Pekan Kedua November 2015

16 november 2015

Kategori : IR Weekly Review


  • MAKRO
      • Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan Kamis (12 November 2015), bahwa Bank Sentral AS atau Federal Reserve harus menunda menaikkan suku bunganya sampai ada tanda-tanda yang jelas dari peningkatan inflasi. Menurut AFP, dalam laporan tentang isu-isu ekonomi global yang disiapkan untuk pertemuan tingkat tinggi G20 pada 15-16 November di Antalya, Turki, IMF menyebutkan prospek suku bunga AS yang lebih tinggi sebagai tantangan utama pertumbuhan lambat ekonomi dunia. Di banyak negara maju, katanya, kebijakan moneter "harus tetap akomodatif, termasuk melalui langkah-langkah konvensional, untuk mengurangi risiko terhadap aktivitas dari inflasi yang rendah dan permintaan lemah berkepanjangan." IMF mendesak untuk menunggu sampai jelas bahwa tekanan turun pada inflasi telah berlalu. “Keputusan The Fed harus tetap bergantung data, dengan kenaikan pertama dalam suku bunga federal fund menunggu sampai penguatan di pasar tenaga kerja berlanjut disertai dengan tanda-tanda kuat dari inflasi terus meningkat menuju target inflasi jangka menengah Federal Reserve 2%," tulis laporan itu yang dikutip laman Antara, akhir pekan kemarin.
      • Kurs dolar AS berada di bawah tekanan penjualan lebih lanjut pada Jumat, karena investor berbalik berhati-hati karena penurunan saham global menjelang pengumuman data penjualan ritel Amerika Serikat. Prospek pengetatan bertahap kebijakan moneter Amerika Serikat jika dan ketika Federal Reserve Amerika Serikat mulai menaikkan suku bunganya telah membebani mata uang AS. "The Fed mungkin mempertimbangkan bahwa tidak perlu memaksa pasar untuk meningkatkan berapa banyak patokan harga mereka dalam kenaikan suku bunga Desember," kata Etsuko Yamashita, kepala ekonom di Sumitomo Mitsui Banking Corp di New York. "The Fed mungkin akan menghindari melawan perkembangan tak menentu di pasar keuangan, karena masih ada satu bulan sebelum pertemuan kebijakan. Itu berarti akan menjadi sulit bagi dolar untuk terus menguat selama beberapa minggu ke depan," katanya kepada Bloomberg News.
      • Ulasan :
        Dampak dari naiknya Fed Rate adalah bunga pinjaman maupun simpanan di bank dan lembaga keuangan lainnya juga bisa naik. Jika bunga simpanan di bank-bank di Amerika naik, maka bunga obligasi yang diterbitkan perusahaan-perusahaan di Amerika juga biasanya akan ikut naik. Hal itu akan menarik minat investor dari seluruh dunia untuk menempatkan dana mereka di pasar Amerika, yang berimbas larinya investasi dari dalam negeri ke luar negeri.
  • MIKRO
      • Bank Indonesia (BI) memperbarui tiga sistem transaksi, yakni Bank Indonesia Real-Time Gross Settlement (BI-RTGS), Bank Indonesia Scripless Securities Settlement System (BI-SSSS), dan Bank Indonesia Electronic Trading Platform (BI-ETP) Generasi II yang akan diimplementasikan 16 November 2015. "Kegiatan transaksi sistem pembayaran di masyarakat kini semakin aman, cepat serta andal melalui pembaruan teknologi dan peningkatan perlindungan terhadap nasabah," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara, di Jakarta, Rabu (11 November 2015). Sistem BI-RTGS merupakan sistem transfer dana elektronik antarpeserta, terutama bank. Sistem ini mengakomodasi transfer dana nasabah dalam nominal besar yang penyelesaiannya dilakukan secara seketika per transaksi. BI-SSSS digunakan sebagai sarana transaksi dengan Bank Indonesia dan penatausahaan Surat Berharga secara elektronik. Sementara itu, BI-ETP adalah sarana transaksi Bank Indonesia terkait operasi moneter, transaksi Pemerintah dalam pengelolaan Surat Berharga Negara (SBN), transaksi pasar uang antar bank baik oleh perbankan konvensional (Pasar Uang Antar Bank/PUAB) maupun syariah (Pasar Uang Antar Syariah/PUAS). Selain peningkatan kualitas teknologi dan jaringan komunikasi, Bank Indonesia juga meningkatkan perlindungan nasabah dengan menerapkan kewajiban maksimal proses dana transfer nasabah. "Bank diwajibkan untuk memproses dana transfer nasabah paling lama satu jam setelah bank penerima memperoleh dana di Sistem BI-RTGS," ujar Tirta.
      • Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat rata-rata nilai transaksi saham harian naik 1,10 persen menjadi Rp4,81 triliun di sepanjang pekan ini (9-13 November 2015) setelah pada pekan sebelumnya hanya Rp4,75 triliun. Kepala Divisi Komunikasi Perusahaan BEI Irnawati Amran dalam siaran pers di Jakarta Minggu mengemukakan bahwa laju indeks harga saham gabungan (IHSG) pada akhir pekan (Jumat, 13/11) juga mencatatkan penguatan sebesar 0,24 persen ke level 4.472,838 poin dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Namun, dipaparkan bahwa jika dilihat secara mingguan pergerakan IHSG memang tercatat menurun sebesar 2,05 persen dibandingkan penutupan di pekan sebelumnya (2-6 November 2015) yang berada di level 4.566,552 poin. "Investor asing mencatatkan jual bersih di pasar saham di sepanjang periode 9-13 November 2015 senilai Rp1,50 triliun, dan secara tahunan, aliran dana investor asing di pasar saham juga masih tercatat net sell sebesar Rp19,51 triliun," katanya.
      • Ulasan :
        Dampak melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia dimana daya beli cenderung melemah, anggaran belanja pemerintah dan ekspor impor tersendat, menyebabkan ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia turun. Di sisi lain, rilis keuangan yang dikeluarkan emiten banyak yang tidak sesuai harapan pasar. Hal ini menyebabkan terjadinya koreksi menurun di pasar modal yang mempengaruhi IHSG.
  • PERBANKAN
      • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan laju pertumbuhan kredit perbankan pada Oktober 2015 secara tahunan (yoy) mencapai 11,1 persen, meningkat dibandingkan bulan sebelumya 10,9 persen (yoy). "Yoy- nya itu 11,1 persen. Kalau sampai Agustus kemarin itu kan masih 10,6 persen, memang mulai September itu pertumbuhan kredit mulai signifikan," kata Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan OJK Nelson Tampubolon di Jakarta, Kamis (12/11).  Nelson mengharapkan laju pertumbuhan kredit hingga akhir 2015 dapat mencapai 13 persen (yoy) setelah pada paruh pertama tahun mengalami perlambatan. Ia mengatakan, seiring dengan makin meningkatnya belanja pemerintah di triwulan IV, penyaluran kredit diperkirakan akan terus meningkat sehingga akan mengerek laju pertumbuhan di level yang lebih tinggi. "Kalau stabil saja pertumbuhan kredit seperti di September (10,9 persen) YoY, di sisa tahun ini pertumbuhan berkisar di 1,9- 2 persen (tumbuh per bulan), mudah-mudahan bisa kita capai. Kalau itu bisa, kredit kita bisa tumbuh 12-13 persen," ujar Nelson.
      • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) akan melakukan revaluasi aset. Seiring dengan salah satu kebijakan yang dikeluarkan pemerintah melalui Paket Kebijakan jilid V yakni pemangkasan presentase pajak penghasilan (PPh) final revaluasi aset bagi BUMN. Menurut Direktur Utama BRI, Asmawi Syam, dengan melakukan revaluasi aset, maka akan meningkatkan rasio kecukupan modal (CAR) perseroan. Dia memperkirakan, dengan revaluasi aset, posisi CAR perseroan bisa bertambah 1%-2% pada akhir tahun. “Kami akan manfaatkan ini. Mungkin bisa tambah CAR 1%-2%. Saat ini aset yang akan direvaluasi senilai Rp6 triliun, akan tambah Rp2 triliun jadi Rp8 triliun,” ujar Asmawi di Jakarta, Selasa, 10 November 2015. Namun demikian, Asmawi mengaku pihaknya masih membahas secara internal terkait revaluasi aset tersebut. Kendati begitu, dia meyakini dengan CAR yang meningkat maka akan meningkatkan kemampuan perseroan untuk menyalurkan kredit. “Leverage kami bisa meningkat, dengan begitu kan laba juga meningkat. Nah kalau laba meningkat kami akan tambah bayar dividen dan pajak ke negara. Jadi ini siklus yang baik,” tutupnya.
      • Ulasan :
        Keuntungan adanya revaluasi aset adalah modal bank meningkat, yang berarti rasio kecukupan modal (CAR) juga meningkat, yang berarti bank akan memiliki banyak kemampuan untuk menyalurkan kredit dan nantinya akan meningkatkan perolehan laba.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.