Pekan Keempat November 2015

30 november 2015

Kategori : IR Weekly Review


  • MAKRO
      • Yuan (RMB) Tiongkok akhirnya resmi menjadi salah satu mata uang  Special Drawing Rights (SDR) International Monetary Fund (IMF). Dewan Eksekutif IMF telah memutuskan hal tersebut pada Senin (30 November 2015) setelah melakukan review lima tahunan pada kumpulan mata uang yang masuk ke dalam kategori SDR. Dalam pertemuan tersebut dipastikan bahwa Yuan sudah memenuhi kriteria untuk masuk ke dalam golongan elit tersebut. Seperti dilansir Bloomberg, Christine Lagarde, Managing Director IMF mengatakan bahwa masuknya RMB ke dalam SDR merupakan langkah penting untuk mengintegrasikan perekonomian Tiongkok ke dalam sistem financial global.  Disamping itu, lanjut Lagarde, hal ini sebagai pengakuan terhadap kemajuan system monetary dan finansial Tiongkok yang semakin sejalan dengan sistem global. Lagarde percaya, langkah ini akan mempercepat pergerakan finansial dunia yang pada akhirnya akan mendukung stabilitas Tiongkok dan dunia. Dengan demikian RMB per 1 Oktober 2016 resmi menjadi bagian dari SDR sebagai mata uang kelima setelah US$ (AS), Euro (Uni Eropa), Yen (Jepang) dan Pound Sterling (Inggris). Adanya waktu sekitar satu tahun ini dianggap cukup agar negara-negara lain bisa menyesuaikan diri dengan perubahan ini.
      • Bank Sentral Eropa memperingatkan premi risiko global yang meningkat cepat, khususnya pada pasar negara berkembang, terutama jika Federal Reserve AS akan meningkatkan suku bunga lebih cepat dari yang diharapkan. ECB menaikkan tingkat penilaian risiko untuk ketidakstabilan pasar keuangan global menjadi ‘menengah’ dan demikian juga tingkat yang sama untuk bahaya dalam sistem perbankan karena suku bunga rendah. Lembaga berbasis di Frankfurt mengatakan kebijakan moneter longgar dimaksudkan untuk membantu memacu inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang mendorong valuasi aset yang lebih tinggi, sehingga mereka menghadapi risiko koreksi lebih besar. ECB sedang mempertimbangkan apakah perlu untuk memperluas stimulus moneter di kawasan euro bahkan lebih untuk melawan stagnasi harga konsumen. Pilihan termasuk meningkatkan 1,1 triliun euro ($ 1,2 triliun) program pembelian obligasi dan memotong suku bunga deposito lebih lanjut di bawah nol. Dewan pengawas akan membuat keputusan pada 3 Desember.
      • Ulasan :
        Dampak kenaikan Fed Fund Rate akan sangat terasa di pasar ekuitas dan berpengaruh terhadap pendapatan, karena kenaikan bunga acuan tersebut akan mendongkrak nilai portofolio saham di AS.  Hal ini kemudian membuat investor memilih untuk beralih dari pasar modal Indonesia ke AS sehingga membuat imbal hasil (yield) efek lokal menjadi lebih rendah. Akibatnya aliran dana asing akan banyak yang keluar dari Indonesia dan melemahkan mata uang rupiah.
  • MIKRO
      • Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menilai perekonomian global di tahun 2016 masih akan dihadapkan dengan ketidakpastian yang tinggi, bahkan ada potensi semakin kompleks. "Kami mencermati ada tiga risiko utama yang perlu kita antisipasi dan sikapi. Risiko pertama, terkait dengan prospek pertumbuhan ekonomi global. Walaupun diproyeksikan akan membaik menjadi 3,5%, tapi ada risiko proyeksi tersebut dapat menjadi lebih rendah," ujar Agus di Jakarta, Selasa (24/11/2015). Risiko kedua, lanjut Agus, terkait penurunan harga komoditas yang diperkirakan masih berlanjut pada tahun depan sejalan dengan berakhirnya super-cycle harga komoditas. Kemudian risiko ketiga ialah terkait dampak global yang dapat ditimbulkan oleh proses normalisasi kebijakan moneter AS, baik dari sisi timing maupun besaran perubahan suku bunga bank sentral AS (Fed Fund Rate). Selain ketiga risiko tersebut, tambah Agus, tentunya Indonesia perlu mencermati berbagai dinamika global lain, termasuk konstelasi kebijakan ekonomi global yang menjurus pada upaya untuk meningkatkan daya saing mata uang (currency war) yang muncul tanpa diduga. "Pengalaman kita di tahun 2015, risiko seperti saat Tiongkok melakukan kebijakan devaluasi Yuan pada Agustus 2015 yang muncul tiba-tiba tanpa diduga," tutupnya.
      • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendukung keinginan pemerintah terkait penurunan suku bunga kredit untuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah yang saat ini lebih tinggi dibandingkan suku bunga korporasi. Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad menyatakan hal tersebut, di Jakarta, Rabu (25/11), menanggapi pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang merasa geram dengan masih tingginya suku bunga kredit bagi pelaku UMKM. Di Bank Mandiri misalnya, per September 2015, suku bunga dasar kredit korporasi 10,5 persen, sedangkan untuk kredit mikro 19,25 persen. "Kita senang dan dukung bunga (UMKM) turun tapi aksesnya juga harus mudah. Makanya kita perlu perluasan aksesnya juga. Jadi ada dua PR (pekerjaan rumah) kita. Pertama, akses dan kedua, bunga turun," ujarnya. Muliaman menuturkan perluasan akses keuangan diperlukan untuk mendorong efisiensi bank dalam menyalurkan kredit sehingga bunga yang diberikan kepada nasabah bisa lebih murah. Regulator sendiri kini telah berupaya untuk memperluas akses keuangan melalui program Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai).
      • Ulasan :
        Rencana penurunan suku bunga kredit untuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) harus didukung oleh pihak perbankan. Namun dipihak lain pemerintah juga harus memberikan stimulus kepada bank dalam pelaksanaannya, karena bank juga memiliki keterbatasan jika terdapat komposisi dana mahal yang menjadi beban yang harus ditanggung.
  • PERBANKAN
      • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menyiapkan dana Rp1 triliun untuk mengakuisisi Artajasa selaku operator ATM Bersama. Uang itu diambil dari belanja modal (capex) perseroan untuk 2016.  Akuisisinya Januari 2016, ujar Direktur Utama BRI Asmawi Syam. Dia menegaskan, perseroan sudah siap secara materi untuk ikut bergabung dengan tiga bank BUMN lainnya, yaitu Bank Mandiri, BNI, dan BTN dalam proses akuisisi Artajasa. Asmawi memaparkan, tahun depan perseroan akan mengalokasikan setengah dari belanja modal yang sebesar Rp4,5 triliun-Rp5 triliun yang bersumber dari kas internal tersebut untuk memperkuat bidang teknologi. "Separuh untuk teknologi, bukan penambahan ATM saja, akuisisi masuk di situ, juga ada untuk satelit," jelas ketua Himpunan Bank Negara (Himbara) ini. Di sisi lain, Asmawi menjelaskan, tantangan perbankan tahun depan mengarah pada perkembangan teknologi yang memengaruhi pola kebiasaan nasabah dalam melakukan transaksi. "Jaringan konvensional seperti kantor cabang sudah jarang digunakan, makanya kita investasi bukan untuk membangun kantor tapi untuk membangun teknologi," pungkasnya. Sekadar informasi, target akuisisi Himbara mengarah pada salah satu dari tiga operator lokal yang ada saat ini, yakni Artajasa Pembayaran Elektronik, Rintis Sejahtera, dan Alto Network. Artajasa selama ini merupakan operator ATM Bersama. Sementara, Rintis Sejahtera mengelola ATM Prima dan Alto Network mengelola jaringan ALTO.
      • PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menargetkan pertumbuhan kredit tahun depan sebesar 14% sampai 16%. Target ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi Bank Indonesia (BI) yang berada di kisaran 12% sampai 14%. Sampai akhir tahun, bank ini menargetkan jumlah penyaluran kredit sebesar Rp 320 triliun dari posisi September 2015 sebesar Rp 307,1 triliun. Jika ditargetkan tumbuh 14%-16%, maka kredit tahun depan diprediksi mencapai Rp 364,8 triliun sampai Rp 371,2 triliun. Direktur Utama BNI Achmad Baequni mengatakan, portofolio penyaluran kredit tahun depan masih tidak berbeda jauh dibandingkan tahun ini. Untuk segmen bisnis banking diprediksi masih menyumbang 70% dan untuk bisnis konsumer sebesar 17%. “Tahun depan yang menjadi motor penggerak ekonomi adalah infrastruktur, maka tahun depan kami akan fokus disitu,” ujar Baequni, Rabu, (25/11). Ia mengatakan, ketika infrastruktur sudah mulai jalan, maka diharapkan kredit sektor lain seperti konsumer dan SME bisa tergenjot. Saat ini, menurut Baequni, BNI sudah menyalurkan kredit di sektor infrastruktur sebesar Rp 63 triliun atau 20,5% dari total kredit.
      • Ulasan :
        Investasi Teknologi Informasi (TI) pada perusahaan perbankan diyakini akan meningkatkan efisiensi dan penguasaan pasar terhadap nasabah. Semakin besar penguasaan pasar suatu bank, maka semakin besar network effect yang dimiliki bank tersebut dengan semua kelebihan yang dimiliki untuk memberikan kecepatan, kenyamanan dan keamanan transaksi kepada nasabah yang nantinya akan membangkitkan loyalitas nasabah terhadap bank.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.