xiaochuan telah mengandalkan suku bunga pasar untuk menopang kebijakan dan beralih dari standar acuan lama. Bank sentral telah mulai menawarkan kontrak 14 hari dan 28 hari sebanyak 30 basis poin lebih tinggi. Hasil biaya pendanaan satu pekan pasar sekunder mendekati 2,5 persen. Data terkini dari National Interbank Funding Center telah menunjukkan bahwa kesepakatan pembelian kembali terkemuka telah mencapai 8,9 triliun yuan di bulan Oktober

    • Ulasan :

      Kenaikan suku bunga AS khususnya secara gradual dilakukan untuk mencapai dan melanjutkan serapan tenaga kerja dan inflasi. Hal tersebut juga didorong dengan ekonomi AS yang terus terekspansi dan pertumbuhan yang solid dalam konsumsi rumah tangga.

  • MIKRO
    • Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo mengatakan, transformasi industri harus dilaksanakan melalui pembenahan dalam berbagai lini. Mulai dari sumber daya manusia (SDM) hingga pasokan energi dan infrastruktur lainnya. Seperti yang diketahui transformasi pada industri manufaktur merupakan salah satu kunci untuk meningkatkan daya saing global Indonesia dan menghadapi dunia. Karena itu, strategi transformasi industri yang terencana, komprehensif, dan terkoordinasi sangat dibutuhkan. Ke depan, lanjut Agus, para peserta rakor sepakat untuk terus memperkuat koordinasi dan sinergi kebijakan. Tujuannya dalam rangka mempercepat transformasi industri manufaktur. "Sehingga dapat mendorong industrialisasi Indonesia yang berdaya saing global," ujarnya.

    • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) siapkan strategi penguatan good governance dengan pendekatan etika. Otoritas menilai tantangan industri keuangan ke depannya akan semakin beragam dan hal tersebut membutuhkan integritas individual SDM pelaku industri. Aturan yang terlalu ketat juga dinilai akan mematikan perkembangan ekonomi berbasis digital yang sedang berkembang. Ketua Dewan Audit merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK Ilya Avianti mengatakan untuk membangun kualitas good governance tidak cukup hanya melalui tataran formal/legal, struktural, dan administratif. Semuanya secara bersama harus kembali pada esensi dan jiwa (roh) substansi good governance, yaitu dengan menggunakan pendekatan principle based dalam penerapannya. 

    • Ulasan :

      Industri manufaktur di Indonesia memang tumbuh pesat tepat seperti yang dikatakan oleh Gubernur BI. Sebagian produk telah berhasil menguasai pangsa pasar dunia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi akan berada di posisi tiga besar setelah Tiongkok dan India.

  • PERBANKAN
    • Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Ahmad Baiquni mengemukakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini relatif lebih baik dibanding negara lain. Bahkan, dia mengklaim pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) di Tanah Air merupakan terbesar ketiga dibanding negara-negara G20. Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2016 mencapai 5,02%. Dibanding negara-negara G20 lainnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya kalah dibanding China dan India. "‎Kondisi ini juga relatif lebih baik dibandingkan kondisi 2015 yang tumbuh sebesar 4,79%. Kinerja makro ekonomi seyogyanya patut diapresiasi, karena diantara negara-negara G20, Indonesia tercatat sebagai negara dengan pertumbuhan GDP terbesar ketiga. Hanya persis di bawah China dan India," katanya dalam acara CEO Forum 2016 di Jakarta Convention Center, Kamis (24/11/2016). Kendati demikian, kata dia, Indonesia jangan dulu membusungkan dada dengan prestasi pertumbuhan ekonomi tersebut. Karena, jika dibanding dua negara di ASEAN yaitu Vietnam dan Filipina, pertumbuhan ekonomi di Indonesia relatif masih tertinggal.

    • Bank Mandiri memperkirakan total penyaluran kredit untuk sektor infrastruktur bisa mencapai Rp100 triliun tahun ini. Nilai ini diyakini tercapai karena pencapaian kredit infrastruktur hingga kuartal III/2016 telah mencapai Rp96,9 triliun. Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rohan Hafas mengatakan, penyaluran kredit infrastruktur disalurkan untuk segmen korporasi dan KUR. Pertumbuhan kredit infrastruktur tahun ini diakui cukup signifikan mengingat Pemerintah Jokowi memiliki banyak daftar proyek yang menjadi prioritas dan direncanakan sejak dua tahun lalu.  “Pertumbuhan hingga kuartal 3 tahun ini sudah 53,7%. Angka ini tinggi wajar karena memang masih di awal, berikutnya pertumbuhan tidak akan setinggi ini lagi. Namun secara volume tahun depan diusahakan sama dengan tahun ini,” ujar Rohan saat dihubungi di Jakarta. Hingga kuartal tiga 2016 tercatat total kredit korporasi mencapai Rp212,4 triliun dan terdapat Rp96,9 triliun pembiayaan kredit mengalir untuk infrastruktur. Kredit tersebut terbagi atas Rp15,4 triliun untuk jalan tol, Rp32,1 triliun untuk tenaga listrik, Rp37,1 triliun untuk transportasi (bandar udara, pelabuhan dan kereta api), serta Rp 12,4 triliun untuk telekomunikasi. “Proyek tol merupakan sektor yang paling menantang karena pembebasan lahan yang bisa membuat molor target waktu. Tahun depan kami perkirakan masih bisa menggenjot sektor perkebunan seperti kelapa sawit karena harganya sudah mulai membaik. Selain itu juga kita kejar sektor padat karya yang positif untuk pembangunan,” ujarnya.

    • Ulasan :

      Indonesia harus dapat lebih menggenjot perekonomiannya dengan cara lebih memanfaatkan kelebihan yang dimiliki. Seperti contoh industri manufaktur mapun mikro seperti UMKM yang sudah diketahui dapat bersaing dengan dunia. 

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.