Pekan Kedua Desember 2015

21 desember 2015

Kategori : IR Weekly Review


  • MAKRO
      • Rencana Bank Sentral AS, The Federal Reserve mengerek bunga acuan  dalam rapat 15-16 Desember langsung berimbas ke dollar Amerika Serikat (AS).  Bahkan, dollar AS diyakini kian perkasa hingga tahun depan. Sinyal penguatan dollar ini tertangkap pasca sejumlah bank besar dunia seperti Deutsche Bank, Barclays, Morgan Stanley, BPNP Paribas, Credit Suisse, UBS Group AG, BNP Paribas dan Goldman Sachs melakukan transaksi memburu dollar hingga US$ 5,3 triliun per hari di pasar mata uang. Merujuk Bloomberg Dollar Spot Index, sepanjang tahun ini, dollar AS nyatanya telah menguat 8%. Tahun lalu, dollar AS menguat 11%. Sejak Oktober 2015, laju dollar AS bangkit, setelah The Fed mengisyaratkan kenaikan bunga di pertemuan pekan ini. Maraknya perburuan dollar AS  berpotensi semakin mengikis kurs rupiah. Beban itu datang dari tingginya risiko eksternal seperti langkah moneter Bank Sentral Eropa, ekonomi China dan peluang kenaikan bunga The Fed tahap selanjutnya.
      • People Bank of China (PBoC), rabu (9/12/2015) kembali memangkas nilai yuan ke level US$ 6,42 per dolar setelah sebelumnya mematok kurs tengah yuan di angka US$ 6,4 per dolar. Nilai tersebut telah turun 0,5 persen sejak IMF memasukkan yuan sebagai special drawing rights yang baru bersama mata uang lainnya yang telah menjadi mata uang internasional lebih dulu. Adanya devaluasi Yuan membuat harga barang-barang buatan China lebih murah sehingga akan meningkatkan ekspor negaranya. CNNMoney memberitakan, PBoC pada 7 Desember 2015 lalu melaporkan tinggal memiliki cadangan devisa sebesar US$ 3,4 triliun. Level terendah sejak awal November 2013. Devaluasi Yuan membuat sebagian pelaku pasar menduga pelemahan ekonomi China lebih dalam dari yang diperkirakan. Bahkan, mungkin lebih rendah dari angka pertumbuhan ekonomi yang diumumkan secara resmi. Pada kuartal III 2015, perekonomian China tercatat tumbuh 6,9 persen (year on year). Turun 0,1 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
      • Ulasan :
        Dampak dari naiknya Fed Rate adalah bunga pinjaman maupun simpanan di bank dan lembaga keuangan lainnya juga bisa naik. Jika bunga simpanan di bank-bank di Amerika naik, maka bunga obligasi yang diterbitkan perusahaan-perusahaan di Amerika juga biasanya akan ikut naik. Hal itu akan menarik minat investor dari seluruh dunia untuk menempatkan dana mereka di pasar Amerika, yang berimbas larinya investasi dari dalam negeri ke luar negeri.
  • MIKRO
      • Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat perolehan dana dari aksi korporasi perusahaan di pasar modal di sepanjang 2015 ini mencapai Rp115,35 triliun atau meningkat 19,36 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar Rp96,64 triliun. "Total dana yang didapatkan dari aksi korporasi di pasar modal terdiri dari pencatatan saham perdana (IPO), penerbitan saham baru (rights issue), penerbitan waran, maupun dari penerbitan obligasi dan sukuk korporasi," papar Kepala Divisi Komunikasi Perusahaan BEI Dwi R. Shara Shinta Soekarno dalam siaran pers di Jakarta, Minggu (13/12/2015). Ia merinci perolehan dana perusahaan dari aksi korporasi melalui IPO sebanyak Rp9,10 triliun, penerbitan saham baru sebesar Rp45,85 triliun, penerbitan obligasi dan sukuk korporasi mencapai Rp59,62 triliun, sementar penerbitan waran senilai Rp780 miliar.
      • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan memperluas peranan perusahaan pembiayaan, penjaminan, pegadaian, modal ventura dan lembaga pembiayaan ekspor Indonesia dalam pembiayaan sektor-sektor prioritas dengan membentuk kelompok kerja (pokja). Enam kelompok kerja itu nantinya juga akan melibatkan pemerintah daerah serta kementerian-kementerian terkait. Kelompok kerja itu menurut Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad dibentuk karena selama ini banyak program di sektor prioritas yang terbentur oleh kurangnya pembiayaan dari APBN. “OJK me-launching pokja dengan melibatkan kementrian-kementrian. Selama ini banyak program yang bagus di kementrian tapi stuck di pembiayaan,” kata Muliaman di Jakarta, Jumat 4 Desember 2015. Enam pokja itu antara lain pertanian, peternakan, hortikultura, pariwisata, jalan tol dan kelistrikan. Menurut Muliaman, pokja-pokja tersebut akan segera dilaunching dalam waktu dekat.
      • Ulasan :
        Dampak melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia dimana daya beli cenderung melemah, anggaran belanja pemerintah dan ekspor impor tersendat, menyebabkan ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia turun. Di sisi lain, rilis keuangan yang dikeluarkan emiten banyak yang tidak sesuai harapan pasar. Hal ini menyebabkan terjadinya koreksi menurun di pasar modal yang mempengaruhi IHSG.
  • PERBANKAN
      • Penyatuan Automatic Teller Machine (ATM) empat bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk, dan PT Bank Tabungan Negara Tbk mulai menemui titik terang. ATM bersama yang diberi nama link itu akan meluncur pekan ini (16/12/2015) di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Penyatuan empat ATM bank pelat merah ini akan membuat nasabah menjadi efisien dalam melakukan transaksi, dimana nasabah dapat melakukan transaksi melalui ATM mana saja dengan tarif yang sama.
      • Bank Mandiri Tbk merevaluasi aset untuk memperkuat modal sehingga dapat meningkatkan kontribusi dalam mengakselerasi laju pertumbuhan ekonomi, "Langkah Bank Mandiri merevaluasi aset ini tidak mempengaruhi 'cash flow' perseroan. Bahkan, langkah ini dapat memperkuat modal perseroan sehingga ke depannya dapat meningkatkan kontribusi dalam mengakselerasi laju pertumbuhan ekonomi," kata Direktur Finance and Strategy Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (11/12/2015). Ia mengemukakan bahwa dari hasil estimasi revaluasi aset tetap yang dilakukan Bank Mandiri pada Desember 2015 ini, maka aset tetap Bank Mandiri pada 2016 diperkirakan akan naik sekitar Rp23 triliun. "Dengan revaluasi, kami memperkirakan rasio kecukupan modal atau 'capital adequacy ratio' (CAR) Bank Mandiri akan mencapai kisaran 20 persen pada 2016 sehingga akan dapat memenuhi kebutuhan permodalan sesuai Basel III," paparnya. Revaluasi ini, lanjut Kartika Wirjoatmodjo, Bank Mandiri akan menyetorkan pembayaran perkiraan awal pajak atas revaluasi sebesar Rp693 miliar yang mendukung upaya pemerintah dalam memenuhi kebutuhan anggaran untuk pembangunan. "Kami berharap, melalui revaluasi ini Bank Mandiri dapat lebih meningkatkan peran dalam mendorong perekonomian Indonesia ke arah yang jauh lebih baik, dan mampu menjadi sahabat negeri dalam membangun," ujarnya.
      • Ulasan :
        Keuntungan adanya revaluasi aset adalah modal bank meningkat, yang berarti rasio kecukupan modal (CAR) juga meningkat, yang berarti bank akan memiliki banyak kemampuan untuk menyalurkan kredit dan nantinya akan meningkatkan perolehan laba.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.