Pekan Ketiga Oktober 2016

21 oktober 2016

Kategori : IR Weekly Review


  • MAKRO
    • Wakil Ketua Federal Reserve Stanley Fischer mengatakan kebijakan pemerintah dapat menangkal sebagian dampak dari menurunnya produktivitas yang menahan ekonomi Amerika Serikat dan membebani suku bunga. Fischer mengatakan, berdasarkan studi The Fed, peningkatan pengeluaran pemerintah sebesar 1 persen dari produk domestik bruto akan menyebabkan kenaikan tingkat ekuilibrium suku bunga, tingkat yang tidak merangsang atau menahan ekonomi, sebesar 0,5 persen. Pemotongan pajak setara akan mengangkat tingkat ekuilibrium sebesar 0,4 persen. Bank-bank sentral di negara maju bergulat dengan pertumbuhan yang lamban, inflasi yang rendah, serta kesulitan menanggapi tantangan-tantangan ketika suku bunga sudah mendekati atau bahkan menyentuh nol persen. Fischer menunjuk sejumlah faktor yang menekan pertumbuhan dan tingkat suku bunga di Amerika Serikat. Dia menekankan bahwa tren pertumbuhan yang lambat disebabkan rendahnya produktivitas, sedangkan pertumbuhan angkatan kerja yang lebih lambat berkaitan dengan perubahan demografi.

    • Bank Dunia pada Kamis menaikkan proyeksi untuk harga minyak pada 2017, karena anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mempersiapkan diri untuk membatasi produksi mereka. Dalam laporan "Prospek Pasar Komoditas" kuartalan terbaru, pemberi pinjaman yang berbasis di Washington itu memperkirakan harga minyak mentah pada 2017 akan mencapai 55 dolar AS per barel, meningkatkan proyeksinya dari 53 dolar AS per barel pada Juli. "Kami memperkirakan kenaikan yang kuat dalam harga energi, dipimpin oleh minyak, tahun depan," kata John Baffes, penulis utama laporan tersebut. Dia menambahkan bahwa perkiraan itu di bawah "ketidakpastian signifikan", karena pasar mengharapkan rincian dan pelaksanaan perjanjian OPEC. Laporan itu mengatakan kemampuan OPEC untuk mempengaruhi harga minyak kemungkinan akan diuji oleh ekspansi pasokan minyak dari sumber-sumber non konvensional, termasuk industri minyak serpih AS.

    • Ulasan :

      Kebijakan pemerintah Amerika Serikat diyakini dapat menangkal lemahnya produktifitas yang membebani suku bunga dan melemahkan ekonomi dalam negeri. Yaitu dengan kombinasi dari dorongan bagi investasi swasta, peningkatan infrastruktur public, pendidikan yang lebih baik, dan regulasi yang lebih efektif.

  • MIKRO
    • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong pelaku industri khususnya di daerah untuk memanfaatkan Pasar Modal sebagai sumber pendanaan dalam pengembangan usahanya. Hal ini disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida saat membuka sosialisasi 'Pasar Modal Sebagai Sumber Pendanaan Bagi Pengembangan Industri Di Daerah' di Medan, Sumatera Utara. Dia menerangkan kegiatan sosialiasi ini dimaksudkan untuk lebih menyebarkan informasi terkait Pasar Modal kepada pelaku usaha di daerah sehingga pemanfaatan Pasar Modal di daerah sebagai sumber pendanaan dapat ditingkatkan. Menurutnya dengan semakin banyak perusahaan di daerah yang melakukan initial public offering (IPO) tentunya akan meningkatkan perekonomian daerah dan mendorong munculnya sentra-sentra ekonomi yang lebih menyebar, tidak hanya terkonsentrasi di daerah tertentu.

    • Pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2016 menurut Bank Indonesia (BI) tidak akan sekuat perkiraan. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara‎ menerangkan, hal tersebut dipengaruhi perbaikan investasi swasta diperkirakan masih belum menguat. "Sementara itu, untuk faktor dalam negeri lainnya, stimulus fiskal diperkirakan masih terbatas, sejalan dengan penyesuaian belanja pemerintah pada semester II 2016. Ini yang menyebabkan triwulan III pertumbuhannya tidak sekuat perkiraan," terang Tirta di Jakarta, Kamis (20/10/2016). Dari sisi eksternal, menurut dia masih lemahnya ekonomi dan perdagangan dunia mengakibatkan perbaikan ekspor riil masih tertahan, walaupun harga beberapa komoditas ekspor mulai membaik. Selain itu dia menambahkan, pemulihan ekonomi global masih berlangsung lambat dan tidak merata. 

    • Ulasan :

      Pendanaan melalui pasar modal memiliki nilai tambah tersendiri bagi dunia usaha pada khususnya maupun masyarakat secara umum. Dijelaskan keunggulan pasar modal mempertemukan langsung kelebihan dana pada masyarakat dengan kebutuhan dana oleh perusahaan sehingga diharapkan biaya modal pendanaan dari pasar modal akan lebih rendah.

  • PERBANKAN
    • PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk (Bank BRI) terus mendukung pemerintah dalam upaya percepatan inklusi keuangan di seluruh Indonesia. Bertempat di SMK Negeri 2 Yogyakarta dan SMP Negeri 6 Yogyakarta, kali ini Bank BRI bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia meresmikan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Plus. Acara tersebut dihadiri oleh Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hamid Muhammad dan Direktur Kelembagaan Bank BRI Kuswiyoto. Peresmian di kota pelajar ini merupakan tindak lanjut dari instruksi Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menyalurkan dana bantuan sosial secara non tunai. “Untuk mewujudkan percepatan inklusi keuangan sesuai arahan Presiden, Bank BRI bersama Kemendikbud RI secara khusus mendesain skema penyaluran Program Indonesia Pintar (PIP) menggunakan kartu bagi siswa SD, SMP dan SMK seluruh Indonesia penerima dana PIP melalui KIP Plus,” ujar Corporate Secretary Bank BRI Hari Siaga Amijarso melalui keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (19/10/2016). Dia menjelaskan, KIP Plus dalam satu kartu memiliki 3 fasilitas yang berbeda, yakni sebagai kartu debit private label, wallet PIP, dan Kartu ATM BRI. Sebagai kartu debit private label, KIP Plus bisa digunakan siswa untuk berbelanja kelengkapan sekolah di merchant dan Koperasi-Koperasi Sekolah yang menggunakan di EDC BRI.

    • PT Bank Mandiri Tbk (Bank Mandiri) terus berinovasi dalam menghasilkan produk non keuangan yang akan digunakan sebagai instrumen penampung dana repatriasi dalam program amnesti pajak. Beberapa produk yang bakal diperkenalkan antara lain terkait dengan investasi repatriasi pada emas, properti dan investasi langsung pada perusahaan. "Produk tersebut akan melengkapi instrumen keuangan yang sebelumnya telah disosialisasikan Bank Mandiri, seperti produk treasury, asset management, pasar modal, capital/venture funds hingga produk asuransi," ujar Corporate Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas di Jakarta, Minggu (23/10/2016). Dia mengatakan, pada tahap kedua program amnesti pajak, Bank Mandiri lebih memfokuskan diri pada upaya untuk mensosialisasikan produk keuangan dan non-keuangan Bank Mandiri Group kepada wajib pajak sebagai instrumen penampung dana repatriasi. “Pengembangan Inovasi produk keuangan dan non-keuangan untuk tujuan amnesti pajak ini akan kami sesuaikan atau customized dengan kebutuhan peserta amnesti pajak sehingga mereka akan semakin nyaman dan terdoronv untuk menempatkan dana repatriasi di Bank Mandiri,” kata Rohan. Menurut dia, berkat sosialisasi yang baik, saat ini kesadaran wajib pajak tentang kebijakan amnesti pajak cukup tinggi. Hal ini terlihat dari kenaikan nilai penghimpunan dana amnesti pajak Bank Mandiri yang mencapai Rp20,5 triliun per 20 Oktober 2016 dibandingkan dengan Rp731 miliar pada akhir Agustus 2016.
    • Ulasan :

      Dengan adanya sinergi antara Bank BRI dan Kemendikbud dalam peluncuran uji coba KIP Plus ini. Diharapkan penyaluran Bansos, khususnya PIP melalui KIP Plus akan lebih tepat sasaran dan penggunaannya akan lebih efisien serta lebih akuntabel yang pada akhirnya meningkatkan inklusi keuangan Indonesia.

Disclaimer : Dokumen ini hanya bertujuan sebagai informasi dan diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, namun bukan merupakan jaminan keakuratan atau kelengkapan dan tidak boleh diandalkan sepenuhnya. Kondisi diatas dapat berubah setiap saat. Dilarang untuk menulis ulang apapun tanpa ijin tertulis dari Bank Jatim.