Pekan Ketiga Oktober 2017

14 desember 2017

Kategori :


  • MAKRO
    • Indeks Dow dan S&P 500 dengan bersusah payah berakhir di rekor penutupan tertinggi pada Kamis (Jumat pagi WIB), berbalik lebih tinggi dalam menit-menit terakhir, setelah sebuah laporan mengatakan bahwa Gubernur Federal Reserve Jerome Powell adalah kandidat utama untuk calon ketua Fed. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 5,44 poin atau 0,02%, menjadi berakhir di 23.163,04 poin, indeks S&P 500 menguat 0,84 poin atau 0,03% menjadi ditutup di 2.562,1 poin, dan Komposit Nasdaq turun 19,15 poin atau 0,29% menjadi 6.605,07 poin. Para investor sangat ingin mendengar siapa yang akan dipilih Presiden Donald Trump sebagai kandidat ketua Fed. Keputusan seperti Powell kemungkinan akan menjadi keberlanjutan dari kebijakan moneter yang ramah pasar saham saat ini, yang telah membantu memicu pasar terus menguat ke rekor tertinggi, lapor Reuters.
    • Pertemuan Tahunan International Monetary Funds-World Bank (IMF-WB Annual Meetings) 2017 yang dihadiri para Gubernur Bank Sentral dan Menteri Keuangan dunia pada 13-15 Oktober 2017 telah berakhir. Optimisme tampak dari prospek pertumbuhan ekonomi global, yaitu sebesar 3,6% di 2017 dan 3,7% di 2018. Perbaikan pertumbuhan ekonomi tersebut terjadi secara merata di negara maju maupun negara berkembang. Bank Indonesia menyambut baik optimisme prospek ekonomi global tersebut mengingat dampak positifnya bagi ekonomi Indonesia. Pada pertemuan tersebut, para Gubernur Bank Sentral dan Menteri Keuangan dunia bersepakat untuk tetap menjaga tren perbaikan perekonomian global dengan memanfaatkan momentum ini sebagai peluang untuk memaksimalkan reformasi struktural yang sedang dijalankan.
    • Ulasan:
      Pasar secara tidak langsung juga merespon mengenai isu pemilihan calon gubernur The FED baru, dengan ditandai meningkatnya beberapa harga saham seperti Dow. Namun, beberapa saham lainnya mengalami penurunan dikarenakan kondisi fundamental masing-masing perusahaan terutama kaitannya dengan laba mereka.
  • MIKRO
    • Gugatan terhadap Peraturan Bank Indonesia (PBI) terkait uang elektronik atau e-money ke Mahkamah Agung (MA) dikhawatirkan berpotensi mengganggu persepsi masyarakat dan menghambat program gerakan nasional non tunai. Meski begitu Bank Indonesia (BI) memastikan secara teknis kasus tersebut tidak mengganggu program penerapan pembayaran non tunai di ruas jalan tol. "Kalau secara teknis di lapangan enggak ya. Tapi saya takutnya ini ganggu persepsi masyarakat saja sebenarnya. Jadi mereka terpengaruh," ujar Deputi Direktur Grup Pengembangan Sistem Pembayaran Ritel dan Keuangan Inklusif Bank Indonesia (BI) Apep M. Komarna di kantor Pusat Jasa Marga, Minggu (15/10/2017). Ia menambahkan, saat ini penetrasi atas program elektronifikasi jalan tol cukup bagus dan menurutnya sudah seharusnya para pengendara paham bahwa saat ini pemerintah sedang mencanangkan program ini. "Jadi penetrasi di lapangan bagus. Kita harapkan pengguna jalan juga paham bahwa ini memang suatu keharusan," terang dia.
    • Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sarjito yang juga hadir dalam acara Sun Life Edufair 2017 menjelaskan, pentingnya perencanaan keuangan untuk pendidikan anak. Hal ini mengingat tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia belum menunjukkan angka positif. Data OJK menunjukkan, tingkat pemahaman masyarakat pas sistem keuangan baru 29,7%, namun mereka masuk dalam industri keuangan. "Meskipun begitu, eksekusinya itu 68%, lebih tinggi dibandingkan pemahamannya. Akibatnya apa? Akhirnya mereka ketipu, biasanya disebut investasi bodong," kata Sarjito dalam acara Sun Life Edufair yang bekerja sama dengan KORAN SINDO dan SINDOnews di Mall Kota Kasablanka, Jakarta, Jumat (20/10/2017). Dia menggarisbawahi bahwa untuk kaum perempuan, literasi keuangannya baru mencapai 25% sedangkan inklusinya 66%. Kemudian, ternyata hanya 12,6% dari masyarakat Indonesia yang berpikir untuk financial planning.
    • Ulasan:
      Inovasi yang dilakukan Bank Indonesia terhadap sistem keuangan khususnya sistem pembayaran tidak diikuti dengan dukungan masyarakat keseluruhan. Terbukti dengan adanya protes yang menilai penolakan terhadap transaksi tunai adalahs ebuah pembangkangan terhadap undang-undang.
  • PERBANKAN
    • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) pada tahun ini kembali melakukan aksi korporasi yang sama setelah sebelumnya melakukan pemecahan nominal saham (stock split) pada 2011. Latar belakang perseroan melakukan pemecahan nominal saham adalah harga saham BBRI telah mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir dengan CAGR sebesar 14,02%. Namun, volume perdagangan saham menunjukkan tren penurunan seiring dengan semakin tingginya harga saham. Melalui stock split, perseroan bermaksud meningkatkan basis investor ritel domestik. Keberadaan investor ritel domestik diharapkan mampu memberi keseimbangan sekaligus mendukung program menabung saham serta memberikan kesempatan pada investor ritel domestik untuk mampu memiliki saham blue chip."Bank BRI berkomitmen untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di masyarakat, salah satunya melalui pasar modal," ujar Corporate Secretary Bank BRI Hari Siaga Amijarso di Jakarta, Rabu (18/10/2017).
    • PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) terus menunjukkan performanya. Ini tecermin dari kualitas rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) yang mulai susut ke bawah. Bank berkode saham BBTN di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini mencatat rasio NPL gross menjadi 3,07% per kuartal III-2017. Angka ini lebih baik dari rasio NPL gross sebesar 3,23% di kuartal II-2017 dan sebesar 3,60% di kuartal III-2016. Direktur BTN Nixon Napitupulu mengatakan, mayoritas kredit bermasalah masih berasal dari kredit pemilikan rumah (KPR) non-subsidi. Untuk itu, BTN berupaya menekan laju kredit bermasalah itu melalui penjualan aset. Cara BTN menyelesaikan kredit bermasalah tersebut, antara lain dengan menjual, serta melakukan restrukturisasi kredit. Tanpa merinci detail, Nixon menambahkan NPL dari sisi KPR subsidi sudahmengalami penurunan signifikan. Hanya saja, untuk KPR non-subsidi masih ada kenaikan hingga di kuartal III tahun 2017 ini.
    • Ulasan:
      BRI melakukan pemecahan nominal tersebut dengan harapan bahwa rasio yang telah disetujui yaitu 1:5 dapat menarik investor ritel domestic secara lebih masif. Karena dengan harga saham yang semakin terjangkau, maka likuiditas perdagangan akan semakin meningkat.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.